
Salsa dan Azka sampai di rumah hampir jam delapan malam, karena sebelum pulang ia jalan-jalan terlebih dahulu karena keinginan Salsa.
Gadis itu kini senyum-senyum sendiri di pinggir ranjang memperhatikan Azka yang baru saja selesai menunaikan kewajibannya. Baju kaos putih dengan sarung berwarna biru melilit di pingganya membuat laki-laki itu sangat tampan.
"Azka berheti dulu!" perintah Salsa saat Azka akan mendekatinya.
Ia mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan momen, tepat saat ia mengambil gambar, Azka memperbaikan rambutnya. Semua itu berhasil membuat jantung Salsa berpacu sangat hebat. Damage Azka seperti pangeran surga yang ada di film-film fantasi.
"Ngapain sih, kok mukanya merah gitu?" tanya Azka merebut ponsel Salsa, senyumnya mengembang melihat fotonya di sana.
"Kenapa nggak bilang, hm?" Azka menjawil hidung Salsa. Ikut duduk di samping sang istri lalu memeluknya dari samping.
Mengarahkan kamera depan untuk mengambil foto mereka berdua, dimana Azka membenamkan bibirnya di kening sang istri.
"Jadiin walpaper sekalian." Menyerahkan ponsel Salsa.
"Kebiasaan buat baper anak orang tak ekspresi," gerutu Salsa. Namun, Azka sudah menghilang di balik pintu.
Azka kembali membawa nampang berisi dua gelas susu, untuknya juga Salsa. Meletakkan di atas nakas, kemudian mencari obat sang istri di laci kedua. Tak lupa ia juga mengambil obatnya untuk di minum.
"Minum obat dulu!" Menyerahkan obat dan sebotol pada Salsa. Susu ia siapkan untuk Salsa sebelum tidur.
"Sal, ini apa?" tanya Azka saat mendapati sebuah pil di dalam kotak.
"Itu ... itu anu ... pil pencegah kehamilan," lirih Salsa.
"Oh, kirain obat baru kamu." Azka kembali menyimpan pil itu di tempatnya. Ia tidak masalah apa lagi marah, toh dokter Jesy memang menyarankan itu untuk sementara waktu.
"Datang bulan kamu udah selesai?"
"Belum, tapi dikit lagi, kayaknya besok udah bisa mandi wajib. Emang kenapa?"
"Suamiku!" panggil Salsa manja. "Ayo tidur, pengen di peluk." Ia merentangkan tangannya agar Azka segera menyusul naik ke ranjang.
Dengan senang hati, Azka mengikuti keinginan Sang istri. Tidur hanya alasan semata untuk mereka berdua.
Terlalu cepat mengurung diri di kamar. Namun, terlelap di atas jam 11 karena melakukan pemanasan sebelum tidur. Mungkin bagian bawah Salsa masih perawan, tapi tidak untuk bagian atas. Azka sudah mencicipi semuanya.
"Suka mancing kamu ya, awas aja besok. Siap-siap nggak masuk sekolah," bisik Azka membuat bulu kuduk Salsa meremang seketika.
Perlu di garis bawahi. Azka saat di luar dan didalam kamar sama-sama ganas walau dalam artian yang berbeda.
"Azka!" panggil Salsa menahan tangan Azka yang mulai menjelajah didalam piyama tidurnya.
"Hm."
"Itu sabung batangan di kamar mandi kok bolong tengahnya? Siapa yang gigit?" tanya Salsa.
"Di gigit tikus sayang, nanti aku buang," gumam Azka yang sedang bermain di leher Salsa.
"Bentuknya aneh," lirih Salsa. "Bentuknya kayak ... Hmmmpppphhhh." Kalimat Salsa tengelam karena sosoran tiba-tiba dari Azka.
Laki-laki itu tidak menyangka istrinya seteliti itu. Jangankan di kamar mandi, sepatu geser dikit aja dia tahu bahwa seseorang baru saja menyentuhnya. Apa semua anak dokter seperti itu? Terlalu peka terhadap sekitar. Sangat bersih dan rapi. Mungkin karena sedari kecil sudah terbiasa.
Keduanya larut dalam suasana panas yang Azka ciptakan. Semakin hari, tangan dan lidahnya semakin lihai bermain membuat Salsa kewalahan di buatnya.
Azka terlelap masih dengan posisi tangan berada antara dua melon milik Salsa.
...****************...