
Hari senin, neraka bagi semua siswa apa lagi jika harus upacara di bawah terik matahari, mendengarkan ocehan yang menurut mereka tidak berfaedah dari guru. Informasi yang selalu di ulang berkali-kali. Misalnya mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan dan mental karena sebentar lagi ujian ketulusan segera datang.
Kalau saja inti Avegas tahu usai upacara free kelas karena ada rapat guru, mereka tidak akan datang secepat ini berdiri di bawah terik matahati.
Mereka berpencar sesuai kegiatan masing-masing, tak ada yang tinggal di dalam kelas. Membuat Giani sebagai bendahara kelas kesusahan mencari ke lima cowok itu untuk membayar iyuran setiap minggunya.
"Nyebelin banget sih mereka. Ngakunya orang kaya, uang 20 ribu seminggu aja kalau nggak ditagih bakal lupa," gerutu Giani terus berjalan di koridor sekolah.
Pagi hari adalah waktu yang pas itu memalak teman sekolahnya yang kebanyakan anggota Avegas, karena di jam-jam seperti ini mereka belum mengunjungi kantin, jadi tidak ada alasan bagi mereka mengeluh tentang uang sudah habis.
Senyum Giani mengembang melihat Dito di ujung koridor bersama beberapa teman sekelas lainnya. "Dito!" panggilnya sedikit berlari, hingga rambut yang sedikit gelombang itu ikut bergerak.
"Rentenir kelas datang," guma Dito menghela nafas panjang. Ia mempunyai pinjaman satu bulan dan hari ini genap 5 minggu.
"Uang iyuran cepetan, atau gue laporin!" ancam Giani menegadahkan tangannya.
Dengan berat hati Dito menyerahkan selembar uang merah pada Giani. "Nyicil deh Gi, gue cuma bawa itu." Ia mencoba negosiasi.
"Jangan percaya Gi, Dito cuma bawa uang selembar? Dunia sedang tidak baik-baik saja." Ricky mengompori.
"Ok, Dito lunas." Giani mencentang nama Dito.
"Gue udah 'kan?" tanya Keenan si paling rajin membayar.
"Lo sama Samuel the best rajin binggo." Giani mengacungkan jempolnya.
"Gue ngutang 10 rb." Ricky menyerahkan selembar uang berwarna biru.
"Rayhan mana?"
"Cie nanyain my husband," goda Dito.
"Di UKS kayaknya. Gue yakin tuh anak paling banyak," tebak Ricky.
UKS?
Batin Giani bertanya-tanya, Ia memang tidak akur dengan Rayhan, tetapi mendengar laki-laki itu ada di UKS ia sendikit khawatir. Setelah sedikit mengobrol dengan teman sekelasnya, Giani melangkahkan kaki menuju UKS untuk memastikan Rayhan baik-baik saja.
Langkahnya berhenti sebelum mencapai pintu saat tak sengaja melihat bayangan Rayhan melalui jendela dengan tirai sedikit tersingkap. Dadanya bagai terhimpit bongkahan batu besar melihat adegan tak senonoh di dalam sana.
"Kenapa sesakit ini? Padahal gue nggak punya hubungan apa-apa dengannya," lirih Giani menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Bodoh!" Makinya pada diri sendiri. "Lo tau semua laki-laki sama saja, tapi kenapa lo harus baper dengan gombalan Rayhan, Giani? Belum cukup pelajaran yang lo terima dari ayah lo sendiri?" Giani terus memojokkan dirinya sendiri atas kesalahan yang baru saja ia buat dengan membuka hatinya untuk Rayhan.
Giani berlari menjauhi UKS dengan genangan air di pelupuk matanya. "Maaf, gue nggak segaja,", lirih Giani saat tak sengaja menabrak Azka dan Salsa.
"Giani kenapa?" tanya Salsa memandangi kepergian Giani.
"Tau," cuek Azka melanjutkan langkahnya dengan mengenggan tangan Salsa.
Sama halnya dengan Giani, Azka berhenti tepat di depan pintu UKS saat melihat sahabatnya melakukan hal tak senonoh di sekolah. Ia masuk tanpa mengatakan sepatah katapun, kemudian mengambil spidol yang kebetulan ada di atas meja. Spidol itu tepat mengenai kepala Ricky yang sedang menjelajahi leher gadis entah kelas berapa.
"Anjir beraninya lo ... Azka." Rayhan nyengir tanpa dosa, kalau saja orang lain yang melakukan itu, bisa di pastikan Rayhan akan mengamuk karena berani menganggu sarapannya.
Salsa bergidik ngeri mendengar ******* itu lolos dari mulut di bawah kungkungan Rayhan. Ia langsung menutup mata Azka, tak ingin Azka melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat
"Tutup mata!" perintah Salsa.
Dengan patuh Azka menutup matanya, dengan tangan mungil bertender di wajahnya. "Udah merasa hebat lo bisa mainin perempuan?" tanya Azka.
"Lo kayak nggak tau gue aja Ka, biasanya juga nggak ngelarang," jawab Rayhan.
"Gue nggak peduli lo mainin perempuan yang lo dapat dari jalanan Ray, tapi sekarang lo berbuat hal yang nggak seharusnya di sekolah. Lo tau seberapa tinggi harapan orang tua gadis itu sampai lo merusaknya? Lo nggak tau gimana perasaan saudara mereka tahu anaknya berbuat seperti itu di sekolah." Azka tiba-tiba menjadi ustad dadakan untuk Rayhan.
"Dia juga mau-mau aja."
Merasa malu dengan kakak tingkatnya, gadis itu merapikan seragam sekolahnya, kemudian meninggalkan UKS. Salsa juga melepaskan tangannya di wajah Azka, hingga laki-laki itu membuka mata dan menatap tajam pada Rayhan.
"Sekarang posisinya gue balik. Gimana kalau lo jadi keluarga si cewek. Misal Alana ... nggak, Alana nggak mungkin tergiur sama cowok modelan lo," sindir Azka, kali ini ketua Avegas itu benar-benar marah.
"Gimana perasaan lo, kalau Giani di gituan sama cowok lain? Lo pasti nggak suka. Gue nggak ngelarang lo main wanita, tapi tahu tempat dan target Ray. Lo bisa nyewa jala*ng di luar sana, jangan siswa nggak berdosa. Dia mau sama lo karena termakan gombalan sialan lo itu."
Azka menarik tangan Salsa keluar dari UKS setelah mengomel panjang lebar. Sebelum pergi Salsa menyempatkan menoleh pada Rayah yang terdiam, mungkin memikirkan semua perkataan Azka.
"Giani kayaknya liat lo tadi," ucap Salsa sebelum menghilang di balik pintu karena tarikan Azka.
...****************...