
"Azka kok pulang?" protes Salsa saat menyadari laju motor Azka menuju rumahnya.
"Iyalah, emangnya lo mau kemana lagi? Lo baru keluar dari rumah sakit, nggak usah banyak tingkah!" omel Azka.
"Katanya mau di temenin kerumah sakit," lirih Salsa.
"Gue bisa sendiri. Gue ngajak lo karena ngira masih di rumah sakit."
Herning tak ada jawaban dari gadis itu, hanya pelukan yang semakin erat di pinggang Azka. Entah, sejak kerjadian penculikan itu Salsa semakin memperlihatkan rasa cintanya pada Azka. Terang-terangan tak ingin lepas dari laki-laki itu, tak ada lagi jaim-jaiman.
Setelah menempuh perjalanan selama 14 menit akhirnya Azka sampai di depan pagar rumah Salsa.
"Turun!"
Salsa mengeleng, semakin mengeratkan pelukannya. "Gue udah bilang mau nemenin lo kerumah sakit, lo nya aja keras kepala. Gue nggak mau turun," jawab Salsa.
Azka menghela nafas kasar, turun dari motornya kemudian menatap Salsa yang masih anteng duduk di atas motor dengan wajah cemberut setelah Azka berhasil melepas helm gadis itu.
"Sal ayolah gue ada urusan!" bujuk Azka.
"Azka gue cuma mau memenin lo kerumah sakit, itu aja. Setelahnya mau lo pergi kemanapun gue nggak peduli."
Azka mengusap wajahnya kasar, ia memperhatikan pekarangan rumah Salsa dan mendapati mobil putih terparkir di garasi. "Kunci mobil lo mana?"
"Ada di rumah, kenapa?"
"Yaudah kita berangkat naik mobil biar pinggang lo nggak sakit dan bisa bersandar dengan nyaman." Putus Azka mengendong Salsa turun dari motor, kemudian menarik gadis kepala batu itu menuju mobil.
Senyuman Salsa mengembang menatap wajah datar Azka, bisa di pastikan laki-laki itu sedang kesal, tetapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin memastikan Azka benar-benar kerumah sakit dan tidak membohongi maminya seperti yang lalu-lalu. Bukannya kerumah sakit malah balapan liar dengan yang lain.
Egois? Biarkan Salsa di cap egois untuk yang satu ini. Dengan Azka sakit jiwa seperti itu, besar kemungkinan Azka menyakiti dirinya sendiri saat kesusahan mengontrol emosi dan Salsa tidak ingin itu terjadi. Ia menyayangi Azka.
"Nggak usah senyam-senyum. Buru masuk!" tegur Azkan membuka pintu mobil setelah pembantu rumah tangga yang di perintah Salsa mengambil kucinya datang.
"Nggak suka?"
"Suka," jawab Salsa cengegesan.
Azka melajukan mobil itu meninggalkan pekarangan rumah Salsa menuju rumah sakit yang lumayan jauh. Jadwal psikiater Azka sudah di atur oleh Maminnya dan dia hanya harus patuh agar segera sembuh. Azka melakukan ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang-orang terdekatnya.
Mengambil pelajaran dari kejadian saat dia lepas kendali dan berakhir menyakiti Salsa, sudah cukup membuatnya jera, menyepelekan penyakit yang dia derita.
"Nggak kerasa bentar lagi kita lulus." Salsa menoleh menatap wajah datar Azka yang fokus menyetir, tetapi tangan laki-laki itu bagai magnet selau menempel di tangannya. "Cita-cita lo apa, Ka?"
"Jadi suami lo," jawab Azka lugas.
"Kalau gitu cita-cita gue jadi ibu dari anak-anak lo," balas Salsa menahan senyuman.
"Itu bukan cita-cita tapi keharusan!"
"Seandainya lo punya ekspresi Ka, pasti gue senang bisa liat lo tertawa, cemberut, senyum."
"Gue punya, tapi sulit. Dan gue bakal lakuin itu saat bersama lo aja," jawab Azka.
"Azka cita-cita lo apa? Kali ini jawab dengan serius. Kalau cita-cita gue pengen jadi Dokter kayak Mama biar bisa ngobatin semua orang."
"Gue pengen jadi pasien biar bisa di rawat sama lo."
"Azka, lo kok makin hari nyebelin banget sih? Ketularan sama Rayhan, nanyanya A di jawab B. Gue marah dan jangan ajak gue ngomong," kesal Salsa mengalihkan perhatiannya pada jalanan.
Apa Azka tidak tahu jatungnya sekarang berdebar sangat cepat karena gombalan laki- laki itu. Dan yang membuat Salsa semakin kesal karena Azka mengombal tanpa ekspresi.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