
Salsa meregangkan otot-ototnya sebelum bangun, tidur nyenyaknya terusik karena sinar matahari yang menerpa wajahnya. Ia meraba-raba tempat di sampingnya dan tidak mendapati sang suami.
"Azka!" gumam Salsa.
Gadis itu tidak langsung bangun, tubuhnya terasa remuk karena keperkasaan Azka semalam. Entah jam berapa ia tidur, suaminya seperti tidak puas selalu meminta lebih, dengan alasan satu kali, tapi terjadi berulang kali.
Azka benar-benar menepati janjinya, membuat Salsa sulit untuk berjalan. Bukan hanya tubuh, tapi bagian inti Salsa terasa nyeri hanya untuk bergerak.
Walau begitu Salsa tetap memaksakan beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk cuci muka. Sekarang ia hanya memakai kaos kebesaran milik Azka yang ia ambil di lemari dengan asal setelah mandi untuk menunaikan ibadah subuh tadi.
"Kok baru terasa sekarang ya sakit? Semalam kenapa malah ...."
Blush
Wajah Salsa memerah mengingat kejadian semalam, apa lagi saat ia merancau tidak jelas di bawah kungkungan Azka.
Ia menepuk-nepuk pipinya, merasa malu pada dirinya sendiri. Teringat bahwa suaminya tidak ada di kamar, gadis itu segera berjalan keluar untuk mencarinya.
Butuh perjuangan untuk Salsa menuruni satu persatu anak tangga yang lumahan banyak. Sekali menurini anak tangga, sekali juga ia meringis.
Senyumnya mengembang mendapati Azka ada di dapur. Karena langkah kaki yang pelan, laki-laki itu tidak menyadari keberadaan dirinya.
Salsa langsung memeluk Azka dari belakang, menempelkan pipinya tepat di pungung laki-laki itu. "Kirain beneran keluar tanpa pamit," gumam Salsa.
Azka langsung berbalik saat merasakan tangan mungil melingkar di perutnya. Ia tersenyum jahil melihat tanda merah di leher Salsa.
"Ngapain nyusul, Hm? Nggak sakit Anu kamu?" tanya Azka menangkup kedua pipi Salsa kemudian mengecup bibirnya.
"Sakit, tapi aku takut kamu pergi tanpa izin," jawab Salsa membalas tatapan teduh Azka. "Ngapain di dapur Azka? Kamu kan nggak pintar masak."
"Siapa bilang, Hm? Aku pintar. Dan sekarang mau buat sarapan untuk istri tercinta aku."
Azka mengendong Salsa dan mendudukkannya di meja pantri. "Jangan jalan kemanapun, kasian tubuh sama itu ... kamu."
"Ulah siapa coba?" cibir Salsa.
"Kamu juga suka." Azka mengulum senyum.
"Azka ish." Salsa menutup wajahnya karena malu. Namun, itu membuat Azka semakin gencar menggoda sang istri.
"Pantesan Rayhan sering jajan, ternyata semenyenangkan itu," gumam Azka. "Sayang setelah makan kita ulang lagi ya!" ajaknya.
tak
Salsa mengetuk kepala Azka dengan sumpit. "Kok di pukul?" tanya Azka tak terima.
Cup
Mata Salsa semakin melotot melihat kelakuan Azka pagi ini. Sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Lebih cair dan banyak bicara.
"Duduk anteng, aku buat sarapan dulu!"
Azka kembali di depan kompor untuk menyelesaikan acara memasaknya. Bohong jika Azka pintar masak. Laki-laki itu hanya sok tahu berbekal video dari youtube.
Senyum Azka kembali terlihat kala tangan mungil melingkar di pingangnya. "Kenapa, Hm?"
"Mau liatin," jawab Salsa memeluk tubuh kekar Azka dari belakang, sedikit mengintip di balik lengan Azka untuk melihat aktivitas sang suami.
Lama keduanya dalam posisi seperti itu hingga Azka selesai dengan urusannya. Kembali mengendong Salsa ke meja pantri. Azka meracik telur dadarnya bersama dengan Roti, daging, juga sayuran lainnya, tidak melupakan mayones.
"Buka mulut Sal!" perintah Azka.
Dengan senyuman Salsa membuka mulutnya, menerima sepotong roti berlapis segala macam bahan-bahan buatan Azka. Salsa memejamkan mata saat makanan itu terasa sangat asin di mulutnya. Namun, ia tetap menelannya demi menghargai usaha Azka.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Azka penuh harap.
"Enak banget Ka, aku suka. Lagi Aaaa ...." Salsa kembali membuka mulutnya menunggu Azka memberilan sepotong roti lagi.
Dengan menghabiskan roti itu, otomatis Azka tidak bisa mencicipinya.
"Punya aku." Salsa hendak merebut roti di tangan Azka, tapi keburu masuk di mulut laki-laki itu.
Detik berikutnya, Azka memutahkan roti itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia menatap tajam Salsa yang kini duduk di hadapanya. Posisi mereka berdua sangat intim. Salsa duduk di atas meja dengan Azka berdiri di antara kaki gadis itu.
"Ngapain di makan Sal? Gimana kalau kamu keracunan?"
"Enak kok Ka, aku suka, apa lagi yang buat suami aku, pasti bumbunya bumbu cinta."
"Ayolah Azka aku nggak papa!" bujuk Salsa melihat laki-laki itu tak seceria tadi. "Namanya juga permulaan."
"Ini terakhir kalinya aku masak," gumam Azka. "Aku nggak mau kamu keracunan."
...****************...
Yang pengen liat babang Azka bangun tidur dan gemes-gemes kuy intip di instagram otor🥰
Ig: Tantye005