
Peluh membasahi tubuh Azka, juga tubuh bergetar hebat seperti tersengat aliran listrik. Telapak tangan lagi-lagi itu sangat dingin, mencekram selimut begitu kuat.
"Jangan pergi Sal, gue mohon, lo nggak tau gimana hancurnya gue." Azka menangis sesegukan.
"Salsa!"
Sontak Salsa membuka mata mendengar tangisan seseorang yang terus memanggil namanya, ia menoleh dan mendapati Azka duduk di samping berangkar dengan kepala bertumpu pada pembaringan.
"Azka gue di sini," lirih Salsa secara perlahan mengerakkan tangannya yang di infus. Mengusap kepala Azka sangat lembut. "Bangun Ka!"
"Jangan pergi plis," gumam Azka.
"Gue nggak bakal pergi," lirih Salsa terus mengusap rambut Azka.
Salsa merubah posisi tidurnya menghadap laki-laki itu. Menguncang tubuh Azka dengan tangan kanan hingga Azka terbangun dengan wajah linglung dan air mata di wajah.
Ia mengusap air mata di pipi Azka. "Cuma bunga tidur, gue nggak bakal pergi kemanapun, apa lagi mau ninggalin lo, Ka," ucap Salsa dengan senyuman penenang.
Azka meraih tangan kanan Salsa lalu mengenggamnya sangat erat, menempelkan punggung tangan itu di bibirnya. "Maaf bangunin lo tengah malam seperti ini," sesal Azka.
Sudah sebulan berlalu, tetapi Salsa selalu muncul di mimpinya dengan berbagai cara untuk meninggalkannya seorang diri. Itu yang membuat Azka selalu terbangun tengah malam. Dirinya takut untuk kehilangan orang yang benar tulus sayang padanya, orang yang mau bertahan dengan segala kekurangan yang ia punya.
Tatapan mereka saling mengunci, jantung berdetak hebat antara keduanya, tak ada yang ingin mengalah di antara mereka.
"Jangan berfikir aneh-aneh lagi tentang gue Ka, biar nggak kebawa mimpi. Lo kurusan sekarang, jarang makan pasti."
"Tidur lagi gih, masih jam dua pagi, lo harus banyak istirahat!" perintah Azka tak ingin membahas tentang dirinya.
"Lo ...."
"Sal ...!" Azka menatap tajam Salsa.
"Jangan perhatiin kesehatan gue aja Ka, kesehatan lo juga penting. Berobat seperti biasa ya!" pinta Salsa lembut. "Jangan nyiksa diri sendiri. Gue nggak suka orang yang berusaha baik-baik saja walau dirinya nggak baik-baik saja. Dibalik senyum lo tersimpan kesedihan, gue tau itu. Lo mau kan jadiin gue rumah untuk pulang? Bercerita banyak hal setelah melalui hari yang keras di luar sana!"
Genggaman Azka mengendur. "Lo tau dari mana ...."
"Mami lo," jawab Salsa. "Lo mau kan ikuti jadwal terapi seperti biasa! Kita sama-sama berobat! dan saling menguatkan!" pinta Salsa.
"Kita jalan masing-masing aja Sal."
"Ma ... maksud lo apa, Ka?"
"Lo dengan hidup lo, gue dengan hidup gue, dengan begini lo nggak bakal sakit hati. Seperti yang lo katakan tadi, gue ... gue ...." Azka menjeda, dengan berat hati ia mengatakan ini semua, ia mengira Salsa tidak tahu dengan sekit mental yang ia derita. "Gue cuma akan nyakitin lo."
"Kenapa lo jadi anak kecil kayak gini Ka? Baru saja lo minta gue jangan pergi, dan sekarang lo minta gue untuk pergi." Salsa tertawa. "Asal lo tau, saat lo marah bukan itu yang gue liat kak. Dibalik kemarana lo gua cuma liat cinta yang begitu besar."
"Lo mau nerima gue apa adanya, bahkan saat tau gue penyakitan. Lalu, apa alasan gue untuk ninggalin lo? Bukannya bersama jauh lebih baik daripada berpisah, hanya untuk nyakitin hati masing-masing?"
"Tidur Sal!" pinta Azka untuk kesian kalinya.
"Lo nggak bakal ninggalin gue saat tidur?"
"Nggak, gua bakal nemenin lo disini." Azka kembali menarik tangan Salsa agar mengenggam tangannya. "Genggam gue dan jangan pernah lepaskan, sekalipun gue memintanya."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