Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Musuh Dalam Selimut


Bab 268 Musuh Dalam Selimut


Saat ini, Wang Roulan melihat perilaku Murong Ruyue yang semakin aneh dia hanya bisa mengerutkan keningnya.


Dalam hati, dirinya berkata apakah lukisan yang aku gambar memiliki efek ajaib seperti Long Fai? Terus terang gambar yang dirinya melukis tidak sebanding dan tidak sebaik milik Long Fai.


Tapi aneh saja dia bahkan curiga apakah karena dirinya di waktu jenuh, tanpa ada Long Fai dia menghabiskan waktunya bermain Guqin, catur, meminum teh, melukis kaligrafi, menyirami tanaman dan ada hal banyak lagi selain itu.


Jika seperti ini, bukan kah dirinya juga sudah tak terkalahkan?


Tanpa di sadari dia sudah sangat kuat berkat bantuan Long Fai. Maka dari itu, dia harus mendiseminasikan hidupnya untuk Long Fai jika tidak ada dia mungu Masin menjadi guru yang menyediakan.


Mengalihkan pikiran yang bahagia, akhirnya dia berkata kepada Murong Ruyue: “Tetua Ruyue, apakah ada sesuatu? Kenapa kamu memiliki expresi yang tidak wajar?”


Murong Ruyue, menoleh ke arah Wang Roulan. Dia sungguh rumit dalam hatinya. Dia sudah yakin bahwa suami Wang Roulan adalah renkarnasi dari pemuda yang dulu sudah meninggal.


Tapi untuk membuktikan bahwa suami dia sungguh tidak memiliki cara yang ampuh, bahkan Long Fai sendiri tidak mengenali dirinya.


‘Bagai mana ini apakah aku harus terus terang berkata kepada suami Roulan? Apakah aku yang berbicara kepada Roulan?’ Batin Murong Ruyue. Saat ini hatinya penuh badai salju yang penuh gejolak.


‘Tidak... aku harus tenang..’ Setelah itu, dia mencoba menstabilkan suasana yang bergejolak. Kemudian, menatap Wang Roulan seraya berkata: “Benar aku melihat pemuda sama persis yang berada di lukisan mu di pemandian air panas.”


“Maafkan aku Tetua Ruyue, ini adalah kebiasaan suami ku yang begitu sembrono dan tak tahu malu.” Wang Roulan sangat canggung.


“Tidak apa-apa jangan di pikirkan.. ohh iya suami mu berada di wilayah Es sendirian apakah tidak ada bahaya?” Murong Ruyue berkata.


“Tidak apa-apa Tetua Ruyue, suami ku bisa menjaga diri.. ” Kata Wang Roulan dia bahkan tidak mengkhawatirkan Long Fai di luar sana.


Apakah kamu bercanda? Bahkan Long Fai bisa memarahi petir itu sendri sehingga petir menjadi takut. Lalu apa yang harus perlu di takuti?


“Baiklah tidak ada lagi yang perlu kamu takuti, aku mungkin menebak bahwa sumai mu datang untuk menjenguk mu.” Kata Murong Ruyue.


“Sepertinya begitu.... ketika aku ingin berpamitan dia sudah berpesan setelah beberapa hari mendatang, dia akan menemukan aku.” Wang Roulan menjelaskan bahkan dia tidak sabar untuk menemuinya.


“Baiklah..mari kita tunggu.” Murong Ruyue tersenyum.


Melihat Tetua Ruyue yang tersenyum menawan, akhirnya Wang Roulan tersesat sejanak. Sudah dua kali dia melihat tetua Ruyue tersenyum kepada dirinya, bahkan menurut rumor dari para murid istana Phoenix Es pemimpi ini tidak pernah tersenyum. Sekarang dia melihat Tetua Ruyue tersenyum dua kali sehingga ini adalah berkah baginya. Bahkan dia sempat berpikir alangkah baiknya jika Murong Ruyue selalu tersenyum seperti ini.


Murong Ruyue juga berkata: “Ada apa.. Kenapa kamu menatapku seperti ini..”


