Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 168


Sarapan bersama dengan menu yang berbeda itulah yang di lakukan sepasang kekasih setelah berbaikan. Usai melewati angin badai yang menerjang hubungan mereka, keduanya semakin mesra, dan Azka semakin memperlihatkan perhatian dan kasih sayangnya.


"Aaaaa ...." Azka membuka mulutnya seperti akan menyuapi anak kecil.


"Udah Azka, aku udah kenyang," keluh Salsa.


"Dikit lagi semalam katanya mau nurut sama Mama. Perintah aku perintah Mama juga," paksa Azka.


Mau tidak mau Salsa kembali menelan bubur yang terasa hambar itu. Ia tidak berselera makan. Kalau saja bukan Mama Reni yang mengatakan Azka belum makan dari kemarin, mana mau Salsa makan, makanan rumah sakit. Terlebih makanan Azka sangat mengiurkan.


"Pintar." Azka mengusap kepala Salsa sembari tersenyum.


"Kamu kapan pulang? Bentar lagi sibuk persiapan ujian, jangan bolos mulu." Salsa menyandarkan tubuhnya pada pembaringan setelah Azka menyetelnya.


Laki-laki itu hanya menanggapi dengan senyuman. Kembali memakan sarapan yang belum sempat di habiskan karena menyuapi sang kekasih.


"Azka!"


"Lagi makan sayang, nggak baik ngomong mulu," sahut Azka.


"Oh iya lupa," cengir Salsa tanpa dosa.


Gadis itu memperhatikan setiap pergerakan Azka. Salsa merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung di cintai oleh seorang Azka. Laki-laki yang terkenal brandal tetapi selalu menjadi juara. Laki-laki nakal yang tau cara meratukan pasangannya.


"Mama dari tadi sibuk mulu mondar-mandir, emang kemana Ka?" celetuk Salsa saat Azka selesai makan dan malah memainkan jari-jarinya, di mana tersemat cincin lamaran Azka saat hari ulang tahunnya.


"Mama kamu dokter, ya kali nggak sibuk. Ini rumah sakit bukan kuburan," sahut Azka.


"Kok nyolot?" protes Salsa.


Azka menghiraukan protesan Salsa dan malah membahas hal lain. "Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita nikah," gumam Azka.


Uhuk


Salsa langsung keselek air liurnya sendiri, gumaman Azka begitu jelas di telinganya. "Jangan ngadi-ngadi Ka, kita masih sekolah!" sanggahnya.


Peduli seten akan tenggapan Salsa, Azka ingin mempercepat pernikahan mereka. Ia tidak keberatan walau melangsungkan pernikahan secara agama saja, nanti setelah lulus baru pesta.


Azka ingin menjadikan Salsa miliknya tanpa bisa di ambil lagi oleh orang lain. Bisa mengajaknya kemana-mana dan melakukan apa saja tanpa ada yang melarang.


Sementara Salsa yang di ajak nikah dadakan masih terdiam. Antara percaya dan tidak akan keinginan kekasihnya. Ia tidak tahu apa alasan Azka ngebet ingin menikah padahal masih sekolah.


"Nggak giti konsepnya Ka. Maksud aku, kita belum lulus sekolah. Sabar dikit lagi, sekitar 5 tahun kedepan. Setidaknya kita sarjanan dulu."


"Yakin bisa sampai sana? Kalau gue meninggal sebelum lima tahun itu gimana? Gue nggak mau mati sebelum milikin kamu," gerutu Azka mengigit jari kelingkin Salsa gemes.


"Azka! Mulutnya kok serem. Jangan bawa-bawa nyawa deh, aku nggak suka," protes Salsa. "Lagiakan kamu masih muda dan sehat."


"Umur nggak ada yang tau Sal. Pokoknya setelah kamu keluar dari rumah sakit kita nikah. Setelah keluar dari sini, kita kembali ke kota," ucap Azka tak terbantahkan.


"Alasan kamu mau cepat-cepat nikah apa? Emang untungnya apa?" tanya Salsa.


"Biar bisa jaga kamu 24 jam tanpa harus berpisah. Biar bisa meluk kamu pas tidur. Ada yang nemenin aku tidur di malam hari. Yang pasti kamu resmi jadi milik aku, dan semua orang harus tahu," jawab Azka. "Biar bisa nganu juga ...." gumam Azka hampir tidak terdengar.


"Otaknya mulai mesum ya pak," ledek Salsa.


"Mesum sama istri sendiri nggak dosa."


"Belum jadi istri sayang!" gemes Salsa.


"Tapi bentar lagi."


Azka beranjak dari duduknya, semakin mendekatkan wajahnya di wajah Salsa.


"Biar bisa ngelakuin ini tiap pagi tanpa nambah dosa," bisik Azka setelah mengecup bibir Salsa.


...****************...