
Merasa aman dengan makanan yang ada ditangannya karena inti Avegas yang lain sudah mendapatkan makanan masing-masing hasil ngerampas uangya. Azka menyerahkan makanan yang ada di paper bag pada Salsa.
"Tangan aku sakit, nggak bisa makan," ucap Azka dengan wajah datarnya.
"Njir Aku-kamu dong," celetuk Ricky yang baru menyadari panggilan Azka berubah.
"Azka aku masih lapar, beliin lagi dong! Kamu kan sultan," timpal Rayhan dengan nada sedikit mendayu membuat Azka menatapnya tajam. Mungkin jijik mendegar suaranya.
Azka menghiraukan candaan Rayhan dan fokus menatap Salsa yang kini menyiapkan makan siang untuknya. Ah beruntung sekali tangannya sakit, sepertinya ia harus berterimakasih pada Jeri karena menendang motornya malam itu.
"Cowok cuek kalau bucin nggak ketulungan anjir, manjanya bikin ngucap," sindir Dito.
Salsa menghentikan pergerakan tangannya, seketika ia merasa tidak enak menyuapi Azka di depan teman-teman laki-laki itu.
"Nggak usah di dengerin, anggap aja angin lalu!" ucap Azka menarik pergelangan tangan Salsa kemudian menuntun tangan itu agar menyuapinya.
"Hargai kaum jomblo napa," celetuk Keenan.
"Makanya nyari pacar!"
"Dih mentang-mentang punya pacar songong banget," cibir Dito.
"Tau giliran di tinggalin ngamuk!"
"Kamu mau ninggalin aku?" tanya Azka.
"Nggak," jawab Salsa mengundang lengkungan tipis di bibir Azka.
***
Usai makan siang di kantin dengan berbagai macan drama kebucinan yang di luar batas wajar. Azka dan Salsa sengaja jalan-jalan di koridor sekolah, menikmati semilir angin yang sedikit dingin karena cuaca mendung hendak hujan.
"Dingin?" tanya Azka di jawab gelengan oleh Salsa.
Tanpa menunggu komando, Azka mengenggam tangan Salsa untuk menyalurkan kehangatan, sekali melirik Salsa yang tersenyum pada adik kelas saat ada yang menyapa. Kebetulan keduanya jalan-jalan di sekitar kelas Ara.
"Azka turun yuk! Liatin mereka main basket." Tunjuk Salsa pada inti Avegas yang bermain basket. Ia dan Azka ada di lantai tiga.
"Nggak capek naik turun mulu?"
"Nggak, ayo cepat." Salsa berlari agar Azka mengejarnya hingga tidak menyadari cowok yang baru saja dari bawah menambrak tubuh Salsa hingga terhuyung.
Ziah gue tetap cantik.
Panji tersenyum manis, dimanapun ia berada Ziah selalu berada di ingatannya, bahkan gadis secantik Salsa tak menarik untuknya.
Tepat saat Salsa melepaskan diri sebuah bogeman mendarat diwajah tampan Panji, siapa lagi pelakunya jika bukan Azka. Darah laki-laki itu mendidih dengan emosi berada di ubun-ubun saat melihat tangan Panji melingkar mesra di pinggang ramping Salsa.
"Beraninya lo menyentuh tubuh cewek gue bang*sat!" geram Azka menarik kerah kemeja sekolah Panji dengan tangan kirinya.
Teriakan Azka berhasil mengundang perhatian yang lain, inti Avegas yang berada di lapangan bahkan mendengar suara emosi ketuanya, mereka segera berlari menuju sumber suara.
Bugh.
Panji menghempaskan tangan Azka dari kerah kemejanya kemudian membalas pukulan Azka. "Cewek lo nggak menarik buat gue sialan! Harusnya lo bersyukur gue nolongin atau dia udah terjatuh!" bentak Panji berapi-api. Ia datang ke SMA Angkasa dengan niat baik atas perintah dari sekolahnya tetapi malah di perlakukan seperti ini.
"Cewek lo aja terlalu ceroboh, kalau mau ngebucin jangan disekolah bang*sat!" lanjut Panji tak kalah emosi.
"Jaga mulut lo an*jir!"
"Azka udah," cegah Salsa.
Namun, Azka seperti kesurupan tak terima ada yang mengatai Salsa ceroboh. Perkelahian terjadi di depan kelas X Ipa 2 karena Panji sama dengan Azka tidak ingin mengalah.
Tidak ada yang berani memisahkan, hanya asik memerhatikan. Hingga suara teriakan seorang gadis cantik dari sekolah lain terdengar.
"Panji apa yang lo lakuin goblok!" maki Ziah langsung menarik Panji dan melerai perkelahian itu. Ziah memeluk Panji untuk menenangkan, mengelus kepala laki-laki itu.
Sama halnya dengan Ziah, Salsa langsung memeluk pacarnya saat akan menyerang Panji lagi. Ia mengelus punggung laki-laki itu, memberikan kenyamanan sembari membisikkan kata-kata penenang untuk Azka.
"Tenang Ka, aku nggak papa. Jangan emosi seperti ini, aku takut," bisik Salsa.
"Aku sayang sama kamu, jadi tenanglah!"
Salsa mengecup telinga Azka tanpa seorang melihatnya, hanya untuk meredam emosi Azka.
...****************...
Ada yang kepo sama kisah Panji dan Ziah? Kuy intip novel dedek yang lainnya "Kukira cupu ternyata suhu."