Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 198


Karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan Salsa, Azka tidak berkunjung ke markas, ia lebih memilih menemani sang istri ke rumah sakit.


Seperti biasa, tangannya tak pernah lepas dari genggaman Salsa, seakan jika ia melepaskannya, ia akan kehilangan gadis itu.


Azka melirik sekilas kala tak ada suara dari istrinya. "Kenapa? Mau makan dulu sebelum ke dokter? Atau nonton?" tanya Azka di jawab gelengan oleh Salsa.


Gadis itu masih was-was akan pertanyaan Azka beberapa hari yang lalu. Sampai ia tidak membiarkan Azka pergi kemanapun tanpanya.


"Aku nggak lapar," jawab Salsa.


"Kamu kenapa banyak diam? Butuh sesuatu?"


Salsa lagi-lagi mengeleng. "Kalau aku ngelarang kamu keluar rumah tanpa aku, kamu bakal marah?"


"Nggak, senang malah istri aku posesif." Azka terkekeh.


Genggaman tangannya ia lepas demi mengelus rambut sang istri. "Jangan berfikiran macam-macam, aku udah janji nggak bakal ngelakuin hal gila."


"Janji Ka?"


"Iya sayang," lembut Azka.


Sibuk mengobrol, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Azka sengaja menurunkan Salsa di depan rumah sakit agar tidak kepanasan saat mencari tempat parkir yang pas.


Ia menemui sang istri setelah memarkirkan mobilnya. Mengenggam tangan mungil Salsa sangat erat. Berjalan beriringan menuju ruangan dokter Jesy.


Karena sudah ada jadwal dan pemberitahuan sebelumnya, Azka langsung membuka pintu ruangan dokter Jesy tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Ia mengernyit mendapati bukan hanya dokter Jesy di dalam sana, tapi ada Rayhan yang tidur selonjoran di sofa.


"Masuk nak!" perintah Dokter Jesy.


"Ngapain Ray ada di sini Tante? Sakit?" tanya Azka ikut duduk di samping Salsa.


"Biasa, dia ada maunya," jawab dokter Jesy.


"Ada keluhan selama beberapa hari terakhir?" tanya Dokter Jesy pada Salsa.


"Kamu yakin? Sakit pinggang sama cegukan itu gimana?" Azka angkat bicara.


"Itu cuma nyeri haid Azka, cegukan juga sering terjadi," sela Salsa.


Dokter Jesy hanya tertawa melihat sikap teman anaknya itu. Mentang-mentang pengantin baru pikir Jesy.


"Kita cek luka jahitannya ya, siapa tau udah kering." Dokter Jesy mengajak Salsa berbaring di brangkar agar lebih mudah memeriksa bekas operasi tempo lalu. Usai memeriksa keduanya kembali duduk bersama Azka.


"Lukanya udah kering, tapi obatnya harus tetap di minum dengan teratur," ucap dokter Jesy.


"Jadi saya udah bisa naik motor dok?" tanya Salsa.


"Boleh, selama itu nyaman sama kamu."


Salsa mengangguk mengerti, ia sengaja bertanya seperti itu agar Azka mendengarnya dan tidak keras kepala.


"Kalau Nganu boleh nggak Ma? Kasian mereka pengantin baru," celetuk Rayhan yang sedari tadi sudah bangun tapi baru mengeluarkan suara.


"Boleh dong, asal Salsa nyaman-nyaman aja. Tapi untuk hamil sebaiknya di tunda dulu, takutnya nanti terjadi kecacatan atau semacamnya pada janin. Lebih rincinya bisa bertanya ke dokter kandungan." Dokter Jesy mengulum senyum saat melihat Salsa tersipu malu.


"Kurang baik apa lagi gue coba, udah ngewakili lo nanya sama mama gue." Rayhan berjalan mendekat dan berdiri di samping Jesy.


"Sebagai bayarannya traktir gue seperti biasa, dua jam aja."


"Dua jam apa?" tanya Jesy.


"Anak tante sering ke ...."


"Azka, gue punya kabar hot buat lo." Rayhan langsung memotong kalimat Azka, manarik laki-laki itu keluar dari ruangan Mamanya.


Jangan sampai Jesy tahu kalau ia sering ke tempat haram. Atau uang jajannya akan di bekukan. Belum lagi Tuan Elvan yang terhormat bakal ngamuk. Mendapat jeweran dari Oma tercinta. Dan patuah panjang lebar dari Om Kevin juga Daren.


...****************...