Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Kendil Budha Dilecehkan


Bab 603 Kendil Buddha Dilecehkan


Ruangan pengadilan!


“Apa benar, yang dikatakan mu itu?” Ada Dewa yang sedang duduk di kursi emas, dengan tatapan yang serius sambil mengelus jenggot.


“Benar dewa Berita, aku sudah melihat akhir tragis dari Cu Liu Fan. Dia meninggal tersedak minuman teh,’’ balas dewa pencatat sambil tidak tahan untuk menahan rasa ingin tahu karena kematian Cu Liu Fan sedikit mengganjal dalam benaknya.


Bagaimanapun meninggal karena tersedak minuman teh, itu sungguh diluar penilaian. Bahkan jika dirinya tersedak hanya menggunakan jasa merit akan sembuh dengan cepat. Lagipula dibandingkan tersedak dengan ditusuk pisau masih sakitan ditusuk pisau.


Lantas kenapa Cu Liu Fan meninggal tersedak? Dewa pencatat masih belum percaya. Dia meminta ijin kepada Dewa Berita untuk keluar sebentar dan sosoknya berubah wujud menjadi kakek tua yang berwibawa dan menghilang sudah tiba di tempat dimana Cu Liu Fan sudah meninggal.


Apa yang membuat tidak percaya adalah, di tempat Cu Liu Fan meninggal masih ada bekas pertempuran yang mengguncang dunia, banyak pegunungan yang hancur.


Dewa pencatat hinggap dan menghampiri perkumpulan mahluk dan berpura-pura menanyakan kabar terhadap mahluk itu.


“Halo jika saya lancang, ngomong-ngomong ada apa ini? Saya melihat berbagai gunung dan pemandangan yang lain hancur lebur. Apakah ada pertempuran maha dahsyat?” Dewa pencatat berkat kepada pemuda yang sangat tampan, dan dia juga baru seumur hidup melihat pemuda yang sangat tampan melebihi Sang Dewa Ketampanan.


Long Fai yang tidak tahu bahwa kakek tua yang sedang berkata kepada dirinya adalah dewa pencatat, akhirnya berkata dengan sopan. “Kakek tua, saya juga tidak tahu, tapi ada pertempuran dewa yang sangat hebat. Dewa Cahaya telah meninggal hanya dicubit menggunakan tangan dari bocah berumur sepuluh tahun.”


Setelah mendengarkan penjelasan Long Fai, dewa pencatat semakin bingung, dia hanya merasa bahwa mata miliknya rusah dan sudah kehilangan fungsi.


Long Fai yang melihat keanehan dari kakek tua itu, seketika bingung dan berkata: “Kakek ada ala dengan wajahmu?" Setelah itu, Long Fai mengambil beberapa batu besar dan meraih pinggung dewa pencatat agar duduk sebentar.


“Tidak apa apa, kakek ini merasa semakin tua semakin pikun.” Dewa pencatat mencoba berdiri lagi dan berjalan meninggalkan Long Fai yang sedang bingung.


Setelah itu, Long Fai melirik orang-orang lain yang sedang memunguti daging Cu Liu Fan untuk dimakan. Penduduk sekitar percaya bahwa jika ada Dewa jatuh maupun monster tinggi yang ganas meninggal, maka mereka memakan daging tersebut agar supaya dia bisa menjadi dewa kedepannya.


Sungguh kepercayaan yang sia-sia!


Long Fai meninggalkan sekumpulan orang yang sedang memunguti daging Cu Liu Fan, sehingga baru menyadari bahw kakek tua itu sudah menghilang tanpa disadari.


“Dimana kah kakek tua itu? Dia menghilang sungguh sangat cepat?” Long Fai berkata kepada diri sendiri sambil menelusuri berbagai pemandangan yang sebenarnya sangat indah, dia meloncat ke pulau terapung yang lebih besar dan kebetulan ada kuil yang kosong.


Kuil itu tidak ada orang sedikitpun yang berlulu lalang, tapi Long Fai melihat bahwa kue tersebut sungguh sangat bagus bersih dan terawat. Jika kuil itu di bumi, akan sangat dikhawatirkan ditumpuki oleh rumputan karena tidak ada orang yang merawat.


Pada saat itu, ketika Long Fai sedang mengelilingi kue tersebut menemukan ada satu anak yang memiliki telinga kucing sambil duduk menyendiri.


Gadis kucing itu sungguh sangat lucu tetapi sepertinya dia sedang dalam keadaan galau. Long Fai yang melihat langsung mendekati dan menyapa, “Gadis, apakah kamu sedang baik-baik saja?”


