Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Boncap 1


Malam harinya setelah dari kantor polisi bersama anggota Avegas yang lain. Salsa duduk di balkon kamar Azka memandangi lagit malam yang begitu indah. Bintang-bintang bertebaran menambah keindahan langit itu.


Salah satu bintang yang besinar terang berhasil membentuk lengkungan tipis di bibir gadis berbadan dua itu.


Salsa mengelus perutnya yang rata. "Semuanya udah selesai Ka, Leo dan Jeri udah mendapat hukuman yang setimpal," gumam Salsa.


"Apa salah kalau aku mengharapkan hukuman lebih untuk mereka? Apa salah jika aku memiliki dendam pada mereka? Karenanya aku harus kehilangan dua panggeran dalam hidupku."


Salsa menghembuskan napasnya perlahan, dadanya terasa sesak, tak terasa air mata membasahi pipinya.


Dua laki-laki yang sangat ia cintai mati di tangan orang yang sama. Orang yang ia tolong saat pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota. Laki-laki yang selalu baik padanya.


"Ternyata semua itu hanyalah topeng."


Salsa kembali memandangi bintang paling bersinar. "Itu kamu 'kan Ka? Jangan marah dan tegur aku! Aku nggak nangis, cuma kelilipan aja." Salsa terkekeh.


"Apa aku bisa bahagia tanpa kehadiran kamu?"


"Bisa dong."


Salsa langsung menoleh mendengar sahutan seseorang, ia tersenyum. Hendak beranjak, tapi mama Martuanya lebih dulu duduk.


Tari mengelus pundak Salsa setelah menyerahkan segelas susu ibu hamil pada menantunya. "Putri Mami bisa bahagia dong. Kan di dalam sini ada Azka junior." Tari tersenyum sembari mengelus perut Salsa.


Gadis itu ikut mengelusnya. "Maaf ya Nak, mama sampai lupain kamu," lirih Salsa.


"Belum ngerasain ngidam sayang?" tanya Tari di balas gelengan oleh Salsa.


"Minum susunya, setelah itu tidur. Angin di luar nggak sehat buat kamu!" omel Tari mengelus rambut Salsa sebelum beranjak.


"Iya Mi."


Seperti yang di katakan Tari. Salsa kembali ke kamarnya setelah menghabiskan segelas susu. Walau rasa susu itu kurang enak di lidahnya ia tetap meminumnya.


Sekarang ia tidak boleh manja, Ia harus jadi ibu yang kuat untuk calon anaknya.


***


Salsa menjalani hari-harinya seperti biasa walau terasa berbeda tanpa kehadiran suaminya. Setelah rapi dengan dress di bawah lutut, ia segera turun menemui Mama mertuanya.


Menyalami tangan wanita paruh baya itu. "Salsa mau keluar bentar Mi." Pamit Salsa.


"Sama Alana Mi. Mau ke sekolah bentar ngurus berkas-berkas buat kuliah nanti."


"Semangat calon dokternya Mami." Tari mengecup kening menantunya.


Sepanjang jalan di dalam taksi. Salsa tak henti-hentinya mengelus perut ratanya. Itu sudah menjadi hobinya setelah hamil.


Jika boleh jujur, hamil muda dan pertama tanpa kehadiran suami bukanlah hal yang menyenangkan. Ia berusaha terlihat baik-baik saja walau hatinya sedang hancur. Bertahan hanya untuk janin yang ada dalam kandungannya.


Salsa mengambil benda pipihnya di dalam tas, kemudian mengentikkan pesan pada no yang ia sematkan.


Salsa: Aku keluar bentar ya, cuma kesekolah. Nanti balik lagi🄰.


Salsa: Janji bakal jaga anak kita sayang.


Salsa menyimpan ponselnya setelah mengirim pesan pada Azka. Selama ini ia selalu mengirim pesan pada kontak laki-laki itu. Apapun yang ia kerjakan dan rasakan, akan ia luapkan di sana.


Walau ia tahu tidak mungkin pesannya akan di balas. Jangankan di balas, pesannya saja centang satu pertanda kontak itu tak lagi aktif.


"Udah sampai neng," ujar sopir Taksi membuyarkan lamunan Salsa.


"Makasih pak." Salsa menunduk hormat sebelum turun. Senyumnya mengembang melihat Alana di pos jaga.


"Aduh bumil cantik banget sih," heboh Alana langsung memeluk Salsa.


"Biasa aja Al."


"Ish ... tak patut, tak patut." Alana memanyungkan bibirnya. "Gue kalah star, padahal di sini yang lebih dulu nikah gue."


Salsa tertawa menanggapi selorohan Alana yang begitu lucu menurutnya. "Emang lombang lari ada starnya segala?"


"Ya lomba punya anak dong."


"Astagfirullah bestie."


Keduanya lagi-lagi tertawa, untung koridor sekolah sepi jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.


...****************...


Bonus capter buat kalian🄰