Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 151


Azka menghela napas panjang mendapati pesan dari Salsa pagi-pagi buta seperti ini.


For Azka: Nggak udah jemput aku, aku berangkat sama Mama ke sekolah. Sampai jumpa.


Ia melempar ponselnya ke samping, kemudian kembali tidur dengan memeluk guling. Ia masih ngantuk. Memaksakan bangun karena mengira akan menjemput Salsa.


Jam delapan lewat 10 menit, ponsel Azka berdering nyaring, membuat sang empunya mendegus kesal. Masih dengan mata tertutup, ia menjawab panggilan entah dari siapa.


"Hm!"


"Ke markas sekarang!" perintah Keenan di sebrang telpon.


Azka memijit pangkal hidungnya. Melirik jam dan masih terlalu pagi. Ada apa dengan anggotanya pagi-pagi sudah bolos.


"Ngapain kalian di markas? Sekolah bego!" maki Azka dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ini tentang Salsa!"


Mata yang tadinya setengah terbuka, kini melebar mendengar nama kekasihnya di sebut. Tanpa bertanya lagi, ia memutuskan sambungn telpon. Hanya mencuci muka dan menyambar jaket juga kunci motor di atas nakas.


***


Tidak sampai 15 menit Azka sampai di markas. Padahal biasanya perjalan apartemen ke markas memakan waktu hampir setengah jam. Ia mendudukkan diri di sofa bergabung bersama yang lain.


"Kenapa?" tanya Azka.


Bukannya menjawab, inti Avegas malah saling melirik satu sama lain. Tak ada yang berani buka suara, membuat Samuel angkat bicara.


"Lo ada masalah apa lagi sama Salsa?" tanya balik Samuel.


"Masalah apa? Orang baik-baik aja," jawab Azka.


"Mama Salsa baru aja menutup semua akses kita untuk mengintainya dari jauh. Dia juga baru ngirim Email," timpal Keenan, menyerahkan laptop khusus misi mereka pada Azka.


Azka dengan teliti membuka Email dari Reni.


For Bayangan


Uang konpensasi karena saya lebih dulu memutus kontrak sudah saya tranfer, juga biaya jasa bulan ini.


Azka menatap satu persatu sahabat sekaligus anggotanya. "Uang?" tanya Azka.


"Di ATM khusus yang lo buat," jawab Rayhan.


Azka mengangguk paham, uang yang di berikan Reni tak sepersepun Azka gunakan, ia sengaja menyimpannya di ATM lain, karena berencana mengembalikannya suatu saat nanti, tapi tidak sekarang.


Lagi pula Anggota Avegas tidak ingin di bayar untuk mengawal Salsa. Karena bagi mereka mengawal Salsa sama saja mengawal ketua mereka.


Belum ada yang tahu identitas Bayangan yang sebenarnya, kalaupun ada mereka akan dalam bahaya. Banyak yang mengincar bayangan dan ingin melenyapkannya, terutama orang-orang yang pernah ada di jerusi besi karena ulah mereka.


"Gue sama Salsa baik-baik. Mungkin Tante Reni kesusahan membiayai pengobatan Salsa," ucap Azka berusaha positif tingking dengan keadaan.


Azka beranjak setelah berdiskusi dengan inti Avegas. Mereka masih bersedia menjaga Salsa tanpa suruhan dari siapapun, walau sedikit sulit karena Reni menutup akses.


"Jangan bolos, balik gih ke sekolah!" perintah Azka sebelum pergi.


"Siap pak ketu," ucap mereka serempak.


Akhirnya mereka berangkat bersama menuju sekolah tanpa rasa takut. Padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 9, dimana mereka akan mendapatkan hukuman.


Kalau bukan berdiri di tengah lapangan, membersihkan toilet atau Aula sekolah. Itu sudah menjadi rutinitas mingguan inti Avegas.


Baru saja sampai di depan pagar, suara pak Bambang mengintrupsi.


"Kalian lagi! Apa kalian tidak lelah dihukum?" bentak pak Bambang.


"Aelah, di hukum doang pak kita mah nggak masalah," jawab Rayhan.


"Buka pagarnya pak, kita siap di hukum kapan aja!" timpal Ricky.


"Laki-laki sejati penuh tanggung jawab," ucap Dito.


...****************...