Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 106


"Arghhhh!" erang Salsa saat rambutnya di tarik sangat kasar entah yang keberapa. Ia mendongak dan mendapati kamera tengah mengarah padanya.


"Ayo katakan sesuatu!" perintah Leo.


Salsa mengeleng, ia tidak mungkin membiarkan Azka mengetahui keberadaanya, ia tidak ingin Azka terluka, sudah cukup selama ini ia merepotkan laki-laki itu.


"Arghhh ... udah Leo, bunuh aja gue, jangan nyiksa gini!" rintih Salsa dengan air mata terus mengalir, wajahnya tak lagi secerah saat ia tersenyum. Kini wajahnya di penuhi darah juga air mata, belum lagi pakaian yang ia kenakan.


***


Di tengah-tengah kegentingan yang terjadi di markas, ponsel Azka bergetar menandakan pesan masuk. Dengan sigap ia membukanya, dan mendapati no asing sedang mengirim video berdurasi setengah jam. Karena penasaran ia membukanya. Tangan Azka bergetar, gemuruh didada kian besar, rasa bersalah membuatnya tak berdaya.


Rayhan merebut ponsel ditangan Azka yang kini mematung.


"Njir, gue bilang juga apa, Leo pelakunya!" geram Rayhan dengan tangan terkepal.


Di dalam video itu Salsa tengah merintih kesakitan, berbeda dengan mulutnya yang selalu meneriakkan kata baik-baik saja.


"Lo nggak usah khawatir Ka, gue baik-baik aja .... Arghhh." Erang Salsa semakin manjadi, ketika Leo menamparnya tanpa perasaan.


Senyuman Salsa didalam Video itu membuat Azka tak kuasa untuk tak menetaskan air mata. Katakanlah ia cengeng, menangis diantara teman-teman yang lain.


"Jangan dengarkan apa kata Leo, dia nggak mungkin bunuh gue, jangan kesini pliss!" mohon Salsa. "Kalau lo sayang sama gue, jangan turuti permintaan Leo."


Plak


Mata Azka sontak terpejam tak sanggup lagi melihat penderitaan Salsa. Tanpa pikir panjang, ia menuruti permintaan Leo untuk pergi seorang diri ke lokasi yang telah di kirimkan Leo. Tak ada yang bisa menghentikan Azka, bahkan anggota lainnya berusaha mencegah, hingga kedatangan Keenan di ambang pintu bersama Rio menghentikan langkahnya.


"Gue tau lo khawatir, tapi pikirkan resikonya Ka!" peringatan Keenan. "Bukan cuma nyawa Salsa dalam bahaya, tapi lo juga." Keenan mencekal tangan Azka tak membiarkan sahabatnya itu pergi sebelum merencanakan sesuatu.


"Masuk lewat pintu arah jam tiga!" teriak Rio, karena jika Azka masuk lewat pintu arah jam 11 maka laki-laki itu akan menemukan jebakan.


Tak ada yang mengikuti Azka, mereka masih waras untuk tidak mengambil keputusan gegabah. Tatapan mereka tertuju pada Rio yang notabenenya wakil Wiltar, tetapi membocorkan rahasia gengnya sendiri.


"Gue nggak mihak kalian, tapi gue ingin Salsa bebas dengan selamat, lakukan sesuai arahan gue!" tekan Rio.


Anggota Avegas mundur, ketika Samuel menarik kerah baju Rio. "Punya jaminan apa lo, minta kita percaya? Bisa saja lo dalang dibalik semua ini!"


"Penggal kepala gue!" Yakin Rio.


Di sisi bumi lainnya, Azka berhasil menerobos bangunan kumuh sangat besar. Ia mengikuti perkataan Rio hingga bisa masuk tanpa bertemu siapapun. Ia membuka satu-satunya pintu yang ia temui dan mendapati Salsa tengah menunduk.


Mendengar suara decitan pintu, Salsa mendongak dan mendapati Azka. Ia segera mengeleng, tak nyuruh laki-laki itu mendekat. Di balik pintu lainnya Leo sedang menunggu kedatangan Azka.


Dibalik tubuhnya Ia mengerakkan tangan seakan mengatakan Leo ada diruangan itu. Salsa memejamkan mata saat Azka nekat menendang pintu sangat keras, hingga menimbulkan kegaduhan.


Saat itu juga Salsa jatuh tak sadarkan diri, dengan kondisi mengenaskan, terikat di kursi usang. Mulut yang di sumpal membuatnya susah untuk bernafas.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘


Oh iya dedek kali ini bawa novel buat kakak tersayang sambil nunggu Azka up