Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Iblis Berhati Budha


Bab 259. Iblis Berhati Budha


Long Fai setelah membunuh orang jahat tidak di kenal, dia langsung menatap kearah anak kecil yang masih ketakutan dan memiliki wajah yang sangat pucat karena ada pembunuhan di depan matanya.


Long Fai tersenyum kepada anak kecil itu. “Tenang aku tidak jahat, adik.. kamu tidak apa-apa?"


Adik kecil itu, menggelengkan kepalanya. Namun sekali lagi dia langsung mengangguk kepalanya.


Melihat perilaku anak kecil itu, Long Fai hanya tersenyum sopan lalu, meraih tangan anak kecil itu untuk menjauhkan jasad tanpa kepala agar situasi tidak bertambah buruk karena mual.


“Ok sekarang apakah sudah mending..?" Long Fai berkata lagi.


“Hmm!” Anak kecil itu hanya memganguk kemudian dia menoleh ke kiri dan ke kanan seseolah sedang mencari sesuatu.


Long Fai juga ingin tahu: “Adik apa yang sedang kamu cari?”


“Ibu...” Anak kecil itu berkata lirih.


Long Fai paham akhirnya dia menuntun adik kecil itu untuk mencari ibunya menurut penjelasan anak kecil itu orang tuanya masih dekat di sekitar sini.


Tidak membutuhkan berapa lama akhirnya tiba-tiba ada cerita yang melengking.


"Ahh...!"


Teriakan itu seketika terdengar oleh anak kecil langsung panik, sehingga anak kecil itu berlari ke arah sumber suara tersebut.


"Ibu..!" Kata anak kecil.


Long Fai mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah wanita paruh baya yang sedang disandera oleh pemuda dengan rambut seperti punk.


Dia sudah menduga bawah pemuda yang sedang menyandera wanita paruh baya Adalah Satu frekuensi dengan komplotan yang telah dia bunuh.


Long Fai mendekati anak kecil yang sedang panik sambil menatap ke arah wanita Purbaya terus-menerus. setelah itu dirinya berkata kepada pemuda yang memiliki rambut seperti punk seperti ini: “Kamu lebih baik lepaskan wanita itu jika tidak kamu akan mati.”


“Hahaha untuk melepaskan tidaklah mudah aku tahu kamu sudah membunuh rekanku brengsek..!” Pemuda berambut punk menetap ke arah Long Fai dengan tatapan yang sangat meremehkan.


“Ok baiklah baiklah baiklah kamu akan menemui ajalnya karena kamu sudah memilih seperti ini dan aku tidak kamu mempertanyakan lagi keselamatanmu.” Tanpa bertala-tele Long Fai mengangkat tangan kanannya seketika jari itu diarahkan kepada pemuda yang memiliki rambut punk.


Niat pedang langsung ditembakkan ke dalam otak pemuda dengan rambut punk. Seketika ada ledakan yang sangat menggelegar sampai otak-otak itu memuncat membasahi ke arah wanita paruh baya.


"Bam!"


Wanita paruh bayar yang sudah memiliki wajah pucat ketika melihat kepala orang yang sedang menyandera dirinya meledak dia pertama pucat wajahnya.


"Bug!"


Bahkan karena terlalu ngeri akhirnya dia terjatuh sambil ingin muntah. anak kecil itu setelah melihat pemuda yang sedang menyandera Ibunya sudah mati dia berlari untuk menghampiri ibunya.


“Ibu apakah kamu tidak apa-apa..!” Anak kecil itu memeluk erat sambil menangis tapi sayangnya wanita paruh baya itu masih tertegun di tempat karena kejadian yang mengerikan itu.


Long Fai paham akan situasi seperti itu dia langsung mendekati wanita purbaya langsung membawakan ke samping agar di jauhkan jasad tanpa kepala itu.


wanita paruh baya tersadar: “Ahh terima kasih Tuan telah menolongku jika tidak ada tuan, mungkin aku tetap melihat matahari.”


Long Fai berkata: “Tidak apa-apa aku adalah orang yang membela ketidakberdayaan. Jadi sepatutnya aku akan menolong ibu.”


