Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 95


Salsa, gadis itu duduk termenung di dalam taksi, biasanya ia berangkat bareng Azka, tapi kini tidak lagi. Ponsel laki-laki itu tidak aktif sejak kejadian di Bandung. Menundukkan kepala itulah yang di lakukan Salsa setelah menginjakkan kaki di sekolah SMA Angkasa.


Langkah Salsa terhenti di parkiran khusus anggota inti dan tak mendapati motor Azka terparkir disana. Ia menghela napas panjang, sepertinya Azka benar-benar marah kali ini. Salsa tak sengaja berpapasan dengan Keenan di koridor, tetapi ia tak menyapa laki-laki, terus menunduk berjalan sampai di kelas.


"Lo kenapa? Tumben nggak sama Azka?" tanya Alana setelah ia duduk di bangkunya.


"Gue berangkat sendiri," jawab Salsa sembari sembari menunduk.


Salsa mendongak saat Alana menangkup kedua pipinya. "Lo habis nangis? Berantem sama Azka?" selidik Alana dan di jawab gelengan olehnya.


Jam istirahat tiba tapi Azka tak kunjung menampakkan batang hidungnya, membuat Salsa semakin khawatir.


"Sal, ke kantin yuk!" ajak Alana.


"Gue nggak lapar Al, duluan aja," jawab Salsa menumpu kepalanya di atas meja dengan lengan sebagai tumpuan, mungkin tidur adalah pilihan terbaik agar bisa melupakan Azka sejenak.


***


Tak terasa hari begitu cepat berlalu, sudah tiga hari lamanya Azka tak masuk sekolah, dan tidak ada kabar tentang ketua Avegas itu. Dengan langkah lumayan cepat, Salsa menyusuri koridor menuju kelas XII Ipa 1 untuk menanyakan keadaan sang pacar pada teman-temannya.


"Salsa," sapa Giani.


"Gia, lo liat Azka nggak?" tanya Salsa.


"Azka?" beo Giani. "Udah tiga hari dia nggak pernah ke kelas ini, kenapa?"


"Kalau yang lain dimana?"


"Di warung depan kayaknya, mau gue temenin nggak?"


Salsa melangkah ragu memasuki warung itu saat semua mata tertuju padanya, menundukkan kepala menghampri anggota inti duduk paling pojok.


"Ibu ketua gue itu!" teriak Rayhan membuat yang lain langsung menunduk.


"Kenapa?" tanya Keenan.


"Azka kemana? Udah tiga hari nggak masuk sekolah," lirih Salsa.


"Kayaknya Pak ketua ada di apartemennya, cuma kita nggak bisa masuk karena nggak di bukain pintu. Kalian berantem karena apa sih? Gue kok kepo ya. Baru kali ini Azka ngurung diri."


"Itu gue ...." Salsa menunduk.


"Coba lo ke apartemennya pulang sekolah, siapa tau dia mau bukain pintu!" potong Dito.


Pulang sekolah, Salsa benar-benar mengunjungi apartemen Azka, berdiri di depan pintu sembari memencet bel berkali-kali. Namun, tak ada yang membuka pintu.


"Azka maafin gue, buka pintunya!" pinta Salsa sedikit berteriak. "Gue masuk!" teriak Salsa setelah hampir setengah jam menunggu.


Salsa tahu sandi apartemen Azka, tapi tak berani membuka pintu sebelum mendapat izin, tapi karena khawatir ia nekat membukanya. Matanya membulat melihat kondisi apartemen Azka jauh dari kata baik-baik saja. Semua barang tidak pada tempatnya, pecahan kaca berserakan di mana-mana.


"Azka!" teriak Salsa terus berjalan menghindari pecahan kaca menuju kamar laki-laki itu. Di bukanya daun pintu warna hitam mengkilap dan mendapati Azka tidur telentang di atas ranjang setengah telanja*ng.


Botol minuman haram ada di mana-mana juga puntung rokok di sekitar tempat tidur. Tak terasa air mata Salsa kembali luruh, merasa bersalah akan kondisi Azka sekarang. Ini semua salahnya.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