Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Ternyata Ini Hanya Mimpi


Bab 256 Ternyata Ini Hanya Mimpi


Di malam hari yang sepi ini, hanya suara angin yang berderu-deru menghiasi gemerlapnya malam.


Gurun es yang membentang dari ufuk timur ke barat selatan ke utara, menjadikan wilayah ini yang sangat menyekamkan.


Bahkan di gurun es ini tidak ada berbagai jenis tumbuhan yang bertahan hidup hanya hamparan es dan hujan es yang selalu menemaninya setiap malam hari dan siang hari.


Bongkahan es yang menjulang tinggi seperti gedung pencakar langit, rintik-rintik hujan es yang berjatuhan terus-menerus, jika saja ini adalah di muka bumi maka orang yang memasuki langsung membeku secara instan.


Karena di dunia kultivator setidaknya fisik manusia memiliki tingkatan kebugaran yang paling bagus daripada di dunia bumi,


Namun meski begitu apakah ada yang secara sukarela tidur di hamparan gurun Es yang sangat dingin? Tentu saja jawabannya kebanyakan tidak bahkan tanpa berpikir langsung menolak.


Tentu saja berbeda dengan Long Fai dia yang memiliki baju sarjana dan ditambahkan kapsul selimut yang empuk dia tidur sangat nyaman di hamparan gurun Es.


Kasur kapsul itu dia tenun ketika di dunia artefak lantai dua pada waktu itu.


Bahkan tanpa disadari banyak monster beruang es yang begitu sangat kekar ingin memangsa Long Fai hidup-hidup, seketika ada sambaran petir yang mengenai beruang kutub itu sehingga hangus tanpa tersisa.


"Jeder!"


"Jeder!"


"Jeder!"


Banyak para monster-monster yang ingin memangsa hidup-hidup tapi akhirnya mati seketika dan daging paramoster itu berserakan dan membeku hingga menghilang karena tertimpa salju yang sangat lebat dari langit.


Sampai pada suatu saat ada monster berbentuk sapi yang sangat besar dua kali lipat dari tinggi beruang kutub. Namun monster sapi itu memiliki taring yang sampai panjangnya hampir menyentuh tanah, di punggungnya ada grigi yang sangat runcing dan tajam dia memiliki ekor yang sangat keras layaknya besi.


Monster sapi itu menatap ke arah Long Fai dengan Tatapan yang jahat bahkan mata itu menyala-nyala merah kedua lubang itu mengeluarkan asap seperti kereta uap.


Mulut monster sapi itu membuka sangat lebar untuk memangsa Long Fai hanya satu gigitan. namun tiba-tiba ada gemuruh Guntur yang langsung menyambar ke arah monster sapi itu.


"Jeder!"


"Bam!"


Seketika monster sapi itu langsung pecah dan menjadi berapa bagian dan berapa bagian monster sapi itu langsung membeku dengan kecepatan mata telanjang.


Otomatis daging yang berserakan itu langsung tertimbun oleh salju yang sangat deras turun dari langit.


Saat ini dia tidak menyadari bahwa banyak monster yang ingin memangsa dirinya tapi langsung mati oleh sambaran Guntur tanpa disadari.


"Grokk...grok...grok...!" Bunyi denguran yang begitu khas ketika Long Fai sedang tidur membuktikan bahwa dia sedang tertidur sangat nyenyak dan sangat pulas tanpa menyadari bahaya di sekitarnya.


Bahkan bukan hanya itu saja, ketika salju-salju itu berguguran jatuh ke tanah tiba-tiba ketika ingin menyentuh Long Fai seperti ada penghalang sehingga butiran salju itu menyingkir ke samping.


Tidak terasa, akhirnya 4 jam telah berlalu dan memasuki pagi hari. Hanya pagi hari namun, masih sedikit petang karena tertutup oleh salju salju yang menghiasi di langit.


Saat ini Long Fai bangun dia merentangkan badannya sambil menghela nafas lega.


Sambil cemberut dia bangun dari tidurnya dan menepuk pantatnya sambil menoleh ke kiri ke kanan.


