
JUDUL: BUKAN (MANTAN TERINDAH)
NAPEN: SUSANTI 31
Kiara Luvena, itulah nama gadis yang kini tengah duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan seseorang yang tidak kunjung datang. Bahkan yang tadinya gerimis kini mulai hujan lebat, tetapi sang kekasih belum ada tanda-tanda untuk datang.
Padahal mereka telah berjanji akan makan malam bersama.
Kiara terus melirik ponsel di tangannya, berharap Aidan menghubungi setidaknya jika tidak bisa datang, membantalkan janji temu tidak masalah.
Menghembuskan nafas beberapa kali Kiara lakukan untuk mengusir rasa jenuh menunggu hampir dua jam lamanya.
Tepat saat jarum jam menunjukkan angka 10, Kiara beranjak dari duduknya. Masuk kerumah sebab udara semakin dingin.
"Mungkin dia ketiduran," gumam Auris merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Rencana yang dia susun semuanya gagal, ajakan teman-teman yang lain Kiara tolak hanya untuk merayakan hari istimewa bersama sang pacar, tapi yang dia dapatkan malah kekecewaaan.
Gadis cantik berlesung pipi itu mulai memejamkan matanya dalam perasaan kecewa, berusaha positif thinking dengan keadaan yang ada, agar tidak menimbulkan pertengkarang esok harinya.
Untuk pertama kalinya, dia di kecewakan oleh orang yang dia cintai.
***
Hari libur membuat Kiara merasakan kesepian yang selalu dia rasakan setiap harinya, sebab tinggal sendiri tanpa dampingan orang tua. Mempunyai orang tua tapi seperti tidak punya, karena ditinggal keluar Negeri saat berusai 12 tahun, dan sekarang umur gadis tersebut sudah 16 tahun.
Kiara menatap kosong layar Tv di hadapannya yang tengah menayangkan berita tentang kecelakaan tunggal saat hujan lebat semalam.
Terjadi kecelakaan tunggal di jalan kusuma bakti. Seorang pemuda terjatuh dari motornya dan kini di larikan kerumah sakit. Korban yang di duga bernama ....
Kiara langsung mematikan Tv saat ponsel yang sedari tadi dia genggam berdering. Menampilkan kontak seseorang yang semalaman membuatnya uring-uringan sendiri.
"Kemana aja sih? Kok baru ada kabar hari ini, kalau nggak bisa datang setidaknya batalkan janji!" omel Kiara tanpa mendengarkan penelpon lebih dulu.
"Maaf Ra, semalam gue ketiduran, cape banget habis pulang les. Hari ini ketemu mau ya?"
"Malas."
"Ra, kali ini aja."
Alis Kiara saling bertaut, tidak biasanya Aidan memanggil dirinya dengan panggilan Ra. Biasanya laki-laki itu akan memanggil Kia dengan alasan agar berbeda dengan teman-teman yang lain.
"Ya udah di tempat biasa."
"Dimana?"
"Kok lo mulai pikun si Aidan, jangan buat gue tambah bad mood deh," omel Kiara langsung memutuskan sambungan telpon begitu saja.
Sekuat apapun dia menjaga emosi agar tidak mengomel, semuanya sia-sia jika sudah berbicara dengan Aidan. Jangankan ada masalah, tidak ada masalah sekalipun, Kiara akan membuatnya agar bertengkar.
Aneh bukan? Tapi lebih aneh lagi jika tidak bertengkar selama satu minggu.
***
Kiara sampai lebih dulu di danau tempat mereka sering janjian. Di sana, ada bangku yang sering keduanya duduki jika jalan bersama.
Lama Kiara duduk di sana, hingga Aidan datang dengan senyuman yang tidak pernah Kiara lihat sebelumnya.
"Gue tadi kesasar," cengir Aidan langsung duduk di samping Kiara.
Kiara menatap penuh selidik pada Aidan di sampingnya. Dari telpon sampai bertemu sekarang, pacarnya terlihat berbeda. Laki-laki itu seperti bukan Aidan, tapi wajahnya sangat mirip. Yang membedakan hanya gaya rambut.
Senyuman Kiara mengembang melihat wajah gugup Aidan, tangannya bergerak untuk merapikan anak rambut Aidan agar terlihat lebih rapi.
"Tumben banget open jidat, biasanya paling anti tuh." Koreksi Kiara di balas senyuman oleh Aidan.
"Oh ini, cuma mau nyoba model baru aja."
