
Dirasa semuanya telah aman, Azka langsung menemui Salsa, ia menyesal membentak gadis itu tadi. Langkahnya berhenti di antara bangunan besar melihat sang istri duduk dengan memeluk kedua lututnya.
Azka berjongkok dan menarik Salsa kedalam pelukannya. "Maaf, bentak kamu tadi, aku takut terjadi sesuatu sama kamu," bisik Azka.
Kamu nggak tau Sal, selain Avegas, Leo ngincar kamu.
Tangis Salsa semakin pecah dalam pelukan Azka. Ia membalas pelukan laki-laki itu tak kalah erat. "Aku takut kamu kenapa-napa, aku takut mimpi aku semalam benar-benar terjadi," lirih Salsa.
Azka melepas pelukanya, menangkup kedua pipi Salsa agar menatapnya. Ia memberikan senyum setenang mungkin.
"Memangnya kamu mimpi apa, hm?" tanya Azka merapikan rambut Salsa yang sedikit berantakan.
"Aku mimpi kamu ninggalin aku karena terluka pas tawuran," jawab Salsa sesegukan.
"Tenanglah, nggak bakal terjadi sesuatu sama suami kamu ini. Mimpi hanya bunga tidur, nggak mungkin terjadi."
Azka membantu Salsa berdiri dan mengernyit mendapati lulut gadis itu memerah. "Ini kenapa?"
"Mungkin jatuh tadi."
"Mungkin?" ulang Azka tidak habis pikir dengan jalan pikiran Salsa.
"Aku lapar," gumam Salsa.
Azka kembali berjongkok di depan Salsa. "Naik kita ke warung bu Warni!"
Salsa mengeleng. "Tenang aja, mereka nggak bakal balik lagi Sal. Jangan terlalu over mikirin sesuatu," lanjut Azka.
"Aku jalan aja!"
"Naik! Keras kepala banget sih anaknya pak Arion," gerutu Azka.
Dengan terpaksa, Salsa naik kepungung Azka, melingkarkan tangannya di leher sang suami. "Aku mau makan banyak, tapi di suapin sama kamu," gumam Salsa.
"Iya aku suapi sampai kenyang."
Azka menurunkan Salsa setelah sampai di warung bu Warni, hanya mereka berdua yang ada di sana, yang lainnya mungkin masih sibuk di sekolah mencari pacar masing-masing seperti yang ia lakukan.
Diam-diam Azka meringis karena rasa sakit di pungungnya, mungkin sekarang sudah memar. Baik-baik kalau tulangnya tidak patah.
"Ah iya, hampir lupa," sahut Azka merubah mimik wajahnya setenang mungkin.
Keduanya asik suap-suapan tanpa memperdulikan bu Warni yang sedari tadi memperhatikan. Ini pertama kali wanita paruh baya itu milihat ketua Avegas sangat bucin. Biasanya yang ngebucin di warungnya kalau bukan Rayhan ya Ricky, dengan pasangan yang setiap hari berbeda-beda.
Salsa izin ketoilet setelah makan, ia kebelet buang Air kecil.
"Udah disini lo ternyata," ucap Keenan yang baru saja datang dengan yang lain.
"Gimana, rencana kita selanjutnya? Balas nggak nih?" tanya Rayhan yang sudah kepanasan.
"Balaslah, ya kali kita hina diam saja," timpal Ricky.
"Pergi kapan kita?" tanya Samuel yang juga sudah siap, tangannya sudah gatal untuk merobek mulut orang-orang yang menghinanya.
"Mau pergi kemana? Gue ikut boleh?" tanya Salsa, baru saja kembali dari kamar mandi.
"Serius?" tanya Azka di jawab anggukan oleh Salsa.
"Yakin nih bu Ketu? Kita mau Clubbling lo ntar malam." Bohong Rayhan.
"Kamu ikut Ka?"
"Nggak lah, kan udah ada kamu," jawab Azka.
"Nggak jadi deh kalau gitu, kalian aja asal jangan ajak Azka," ucap Salsa tanpa curiga sedikitpun.
"Siap bu ketua, kita mana berani ajak pak ketua. Lelah hayati yang ada malah di gampar. Tau sendiri pak ketua bucinnya sama lo doang." Ricky ikut menimpali.
"Mau ke kelas?"
"Boleh," jawab Salsa. "Dah gue duluan." Salsa melambikan tangannya sebelum pergi di warung bu Warni.
"Jam 10!" teriak Keenan sebelum Azka menghilang.
Azka hanya menaikkan tangannya tanda setuju tanpa sepengetahuan Salsa.
...****************...