Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 142


Pulang jalan-jalan bersama Rio dan Mama Reni, Salsa istirahat sejenak sebelum bersiap-siap.


Jarum jam menunjukkan angka tujuh, satu jam lagi Azka akan datang menjemputnya.


Ia segera beranjak dari ranjangnya, kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu duduk di depan meja riasnya. Sedikit termenung memikirkan baju apa yang pas untuknya.


Ingin menyesuaikan dengan tempat yang bakal ia datangi, Salsa meraih ponselnya di atas nakas lalu mengirim pesan pada Azka.


For Azka: Aku nggak tau mau pakai baju apa, kita sebenarnya mau kemana?


Centang Dua


Centang dua biru


Typing


Salsa mengulum senyum, pacarnya memang selalu standbay, baru saja pesan terkirim, Azka langsung mengetik.


For Salsa: Di tempat terbuka, terserah kamu yang penting pakai jeans, soalnya aku jemput naik motor.


Setelah mendapat balasan dari Azka, barulah Salsa bersiap-siap memakai pakaian yang terlihat santai tapi sangat cantik dan pas di tubuhnya. Sentuhan terakhir ia memoles bibirnya dengan lip gloss.


"Anak Mama cantik banget. Nggak cape baru pulang, pergi lagi?" ucap Mama Reni saat melihat Salsa menuruni satu-persatu anak tangga.


"Nggak Ma, bentar lagi Azka jamput. Salsa izin sampai malam ya!" Mencium pungung tangan Mama Reni.


"Hati-hati sayang, salam sama Azka. Mama ke atas dulu ya." Mengecup kening putrinya sebelum beranjak.


Salsa hanya membalas dengan anggukan, berjalan keluar dari rumahnya. Ia memutuskan menunggu Azka di teras rumah. Di liriknya arloji di pergelangan tangannya, kurang lima menit jam delapan, sebentar lagi Azka akan datang.


Azka selalu datang tepat waktu sesuai yang di janjikan, itulah mengapa Salsa tidak ingin telat, atau ia akan mendapat julukan lelet dan suka molor dari Azka.


Baru saja akan beranjak, motor berwarna putih memasuki pekarangan rumahnya. Tentu saja itu bukan Azka, karena motor pacarnya berwarna merah.


"Rayhan?" beo Salsa.


"Malam ibu ketua," sapa Rayhan riang seperti biasa. Ia sudah mendapat semprot dari Azka. Namun tidak marah karena ketuanya memang seperti itu. "Azka nggak bisa jemput lo," lanjutnya.


"Kenapa?" Salsa mengernyit.


"Dia kecelakaan pas menuju kesini, makanya telat jemput," lirih Rayhan tanpa turun dari motornya.


"Ke-kecelakaan?" tanya Salsa tidak percaya, ia menutup mulutnya. Mata indahnya mulai berkaca-kaca. Orang yang sedari tadi ia tunggu ternyata kecelakaan, dan ia malah berburuk sangka pada Azka.


"Gue jemput lo buat bujuk dia. Dia nggak mau kerumah sakit, malah mau lanjutin balapan malam ini. Lo mau 'kan?"


Salsa mengusap air mata di sudut matanya, kemudian mengangguk. Azka selalu saja keras kepala dan tidak memikirkan kesehatan, padahal selalu repot tentang kesehatannya.


Selama perjalanan menuju entah kemana, air mata Salsa terus menetes memikirkan kondisi kekasihnya, hari yang seharusnya bahagia ia harus mendapat kabar buruk.


"Kita mau kemana Ray?" tanya Salsa dengan suara seraknya karena menangis.


"Di lapangan samping sirkuit," jawab Rayhan sedikit berteriak. "Gue nggak tau apa yang ada di pikiran Azka, udah tau tangannya habis cedera pakai ngeyel ikut balapan sebelum nemuin lo, jadi gini," omel Rayhan sakin kesalnya.


Tak ada sahutan lagi dari Salsa, hanya suara isakan yang terdengar di balik helm yang ia pakai. Ia takut Azka kembali terbaring di rumah sakit.


Salsa takut melihat luka, ia takut melihat darah. Dan beberapa bulan terakhir ia selalu berurusan dengan itu karena pacaran sama ketua geng motor. Jujur Salsa tertekan setiap kali melihat luka apa lagi merawatnya. Tapi apa boleh buat itu risikonya mencintai ketua geng motor.


"Lebih cepat Ray!" desak Salsa tak sabaran, ia mulai sesak.


...****************...