Kiara menatap tangannya yang baru saja ditepis oleh Aidan, padahal dia hanya mengelus rambut pacarnya itu. Perlakuan ini baru Kiara rasakan setelah mereka pacaran hampir 6 bulan lamanya. Gadis itu mengerjap perlahan ketika laki-laki tersebut menatapnya intens.
"Gue mau putus," ucap Aiden cepat langsung beranjak dari duduknya.
Hal tersebut tentu saja membuat Auris kaget. Gadis cantik berlengsung pipi itu ikut berdiri.
"Kok ngomongnya gitu? Harusnya gue yang marah karena lo batalin janji gitu aja Dan, tapi kenapa malah lo yang mutusin gue?" Heran Kiara dan sedikit tidak percaya. Jadi tujuan Aidan mengajaknya bertemu bukan meminta maaf, melainkan putus? Kenapa tidak lewat telpon saja? pikirnya.
"Intinya gue mau putus sama lo, kita udah nggak cocok!"
"Kenapa, Aidan?" Dada Kiara bergemuruh hebat, semua ini tidak ada dalam bayangannya.
"Karena lo terlalu baik buat gue."
Kiara senyum miris mendengar jawaban Aidan yang sangat tidak masuk akal baginya. Hampir saja air mata di manik indahnya tumpah kalau saja tidak mengingat harga diri.
"Lo yakin mau putus sama gue karena alasan itu?" tanya Kiara memastikan.
"Hm."
Aidan langsung meninggalkan Kiara di pinggir danau tanpa memperdulikan cuaca sedang mendung, yang bisa saja menganggu kesehatan gadis yang kini menjadi mantan kekasihnya.
"Gue harap lo nggak balik karena nggak nemu perempuan jahat di luar sana!" pekik Kiara memandangi kepergian Aidan.
Tepat saat itu, hujan turun membasahi bumi. Seakan tahu apa yang di rasakan Kiara. Seakan membantunya menyembunyikan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Sakit rasanya saat di putuskan oleh pacar yang sangat kita cintai, terlebih kita tidak tahu apa kesalahan yang telah kita perbuat.
Hari yang seharusnya bahagia, Kiara harus mengalami sakit hati karena di putuskan oleh sang kekasih. Orang yang selama ini Kiara percaya akan menjaganya telah pergi.
"Sesingkat itu?" Kiara menghapus air matanya kasar. Bangkit dari duduknya kemudian pergi dari sana.
***
Sejak kejadian putusnya hubungan Kiara dan Aidan. Kini gadis yang selalu terlihat bahagia itu terus murung, bahkan engang keluar kelas.
"Ra, lo kenapa sih? Sejak kemarin diam-diam mulu kayak nggak punya gairah hidup gitu?" tanya Naura sahabat Kiara sejak kecil. Sahabat yang selalu menemani kapan saja Kiara butuh.
"Nggak papa, nggak mood aja," gumam Kiara. Menumpukan kepalanya di meja menghadap ke tembok, tidak ingin memperlihatkan pada Naura bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Bertengkar lagi sama Aidan? Kemarin dia juga nggak jemput lo."
"Putus," lirih Kiara.
Mata Nuara membulat sempurna, gadis berambut sebahu itu langsung memegang kedua pundak Kiara agar menghadap kearahnya.
"Serius? Demi apa? Cowok sebucin Aidan mutusin lo, dia selingkuh?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut rombeng Nuara.
"Apa gue kurang cantik? Terlalu manja dan sering marah-marah, makanya Aidan mutusin gue? Tapi katanya gue terlalu baik." Kiara menunduk. "Apa gue harus jadi jahat biar dia nggak ninggalin gue?"
"Ck." Naura berdecak sebal. "Lo itu cantik tanpa ada kekurangan sedikitpun, matanya Aidan aja yang katarak. Udah deh nggak usah sedih karena cowok, di luar sana masih banyak yang suka sama lo. Dan ingat ini baik-baik, Kiara itu cantik dan memesona, harga dirinya terlalu tinggi hanya untuk mengejar cowok modelan Aidan."
"Cowok modelan wajah lempeng aja bangga. Menang pintar sama ketua basket aja dia mah," julid Naura hanya untuk membuat hati Auris tidak sedih.
"Jadi gue harus lupain dia?"
"Kenapa nggak? Lo boleh balas dia, tapi kalau balikan dan ngemis cinta, No Kiara!"
...****************...
Jangan lupa baca novel baru Author ya. Dedek tunggu kedatangan kalian😙