Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Ke Cafe


Amel keluar dengan menggunakan kimono mandi, sedangkan Faiz sedang duduk di Sofa sambil mengecek beberapa pekerjaannya.


"Mas.. sebaiknya kamu mandi dulu" Ucap Amel sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk


"Sebentar sayang, sedikit lagi"


"Ih cepettan Mas, Fita udah nungguin aku di cafe"


"Lagian juga yang punya cafe itu kamu sayang, jadi nggak usah khawatir"


Amel menghampiri Faiz dan mencubit lengan Faiz


"Aww... Sakit sayang"


"Lagian kamu sih Mas.. Biarpun cafe itu punya aku tapi aku dan Fita itu biasanya on time"


Cup


Faiz memberi kecupan pada bibir Amel "Istriku kok sekarang bawel banget"


"Mesum"


"Sama istri sendirikan wajar"


Faiz kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meremas salah satu gundukan Amel kemudian berlari masuk kekamar mandi sebelum mendapat amukan dari istrinya.


Amel kemudian berteriak "Dasaarr suami Mesuuum"


Faiz hanya terkekeh mendengar teriakan istrinya, ini yang di rindukan oleh Faiz menjahili istrinya setiap hari.


Setelah mereka selesai, Faiz akhirnya mengantar Amel ke Cafe miliknya, disana Fita juga baru sampai di Cafe tersebut. Fita hendak masuk kedalam Cafe Amel lebih dulu memanggilnya.


"Fit" Teriak Amel yang baru keluar dari mobil


Fita kemudian menoleh dan melihat Amel berjalan ke arahnya "Astaga Mel gue kira lo nggak akan balik kesini lagi"


"Mana ada Fit.. Gue masih ingat kali balik kesini"


"Lagian lo kemana aja, 3 hari ini nggak ada kabar"


"Ceritanya panjang, masuk dul yuk nanti gue ceritain di ruangan" Kemudian Amel menoleh ke suaminya "Mas masuk yuk"


"Duluan aja sayang, aku terima telepon dulu dari Dafi" Ucap Faiz lalu mencium kening istrinya


Amel dan Fita kemudian masuk kedalam Cafe dan langsung masuk keruangannya. Fita kemudian duduk tidak lama ia begitu kaget melihat leher Amel dengan banyak kissmark.


"Astaga Mel, suami lo ganas banget. leher lo sampai merah - merah gitu"


Amel terkekeh "Namanya juga baru buka puasa Fit, asal lo tau beberapa hari ini gue di kurung di hotel habis itu digempur abis - abisan sampai badan gue kayak remuk banget"


Fita melototkan matanya "Serius lo Mel"


"Seriuslah... dan masih banyak tanda yang nggak lo liat dari tubuh gue"


Fita menggelengkan kepalanya "Tapi lo juga suka kan di gempur"


Amel terkekeh "Ya iyalah abis hukuman dari suami gue itu enak Fit, makanya nikah cepettan sama abang gue biar rasain yang namanya gempa bumi lokal"


"Idih siapa juga yang mau nikah sama kanebo itu, gue capek ama dia Mel kerjanya cuman ngegantungin orang"


"Sabar aja Fit, gue yakin abang Daffa itu cinta ama lo, cuman mungkin cara nunjukkinnya beda"


"Nggak usah bahas si kanebo itu ah. Oh iya lo tau nggak perusahaan si Galang di ambang ke hancuran, apa penyebabnya itu gara - gara masalah suami lo dengan galang"


"Nggak mungkinlah, hal sepele gitu suami gue sampai ngehancurin orang"


"Iya menurut lo masalah sepele, tapi menurut suami lo itu masalah besar apalagi menyangkut istrinya"


"Ahh gue nggak percaya kebetulan aja kali si galang kena musibah"


Amel dan Fita asik berbicara. Tiba - tiba Faiz masuk kedalam ruangan


Ceklek


"Sayang"


"Ehh suami lo udah datang, gue ke bawa dulu yah mau ngecek cafe" Ucap Fita


"Siap"


Fita kemudian beranjak keluar dari ruangan Amel


"Saya permisi dulu Tuan" Ucap Faiz


"Nggak usah panggil Tuan, karena sayan bukan Tuan mu , kamu itu sahabat istriku jadi panggil biasa aja, dan oh iya terima kasih sudah menjaga dan menyembunyikan istriku yah" Ucap Faiz sambil tersenyum


"Eehhh iyaa Kak" Ucap Fita sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Mas kok ngomongnya gitu sama Fita"Ucap Amel menghampiri kedua orang tersebut


"Ya udah gue keluar yah, Bye" Fita keluar dari ruangan dan meninggalkan sepasang suami istri tersebut. "Sial dia nyindir atau apa tadi bener- bener tuh yah suami bule setengah"


Sedangkan di dalam ruangan Faiz dan Amel tengah duduk di sofa bersantai.. Amel menyandarkan kepalanya di dada suaminya sedangkan Faiz memeluk istrinya sesekali mencium pucuk kepala Amel.