Wang Roulan menggelengkan kepalanya: “Tidak apa.. aku hanya merasa ketika tetua Ruyue tersenyum, itu begitu memukau dan sangat anggun.”


“Kamu tidak perlu menyanjung, aku sudah kebal terhadap sanjungan.” Murong Ruyue seketika langsung seperti biasanya tanpa expresi.


“Ckckck..! Apakah aku semudah itu untuk di sanjung,” Murong Ruyue menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Kemudian dia berkata lagi kepada Wang Roulan: “Baik.. sekarang kamu boleh pergi meninggalkannya..”


“Baik...” Wang Roulan pergi meninggalkan tempat kamar Murong Ruyue. Ketika dia membuka pintu, tiba-tiba ada Su Xin yang sedang menunggu di depan luar pintu.


Otomatis Wang Roulan kaget karena berhadapan wajah sehingga dia berseru kepada Su Xin: “Ahh saudara Xin.. kamu mengagetkan ku..”


Tapi, expresi Su Xin masih tanpa ada jejak manusia dia masih dingin seperti biasanya.


Su Xin berkata: “Ini sangat tidak terduga, hanya membutuhkan berapa hari, kamu sudah bisa mengambil hati Tetua Ruyue. Dasar penjilat!”


Kata-kata penjilat membuat dirinya mengerutkan keningnya karena tidak senang.


Wang Roulan bertanya: “Apa magsudmu...”


Su Xin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Wang Roulan: “Kamu sungguh sangat pandai dalam mengambil hati Tetua Ruyue, sehingga kamu bisa pergi masuk ke kamar Tetua Ruyue. Padahal di Bandingkan dengan basis kultivasinya kamu dan aku kamu tidak ada apa-apanya, tapi entah kenapa tetua Ruyue menunjukkan kamu sebagai penerus wilayah ini.”


Dalam hati Su Xin dia sebenarnya merasa tidak senang dan sekaligus iri karena dia ingin sekali menjadi penerus wilayah Phoenix Es ini. Dengan berlatih sangat giat, dia akhirnya menjadi kepercayaan Murong Ruyue.


Setelah menjadi kepercayaan bagi Murong Ruyue, dia selalu mendapatkan tugas hal yang penting dan tidak penting.


Dan karena alasan inilah dia percaya bahwa jika suatu saat, Murong Ruyue ingin turun dari tahta dia akan menjadi penguasa generasi selanjutnya.


Ketika anda menjadi penguasa anda akan bebas melakukan hal sesuatu seperti layaknya sang penguasa pada umumnya.


Namun kenyataannya apa yang dia harapkan tidak sesuai kenyataan, pada akhirnya dia tidak di tunjuk sebagai generasi penerus selanjutnya, malahan Murong Ruyue menunjukkan penerus yang asalnya tidak di ketahui di dunia paling bawah yaitu dunia Tongtian.


Walaupun dia memiliki paras yang sangat cantik, tapi di bandingkan dengan basis kultivasi dirinya dengan Wang Raolan sangat terpaut jauh, bahkan tidak di pungkiri bahwa semua murid di istana Phoenix es hanya Wang Raolan yang memiliki basis kultivasi yang paling dasar.


Karena inilah dia sangat marah dan tidak bisa habis pikir apa yang Murong Ruyue di pikirkan sehingga menunjukkan Wang Roulan sebagai penerus berikutnya.


“Niat baik, maka akan di balas niat baik. Aku menabur kebaikan kepada Tetua Ruyue semata mata tidak ada niat lain selain kebaikan.” Kata Wang Raolan berkata dengan satu tarikan nafas.


“Apakah aku percaya padamu.. aku tahu kamu sedang menjilat kepada Tetua Ruyue agar mendapatkan hatinya.” Kata Su Xin dalam kata-katanya ada jejak kebencian namun masih tertutup rapat.


Wang Roulan menggelengkan kepalanya. Setelah itu berkata lagi.


“Ada pepatah kuno yang mengatakan tempat yang paling aman adalah tempat yang paling rentan bahaya. Ini sama persis yang sedang aku lihat di depan mata sendiri, orang yang terdekat adalah musuh dalam selimut.”


“Kamu bajingan...!!” Su Xin marah.