Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 175


Setelah panggilan telpon terputus, Tari menemui Azka di kamarnya. Putranya baru saja pulang beberapa menit yang lalu.


Ia mengetuk pintu. "Azka sayang, kamu tidur nak?" tanya Tari.


"Kenapa Mi? Tunggu bentar," sahut Azka.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sosok pemuda memakai celana pendek tanpa baju.


"Papi nelpon kamu tadi, katanya nggak di jawab," ucap Tari.


"Azka sibuk nggak sempat pegang hp. Lagian ngapain dia nelpon Azka, kurang kerjaan amat," gumam Azka. Namun, masih bisa di dengar oleh Tari.


"Papi mau cerita sama kamu katanya, kalau ada waktu telpon bentar aja."


"Ntar malam kalau ada waktu, Azka bakal jenguk. Itupun kalau ada waktu." Azka langsung menutup pintu setelah menyelasaikan kalimatnya, membuat Tari menghela nafas panjang.


Tari mengernyit saat Azka keluar dari kamar sudah berpakaian rapi seperti akan pergi. Laki-laki itu menghampirinya kemudian mencium pungung tangannya.


"Azka mau keluar dulu Mi," pamit Azka.


"Mau ketemu Salsa?"


"Iya," jawab Azka.


"Salam buat calon memantu Mami." Ucapan Tari berhasil menerbitkan senyum di bibir Azka.


***


Salsa, gadis itu mulai bosan menonton Tv seorang diri. Di rumah tidak ada orang lain selain dirinya dan satu asisten rumah tangga. Ini semua karena ulah Azka yang tidak membiarkannya kesekolah.


Merasa jenuh dan tidak tahu mau berbuat apa. Salsa memutuskan menelpon sang kekasih, hanya dalam satu deringan panggilan pun terjawab.


"Azka,"


"Dalem sayang?"


"Apaan sih, gaje," gumam Salsa salah tingkah sendiri padahal Azka hanya mengatakan dua kata itu.


"Iya kenapa?" ulang Azka.


"Aku tadi habis nonton, terus liat iklan eskrim, kayaknya enak banget." Cerita Salsa dengan raut wajah bahagia.


"Terus?"


"Ya nggak ada aku cuma cerita aja." Senyuman yang tadinya merekah kembali pudar karena ketidak pekaan Azka.


"Udah ceritanya? Aku mau pergi dulu."


"Udah, hati-hati Ka," ucap Salsa.


"Nggak nanya aku mau kemana?"


"Emang kemana?" tanya balik Salsa.


Tut


Salsa mendengus kesal, ia menyesal menelpon Azka, bukannya memperbaiki mood malah merusak. Gadis itu memutuskan olahraga sore dengan jalan kaki di sekitar halaman rumahnya.


Atensinya teralihkan dengan motor besat berwarna merah memasuki halaman rumah, ia sangat mengenal pemiliknya. Dia adalah Azka kekasihnya.


Laki-laki itu turun membawa kresek indoapril lumayan besar yang entah apa isinya. Azka menyerahkan kantong itu padanya.


"Ini bukan?" tanya Azka.


Dengan sigap Salsa memeriksa isi kresek itu. "Hua makasih sayang, tau aja aku pengen es krim. Mana banyak banget pula. Sayang banyak-banyak deh," girang Salsa saat mengetahui isinya.


Ia mengira Azka tidak peka apa yang ia inginkan tadi.


"Aku butuh bayaran disini!" Azka menunjuk pipinya.


Cup


"Udah, makasih." Salsa berlari masuk kerumah membawa kresek berisi eksrim itu.


"Gemes banget calon istri aku," gumam Azka mengikuti jejak Salsa.


"Salsa!"


"Aku di dapur, Ka," sahut Salsa.


Azka menyusul kedapur dan duduk di meja pantri memperhatikan Salsa yang menyusul eskrim kedalam lemari Es.


"Tumben nggak ngelarang aku makan es krim," celetuk Salsa.


"Itu untuk dua bulan, terserah mau habis sekarang atau besok, intinya kamu nggak boleh makan es sebelum cukup 2 bulan."


"Azka, kalau untuk dua bulan ini dikit," protes Salsa.


"Sayang banyak-banyak tadi aku tarik kembali."


"Jangan cemberut gitu, aku nggak suka Sal." Berjalan mendekat kemudian mencubit pipi Salsa gemes. Ia sedikit menunduk untuk mendekatkan wajahnya.


Ingin menghapus noda Eskrim di sudut bibir Salsa dengan bibirnya. Namun, suara keributan di ruang tamu menghentikan aksi ketua Avegas itu.


"Siapa?" tanya Salsa bernafa lega, lolos dari kemesuman Azka.


"Anak-anak, aku lupa ngomong kalau mereka mau datang," jawab Azka.


"Oh anak-anak kita," canda Salsa.


"Anak-anak kita belum jadi Sal, nanti buatnya setelah nikah," bisik Azka lalu meninggalkan Salsa di dapur seorang diri.


...****************...