"Sayang besok kita pulang yah"


Amel menggeleng "Aku nyaman disini Mas, di sini kerjaan ku"


"Sayang kan kamu bisa pantai cafe dan juga klinik kamu di sana"


"Mas aja yang pulang, aku nggak mau" Ucap Amel lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang Faiz


"Sayang jangan seperti ini, kasian Dami di sana nggak ada yang bantuin"


Faiz menghela nafasnya "Sepertinya aku harus memaksamu pulang sayang dan memberikan hukuman lagi padamu"


"Mas.."


"Apa sayang, aku nggak mau tau pokoknya kita harus pulang, Mommy dan Mama sangat merindukan mu"


Amel kemudian melepaskan pelukannya "Mas apa Mama mau memaafkan aku, setelah aku pergi dan juga rahasia yang aku simpan"


Faiz mengelus rambut Amel "Kau tau sayang, mama lah orang yang paling bersalah atas semua ini, karena terus memojokkan mu masalah momongan"


"Maafkan aku Mas, aku buat kalian sedih" Ucap Amel yang meneteskan air matanya


"Hey sayang, jangan nangis.. aku nggak bisa liat kamu nangis begini" Ucap Faiz menghapus air mata Amel dan membawa Amel kedalam pelukannya "Kita perbaiki semuanya, kita pulang dan menemui mereka kamu mau kan???"


Amel mengangguk "Maaf Mas"


"Nggak Sayang, aku yang seharusnya minta maaf karena tidak jujur" Faiz melerai pelukannya kemudian mencium kening Amel "Jangan nangis yah, aku sakit liat kamu nangis seperti ini"


Amel mengangguk "Tapi sebelum kita pulang aku mau ke rumah ibu dulu Mas"


"Iya sayang aku akan menemani"


"Makasih Mas"


"Sama - sama aku mencintaimu"


"Aku juga mencintai mu Mas" Amel kembali tersenyum "Mas aku lapar"


"Ya udah biar aku suruh pelayan mu membawakan Bosnya makanan yah"


"Nggak usah Mas, nanti tinggal telepon aja Mas. Mas mau pesan apa??"


"Samain aja Sayang"


Cup


Faiz mencium bibir Amel.


Setelah memesan makanan. sambil menunggu makanannya datang, Amel kemudian menceritakan masalah galang pada Faiz


"Mas kamu tau nggak galang lagi di ambang ke bangkrutan"


"Nggak tau tuh dan nggak mau tau"


Amel memukul lengan suaminya "Ih Mas kamu yah"


"Lagian kamu malah bahas si brengsek itu, aku nggak suka sayang"


"Aku cuman kasi tau aja, atau jangan - jangan kamu yang hancurin perusahaan Galang??"


"Ihh enak aja, habis - habisin waktu aja urusin dia" Elak Faiz


"Ya kan nanya aja Mas, lagian setelah pertengkaran di cafe kemarin tiba -tiba aja Galang dapat masalah"


"Biarin biar tau rasa"


"Jadi beneran kamu Mas yang lakuin"


"Nggak lah"


"Serius Mas" Ucap Amel sambil memicingkan matanya pada Faiz


"Serius sayang, jangan nuduh suami tampan kamu ini"


"Awas yah kalau kamu sampai bohong sama aku Mas"


"Aku nggak bohong sayang"


*tok


tok*


"Maaf Mba makanannya"


"Oh iya masuk aja"


Ceklek


"Taruh dimana Mba"


"Di sana aja Dina" ucap Amel sambil menunjuk meja pojok dekat jendela


"Siap Mba" Dina langsung meletakkan makanan yang di pesan Amel


"Makasih yah Din"


"Sama - sama Mba.. Aku keluar yah Mba"


"Iya Din"


"Mas makan yuk" Ucap Amel menarik tangan Faiz


"Iya sayang, tapi suapin yah"


Amel mencubit pipi Amel gemas "Uhh, lama nggak ketemu kok suamiku manja banget"


"Harus dong, kan aku cinta kamu"


"Iya aku tau, ya udah nih makan" Ucap Amel