Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 192


Rayhan bahagia tidak ada duanya karena bisa pergi berdua saja bersama Giani walau gadis itu tidak mengajaknya bicara. Tidak perlu saling bicara, duduk berdua, berada di samping Giani, melihat gadis itu tersenyum sudah membuat Rayhan senang.


Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Giani setelah sampai di minimarket, mengulurkan tangannya. "Ayo yang!" ajak Rayhan.


Ia senyum simpul saat gadis itu turun tanpa memyambut uluran tangannya.


"Nggak papa Ray, resiko suka sama cewek nggak suka sama lo," gumam Rayhan bersiul ria mengikuti Giani dari belakang.


Keduanya langsung menuju tempat bahan-bahan makanan terutama daging-dagingan dan bumbu.


Rayhan mendorong troly dan Giani sibuk memilih.


"Sayang, nggak mau beli susu buat anak kita juga?" tanya Rayhan dengan mimik wajah serius.


Giani mendengus, tak menghiraukan ocehan Rayhan yang menurutnya sangat tidak berfaedah. Langkah gadis itu terhenti di salah satu rak saat melihat seorang pria bersama wanita bergandengan sangat mesra.


Giani hendak pergi. Namun, dirinya sudah terlanjut di lihat oleh sang ayah.


"Giani!" panggil pria paruh baya bersama istri barunya.


Giani bergeming, tidak menyahut, juga tidak pergi. Rasanya ia ingin memangis melihat ayahnya bersama orang lain bukan ibunya.


"Kamu sama siapa kesini Nak? Ayo pulang sama ayah!" ajak pria paruh baya itu.


Giani menarik tangannya, sembari menatap sinis wanita yang berada di samping Ayahnya.


Rayhan yang melihat itu dari kejauhan segera mendekat. "Sayang, ngapain di sini? Ayo kita belanja keperluan yang lain," ucapnya langsung mengamit pinggang Giani.


"Siapa dia Giani?" tanya Pria tua itu.


"Oh, saya calon suaminya om. Saya akan menjadi suami yang baik dan benar untuk istri saya. Saya akan menjadikannya ratu satu-satunya tanpa ada seorang selir di sekitar. Bukankah seorang raja harus memuliakan ratunya?" sindir Rayhan. "Anda siapa?" tanyanya pura-pura tidak kenal.


"Saya ayahnya," jawab pria paruh baya itu sedikit tersingung.


"Oh aja ya kan," gumam Rayhan menarik Giani menjauh dari sana.


Karena Giani mulai tidak fokus dan hanya berjalan dengan tatapan kosong di sampingnya. Rayhan memeriksa sendiri isi keranjang apa sudah lengkap atau belum.


Setelah dirasa lengkap, keduanya menuju kasir untuk membayar. Sepanjang perjalanan pulang, Giani tidak mengatakan sepatah kata apapun, hingga mereka sampai di rumah Azka.


"Kak Giani akhirnya datang juga," sambut Ara saat keduanya membuka pintu.


"Kenapa Ara?" tanya Giani dengan senyuman.


Rayhan mengelengkan kepalanya tak percaya melihat sikap Giani yang langsung tersenyum, padahal tadi masih bersedih. Gadis satu itu memang pandai menyembunyilan luka dengan senyuman.


"Di belakang seru banget lo, kak Azka sama Abang El main gitar," ucap Ara berjalan beriringan bersama Giani ke taman belakang, ikut bergabung dengan yang lain.


Benar saja, Azka dan Semuel bermain gitar, dengan Salsa ikut bernyanyi di samping Azka. Sementara Keenan sibuk menyiapkan alat pembakaran. Dito dan Ricky sibuk mengelar karpet dan keperluan yang lainnya.


"Gi, ayo sini kita nyanyi bareng!" panggil Salsa.


Giani yang notabenenya pandai bergabung dengan siapapun, ikut bernyanyi dengan inti Avegas lainnya. Menunggu semua sudah siap.


"Semuanya udah siap nih!" teriak Keenan.


Salsa hendak beranjak menuju pembakaran. Namun tangannya di tarik oleh Azka agar kembali duduk.


"Itu tugas laki-laki, kalian duduk aja di sini," ucap Azka tak membiarkan istrinya ataupun teman istrinya bekerja.


"Selamat bekerja." Salsa mengepalkan tangannya memberi semangat pada yang lain.


Karena Azka tadi cuma sibuk bernyanyi, kini gilarannya untuk memanggang daging. Keenan dan Ricky duduk selonjoran di atas kerpet yang baru saja di gelar.


Semuel masih sibuk dengan gitarnya, tak memperdulikan Ara yang sedari tadi berada di sampingnya. Giani ikut bergabung di karpet tak ingin menganggu dua sejoli itu.


Seru-seruan bersama Ricky, Dito, Keenan juga Rayhan. Sementara Salsa ikut membantu sang suami.


"Nggak usah Sal, ntar kamu kepanasan!" tegur Azka.


"Ish nggak papa, aku kan mau bantu."


"Tangan kamu, jangan masukin apapun, biar aku aja!" cerewet Azka saat Salsa meletakkan daging di tempat pemangangan.


"Takut banget tangan aku lecet," gumam Salsa.


"Bantu lap keringan aja kalau mau."


Salsa mengulum senyum, beranjak ke meja untuk mengambil tisu. Mengeringkan keringat di pelipis sang suami, juga leher.


"Tampan banget."


...****************...