"Baiklah karena kalian semua tidak apa-apa aku akan pamit pergi dari sini." Setelah itu Long Fai berjalan untuk mendekati Xiao Yun.


Kemudian berkata lagi: “Ayo Yuner kita melanjutkan acara kencan berdua mumpung masih ada waktu yang belum terlewatkan.”


“Hmmm baiklah.” Xiao Yun mengangguk sambil tersenyum melihat Long Fai yang berpose seperti pahlawan diam-diam dia, sangat bahagia karena pemuda ini yang sedang dicintai memilih rasa tanggung jawab kepada manusia yang tidak berdaya.


Long Fai yang ditatap terus-menerus oleh Xiao Yun akhirnya memalingkan wajahnya sambil berkata mengerutkan keningnya. “Aku tahu wajahku sangat tampan, tapi bisakah kamu tidak memandangku terus-menerus ini membuat aku tidak nyaman?"


"Bah.. kamu sungguh sangat narsis..” Xiao Yun terkece sambil menatap wajah Long Fai terus-menerus.


“Buktinya kamu selalu menatapku terus-menerus bukankah seperti itu?” Long Fai mengangkat bahu dan tidak berkata lagi.


Tapi Xiao Yun berkata sangat lembut: “Suami.. terima kasih karena telah menolong Para manusia yang sedang membutuhkan pertolongan jika tidak ada kamu mungkin dia sudah mati terlebih dahulu.”


“Tidak ada yang lebih atau buruk ketika orang itu sedang melakukan sesuatu. Tapi Kita sebagai manusia yang berakal harus tahu apa itu kebenaran apa itu kejahatan dan letak itulah kita bisa membedakan apakah dia iblis apakah dia manusia.” Long Fai tersenyum.


Xiao Yun tersenyum bercanda: “kata-katamu sungguh sangat manis, tapi ketika kamu membunuh manusia kamu seperti iblis yang sedang memangsa kelaparan.”


“Jangan di pikirkan Aku adalah iblis yang memiliki hati budha.” Long Fai menyringai.


Xiao Yun tersenyum kemudian berkata: “Bukan seperti itu, lebih tepatnya kamu adalah Naga yang memiliki hati kucing yang sangat imut."


Kata-kata Xiao Yun akhirnya membuat suasana hati Long Fai menjadi segar kembali. seketika dia meraih pinggang ramping milik Xiao Yun dan membisikkan kata-kata yang sangat lembut. “Kamu benar Yuner, menjadi jahat atau baik itu hanyalah masalah waktu tapi di hadapan orang yang dicintai atau orang yang penting bagiku itu, lain ceritanya. Jika kamu mengirim satu baskom air penuh kasih sayang kepada ku, maka aku akan memberikan satu baskom yang lebih besar.”


“Di hadapan orang yang penting, maka harus berhati lembut agar menumbuhkan rasa kenyamanan dan karma baik.”


“Karena kamu adalah orang yang terpenting bagiku, sepatutnya akan aku belai dengan penuh kasih sayang heheh.”


Xiao Yun terkekeh: “Kata-kata mu singguh manis sehingga aku tidak bisa menelan semuanya.”


Mereka berdua saling bercanda ria ketika sedang berjalan bersama-sama sambil melihat acara yang begitu meriah. sampai tiba suatu saat di keramaian yang sangat aneh dan melihat ada sebuah panggung pertunjukan.


Long Fai tentu saja melihat bahwa di pertunjukan panggung itu ada sebuah wanita yang sangat anggun sedang memainkan alat musik. Alat musik yang sangat merdu sedang didengar oleh para penonton.


Bukan hanya itu saja Xiao Yun yang melihat pertunjukan itu, juga diam-diam menatap dengan mata yang berbinar sehingga dirinya mempunyai ide.


Long Fai berkata: “Yuner, apakah kamu menyukai musik seperti ini?”


“Aku lumayan menyukainya dan tidak terlalu jelek.” Kata Xiao Yun sambil menganggukan kepalanya.


“Baiklah setelah wanita itu selesai aku akan memainkan lagu untukmu.” Kata Long Fai dengan nada lembut.


"Benarkah?" Tiba-tiba Xiao Yun menatap ke arah Long Fai dengan tatapan berbinar-binar.