“Hummm bukan urusan mu!” Gadis kucing melirik ke arah Long Fai, walaupun pada awalnya terkejut dengan ketampanan Long Fai tapi reaksinya menjadi seperti semula yaitu dingin.


“Gadis ini sungguh sangat jutek, kamu seperti itu terus, tidak akan memiliki teman lho,” ucap Long Fai sambil menjauh dan mencoba duduk di tempat yang mendung.


Gadis kucing itu matanya hanya menyipit dan tidak membalas perkataannya Long Fai.


Long Fai pun tidak apa-apa. Dia duduk sambil mengeluarkan artefak yang dimiliki oleh Cu Liu Fan. Dia sudah tahu bahwa artefak inilah yang membuat Cu Liu Fan melonjak dan menjadi dewa.


Begitu dibuka, aura yang sangat mengerikan sungguh memenuhi are kuil itu. Gadis kecil yang dingin melihat benda yang sedang digenggam Long Fai juga takut, karena aura itu membuat hati tidak nyaman dan seperti merasakan keberadaan Dewa akan datang.


Gadis kucing sudah membenci dewa, karena ibunya meninggal oleh Cu Liu Fan akibat paksaan yang menakutkan, sehingga muntah darah dan meninggal seketika.


Dia harus menghindari Long Fai, karena mungkin saja Long Fai akan membunuh dengan sebuah benda yang dipegang.


Long Fai tidak tahu akan masalah gadis kucing, dia hanya melihat artefak yang memiliki bentuk patung Budha tapi memiliki warna hitam dan memancarkan aura gelap sehingga karena tidak suka, Long Fai berniat mencokel permata di tengah-tengah patung Budha itu.


“Ahhh jangan bunuh aku! Aku adalah Artefak tertinggi, jika kamu membunuh aku, maka kamu akan menyesal. Dari kulihat, kamu hanyalah manusia biasa. Bagaimana jika kamu memberikan aku hidup, maka kamu akan aku bimbing menjadi dewa hanya dalam kurun waktu lima puluh tahun saja.” Artefak patung itu sungguh ketakutan.


“Sungguh membosankan, bahkan aku manusia biasa sudah membunuh dewa itu sendiri?" Long Fai mencibir langung mengikat patung hitam itu yang notabene adalah artefak patung dan seperti kendil sehingga Long Fai menggunakan artefak itu untuk mengisi air.


“Ahhh dasar manus laknat, aku adalah artefak tertinggi! Beraninya kamu menjadikan aku sebagai kendil biasa hah!” Artefak kendi Budha itu meledakkan kekuatan yang mengerikan, sehingga gadis kucing itu muntah darah dan hampir saja kehilangan nyawa.


Long Fai tentu saja melihat sehingga mengeluarkan pencokel dan mengancam, “Jika kamu tidak ingin mati, patuhlah!" Pencokel itu adalah belati kuku naga yang umurnya lebih tua daripada artefak kendil Bufan walaupun belati yang digunakan Long Fai belum memunculkan kesadaran spiritual.


“Ahhhh tidak! Belati itu! Ahh ampun jangan berani!" Artefak kendil Budha kesakitan dan merasakan kekuatan hampir hancur setelah belati itu hendak ingin mencokel sumber kehidupannya.


Bahkan dia ingin menangis kenapa manusia biasa seperti Long Fai memiliki senjata setingkat dirinya, ahh tidak lebih bagus daripada artefak kendil Budha.


“Jika kamu tidak ingin mati, maka diamlah!” Long Fai mengancam. Setelah kendil itu diikat pinggang beserta kipas dan seruling hitam, tiba-tiba Artefak kendil Budha merasakan bahwa didalamnya tiba-tiba terisi air entah keluar dari mana.


"Air ini!” Kendil itu berguman sendiri dia merasakan kekuatan bertambah kuat dan semakin kuat, dia tak tahu jenis air apa yang tiba-tiba muncul di dalam kendil tapi yang dia tahu, air itu tidak sederhana.


Long Fai mengangguk setelah artefak itu diam, kemudian Long Fai mendekati ke arah gadis kucing dan mencoba menolong. Tapi dia menghindar sambil ketakutan.


“Jangan mendekat, sejatinya dewa itu jahat tidak ada dewa yang baik!"


Long Fai bingung dengan kata-kata gadis kucing itu, ketika hendak berbicara tiba-tiba ada kakek tua yang sudah menatap ke arah dirinya.


“Kendil itu milikku! Kembalikan lah!" Dewa pencatat serakah ingin merebut kendil Long Fai.


“Hei kakek kamu ada di sini!” Long Fai berseru kagum.