
Azka tak kunjung melepaskan Salsa dari pelukannya. Mencoba mencari kenyaman dan ketenangan di dalam pulukan kekasihnya. Sejak mimpi buruk semalam, Azka seperti orang gila.
"Aku bakal nikah sama kamu, tapi nggak sekarang Azka, kita masih sekolah." Salsa mengelus punggung Azka untuk menengkan.
Lama Salsa menengkan Azka dalam pelukannya hingga laki-laki itu melepaskannya. Mata mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain. Nafas Azka begitu terasa di wajah Salsa sakin dekatnya. Aroma alkohol bercampur rokok sangat menyegat di indera penciumannya.
Salsa mengelus pipi Azka, mata sayu laki-laki itu menandakan Azka sedang tidak baik-baik saja. "Mau tidur dulu? Atau sarapan?" tanya Salsa hati-hati.
Salsa tersentak saat Azka menarik tengkuknya kemudian menyatukan benda kenyal mereka. Ia sedikit memberontak. Namun, tenaga Azka jauh lebih kuat darinya.
Jantung Salsa berdetak sangat cepat seirama dengan jantung Azka. Pipi gadis itu memanas seiring melemahnya cekraman di kaos hitam Azka. Ia memejamkan mata menikmati setiap permainan Azka di mulutnya, rasanya aneh, tetapi sangat menyenangkan.
Azka yang masih dalam pengaruh alkohol terus memainkan lidahnya di dalam mulut Salsa. Semakin memepetkan tubuhnya hingga Salsa berbaring dan ia menindihnya.
"Azka!" panggil Salsa terangah-engah setelah Azka melepaskan pangutannnya, ia hampir kehabisan nafas karena serangan tiba-tiba kekasihnya.
"Azka!" ulang Salsa. Namun, tidak ada jawaban dari laki-laki itu. Ia mengelus rambut Azka yang kini menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.
"Ka! Kamu tidur? Hey?"
Salsa menghela nafas pasrah saat merasakan deru nafas teratur menerpa permukaan lehernya, pertanda Azka terlelap begitu cepat.
Ini ciuman pertama mereka setelah pacaran, biasanya Azka tak berani menyentuhnya, apa lagi berbuat hal-hal aneh jika berdua saja. Sepanjang Azka tidur, Salsa terus mengelus rambuat laki-laki itu hingga lelah dan ikut tertidur di bawah kungkungan Azka.
Jam 10 pagi Azka terbangun saat merasakan pusing dikepalanya, mungkin karena efek samping alkohol yang ia minum lumayan banyak. Ia perlahan-lahan membuka mata dan objek pertama yang dia lihat adalah wajah pulas Salsa berada dibawa kendalinya.
Azka merubah posisinya menjadi berbaring di samping Salsa, tidur menyamping menghadap kekasihnya. Di telusurinya wajah Salsa dengan jari tulunjuk, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.
"Cantik banget kesayangan Azka," gumam Azka dengan senyuman menghiasi bibirnya. "Sampai sekarang aku masih takut Sal kamu ninggalin aku. Aku terlalu banyak kekurangan buat kamu. Banyak alasan yang bisa kamu pergunakan untuk ninggalin aku."
"Emosian, ketua geng motor yang hobinya nyari masalah dan punya musuh di mana-mana. Hidup dalam keluarga toxit di mana semua tentang aturan. Hubungan yang belum pasti. Kamu nggak takut aku bakal kayak Papi yang suka mengatur ini itu?"
Tangan Azka berhenti di bibir Salsa yang sedikit membengkak, ia tidak lupa apa yang ia lakukan sebelum tidur. Ia dalam pengaruh alkohol itulah mengapa ia tidak bisa menahan keinginan untuk mencium Salsa, tetapi dirinya masih sadar.
"Aku mau kamu dapat laki-laki yang jauh lebih sempurna dari aku Sal, tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu. Egois ya?" Azka tertawa hambar. "Banget, aku nggak rela kalau Kamu dekat sama siapapun, bahkan inti Avegas sekalipun."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