Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 72


Bel masuk berbunyi 15 menit yang lalu, tapi Salsa tak kunjung datang, membuat Azka mulai gelisah dan sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Salsa tidak pernah terlambat seperti ini apa lagi bolos tanpa izin setidaknya pada Alana.


Azka: Kenapa nggak ke sekolah?"


Read


Azka menghela napas saat chatnya hanya di Read oleh Salsa, tanpa menunggu waktu laki-laki itu nelpon pacarnya.


"Lo sakit?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Azka setelah sambungan tepon terhubung.


"Gue nggak papa Ka, izinin gue sama pak Alvi ya!" lirih Salsa menahan rasa nyeri di perutnya.


"Lo sakit?" Azka mengulang pertanyaannya.


"Gue cuma datang bulan aja, cuma nyeri dikit, nggak papa kok, bentar lagi juga sembuh," jawab Salsa.


"Azka gue ...."


Tut


Azka langsung memutuskan sambungan telfon tanpa menunggu Salsa selesai bicara, mendengar gadis itu meringis membuatnya tidak tenang. Ia beranjak setelah membereskan bukunya.


"Lo mau kemana?" tanya Alana.


"Ada urusan," sahut Azka menghilang di balik pintu.


Mama Reni sedang keluar Kota bersama dokter lainnya untuk menangani proyek, otomatis Salsa seorang diri di rumah, itulah mengapa Azka sangat khawatir dengan keadaan gadis itu. Sebelum menuju rumah Salsa, Azka terlebih dulu singgah di indoapril untuk membeli sesuatu untuk sang pacar.


Di rak khusus perempuan, Azka kebingungan sendiri memilih Kiranti rasa apa untuk Salsa. Melihat karyawan berjalan kearahnya, tanpa malu Azka bertanya.


"Mbak, lebih enak mana?" tanya Azka tanpa ekspresi sembari memperlihatkan beberapa botol kiranti dengan rasa yang berbeda-beda.


"Ini kak," tunjuk karyawan pada botol warna orange. "Kalau boleh tau untuk siapa?" kepo sang karyawan, baru kali ini ia melihat cowok setampan Azka dengan pedenya membeli kiranti juga pembalut.


"Biar saya tebak, pasti untuk pacarnya," lanjut karyawan itu.


"Buat istri saya," jawab Azka dingin berjalan ke kasir untuk membayar pembalut juga Kiranti yang ia ambil.


Beberapa pasang mata memperhatikan Azka yang kini berdiri anteng di depan kasir tanpa ekspresi. Setelan baju olahraga warna abu-abu juga topi hitam dan tas punggung yang senada, membuat siap saja terpesona akan ke tampanan laki-laki itu. Namun, Azka tepatlah Azka, sekali ia menjatuhkan hatinya pada seseorang, maka ia tidak akan melirik yang lain.


Azka mengeluarkan satu lembar uang merah di dompetnya, lalu menyerahkan pada mbak kasir, tanpa menunggu kembalian ia meninggal indoapril itu yang membuatnya tidak nyaman karena tatapan para pengunjung.


"Beruntung banget istri cowok itu, dapat suami spek dewa mana romantis banget lagi," lirih mbak kasir mengigit kuku jarinya


"Apa ada yang salah laki-laki membeli Kiranti dan pembalut?" gumam Azka.


Azka melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata menuju rumah Salsa, memarkirkan motor merah itu di halaman rumah dan langsung masuk begitu saja setelah mengabari Salsa bahwa ia akan datang. Mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Masuk aja, nggak di kunci," sahut Salsa.


Azka meletakkan kresek di atas meja lalu menghampiri Salsa yang masih meringkuk di tempat tidur.


"Biasanya Mama lo ngapain kalau lo kayak gini?" tanya Azka tak tahu harus berbuat apa.


"Air hangat di isi botol terus di gulingin di perut gue," jawab Salsa memegangi perutnya, bahkan sedikit menekan.


Azka kebingungan sendiri, berdiri mematung di pinggir ranjang, ingin naik ke ranjang dan membantu Salsa takut gadis itu marah dan berpikiran tidak-tidak tentangnya.