“Hmmm ternyata ini sudah menjelang pagi saatnya aku menuju ke istana Phoenix Es.” Long Fai mengangguk kepalanya kemudian dia ngempeking-packing kapsul kasur dimasukkan ke dalam artefak penyimpanannya.


Setelah itu dia berjalan dengan tenang sembari melih pemandangan gunung es yang menjulang seperti gedung pencakar langit bahkan dari kejauhan ada kabut-kabut yang menghiasi pemandangannya. Dari sinilah dia melihat istana yang begitu megah yang di atasnya ada kerucutan es yang sudah membeku yang menjulang ke atas langit.


Istana ini sungguh sama megah seperti gunung Semeru yang sangat memukau Ketika anda melihat dari kejauhan.


~


~


~


#Istana Phoenix Es


Murong Ruyue, akhirnya terbangun dari tidurnya dia sungguh sangat berantakan dalam berpenampilan. Rambut itu tidak tertata rapi seperti kuntilanak, dan mata itu seperti mata panda sehingga membuktikan bahwa dia tidak nyenyak tidur.


Murong Ruyue berguling-guling dengan penuh kekhawatiran dia masih curiga apakah pemuda itu hanyalah pemuda yang memiliki nama yang sama, dan wajah yang sama, bukan pria yang dia cintai yang sudah meninggalkan?


Dia sungguh sangat khawatir karena dia ingin sekali menghapus rasa ini yang terdalam. Walaupun sangat menyusahkan untuk melupakan, tapi ketika sekarang dia melihat pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan pemuda yang dia cinta yang sudah meninggal pada waktu lalu itu.


Memikirkan itu mana mungkin dia bisa melupakannya terlebih lagi sekarang ada pemuda yang sangat mirip!


‘Brengsek!’ Murong Ruyue memarahi di dalam hatinya terus-menerus. Setelah Itu dia mencoba menstabilkan tubuhnya, mencoba merapikan rambut yang berserakan seperti kuntilanak dan mempercantik diri.


Setelah 1 jam merias sendiri, dia menjadi seperti semula lagi yaitu sangat cantik dan sangat menawan.


Dia keluar dari tempat tidurnya kebetulan melihat para murid-muridnya sedang berlatih. Di wilayah Phoenix es semuanya adalah tipe urat spiritual es dan elemen air.


Saat ini dia berjalan sangat tenang seperti pada umumnya. Namun apa yang tidak biasa dari adalah para murid bahkan Wang Roulan melihat Murong Ruyue memiliki wajah dengan mata panda.


Sehingga Wang Raolan yang melihat perilaku Murong Ruyue sepertinya ada jejak berkerut, karena merasa aneh dengan penguasa wilayah Phoenix yang memiliki kedinginan dan wajah tanpa ekspresi sekarang dia melihat bahwa Murong Ruyue seperti sedang tidak baik-baik saja.


‘Apa yang terjadi?’ Wang Roulan berkata dalam hati. kemudian dia mencoba mendekatinya dan ingin tahu apa yang sedang dipermasalahkan oleh Murong Ruyue.


“Tetua Ruyue sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, aku melihat dari wajahmu seperti mata panda.” Kata Wang Roulan berkata ringan.


“Hmm sebetulnya aku tadi malam tidak bisa terlelap tidur Aku memikirkan apa yang tidak harus dipikirkan.” Kata Murong Ruyue.


“Jika tetua Ruyue butuh teman curhat, aku bisa menjadi pendengar yang baik bagi kamu.” Wang Roulan mengangguk pelan.


Murong Ruyue menetap ke arah Wang Roulan, entah kenapa ketika kata-kata Wang Roulan didengar oleh dirinya seperti ada jejak sihir yang bisa meluluhkan hati sehingga, sepertinya dia melihat Wang Roulan menjadi enak di pandang.


Murong Ruyue menganggukan kepalanya kemudian berkata: “Hmm baiklah jika kamu ingin mendengar keluh kesah ku maka ayo.. kita pergi dari sini dan mencari tempat yang sepi.”


“Baiklah..” Wang Roulan tersenyum.