"Salsa!"


"Tadi kenapa langsung mutusin telpon gitu aja, gue kan mau nyuruh lo beli Kiranti," gerutu Salsa.


Tanpa mengatakan apapun, Azka melangkah ke meja mengambil satu botol kiranti lalu menyerahkan pada Salsa setelah membuka segelnya. "Minum dulu kalau gitu, gue nggak tau gunanya apa, tapi gue sering dengar Alana nyuruh Keenan beli kalau datang bulan," jelas Azka panjang lebar, membuat Salsa tersenyum ditengah rasa nyeri yang ia rasakan.


"Lo nggak malu beliin ini buat gue?"


"Malu kenapa? Oh iya gue juga beli pembalut buat lo," ucap Azka santai tapi tidak untuk Salsa yang kini wajahnya sudah memerah.


"Azka!" geram Salsa melempar Azka boneka karakter salah satu film yang mempunyai kantong ajaib "Ngapain lo beli pembalut buat gue," lirih Salsa di akhir kalimat.


Entah bagaimana wajah gadis itu sekarang, mungkin semerah tomat saking malunya. Mereka baru pacaran tapi Azka sudah membeli hal-hal yang sangat privasi padanya. Dan lihatlah, Azka tetap menunjukkan wajah tanpa ekpresi setelah membuat anak gadis pak Arion malu setengah mati.


Azka menangkap bonekan itu lalu mengembalikan keranjang, berjalan keluar kamar menuju dapur menemui asisten rumah tangga Salsa, meminta air hangat di isi botol setelah itu membawanya ke kamar.


"Gue izin nyentuh lo Sal," ujar Azka merangkak naik ke ranjang, menarik tubuh Salsa agar duduk bersandar di dadanya. Padahal gadis itu belum menjawab.


"Gue ... gue bisa sendiri," gugup Salsa mengambil alih botol di tangan Azka, lalu memasukkan kedalam bajunya.


Jantung Salsa berdetak tak karuan berada di pelukan Azka, apa lagi posisi mereka sangat intim.


Bukan hanya jantung Salsa, tapi jantung Azka tak kalah hebat bahkan gadis itu bisa merasakannya.


"Diam!" perintah Azka mengambil alih botol di tangan Salsa.


Menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh gadis yang kini selonjoran bersandar di tubuhnya. Mulai mengerakkan tangan kekarnya di perut Salsa, membuat gadis itu semakin gugup. Ribuan kupu-kupu mulai beterbangan di dalam perut Salsa.


"Kalau lo sakit atau butuh sesuatu langsung telfon gue, jangan kayak tadi."


"Iya."


"Seandainya gue nggak nelpon lo tadi, lo nggak bakal beritahu gue?"


"Maaf Ka, tapi gue nggak mau nyusahin lo, lo harusnya ada di sekolah dan belajar, jangan sampai nilai lo turun karena gue, gimana kalau Papi lo tau. Gue nggak mau lo berantem hanya karena gue Ka."


Azka memejamkan matanya, dari tadi ia diam saja karena sedikit kecewa akan sikap Salsa yang selalu tertutup padanya.


"Lo nggak butuh gue?"


"Bu ... bukan itu Ka ... tapi ... tapi."


"Okey gue bakal loporin semuanya ke elo, mau itu gue makan, tidur, mandi, nggak kesekolah, sakit gigi, di gigit nyamuk, pengen makan tengah malam, rindu, segalanya gue bakal ngomong sama lo. Jadi jangan risih kalau setiap detik gue hubungi lo cuma karena ini," cerocos Salsa saat dirinya mulai terintimidasi.


"Bagus!"


"Azka! Lo gila?" bentak Salsa tak percaya entah apa pikiran Azka, ia mengira laki-laki itu akan mengatakan tidak, karena semua yang ia katakan tadi 90% membuat cowok menapun Ilfil padanya.


"Hm."


"Hm apa?"


"Diam Sal!" tegur Azka saat siku Salsa tak sengaja menyenggol sesuatu yang berharga.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak