Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Lin Kun Menangis


Bab 360 Lin Kun Menangis


“Jika Lanlan mengetahui, kamu tidak perlu takut, aku akan mengatakan yang sebenarnya,” ucap Long Fai dia bersikap tegar, namun sayangnya hatinya sungguh sangat panik.


“Bisa-bisanya kamu bersikap tenang, bajingan kamu dasar mesum!” Murong Ruyue mencoba melepaskan pelukan Long Fai.


Setelah melepas dari pelukan Long Fai, dia menyadari bahwa tubuhnya telanjang bulat sehingga seutuhnya terlihat oleh mata Long Fai.


Murong Ruyue otomatis menutup bagian gunung menggunan kedua tangannya.


Long Fai yang melihat semua ini, tidak bisa menahan menghela nafas, “Apa yang kamu tutupi? Sedangkan kita sudah saling melekat,”


“Brengsek! Itu beda cerita ketika kamu melakukan sesuatu itu dimalam hari!" Murong Ruyue memelototi Long Fai.


Saat ini Long Fai hanya menghela nafas panjang, dia juga terlalu bersemangat sehingga langsung menerkam terlepas apakah dia Wang Roulan atau bukan, alhasil sekarang dirinya menerkam orang yang salah.


Setelah melihat Murong Ruyue yang sedang memakai baju lagi, dia juga langsung berdiri untuk memakai baju juga.


Long Fai mendekati Murong Ruyue langsung meraih rambut yang terurai langsung dia Ikat seperti sanggul. Long Fai setelah itu langsung mengeluarkan jepit rambut Phoenix merah dan dipasang sehingga tempramen Murong Ruyue seperti jiwa dewasa yang siap melahirkan.


Murong Ruyue juga tidak memberontak, dia sudah pasrah menjadi wanita Long Fai sehingga ketika rambut itu dirapikan hanya berdiam saja.


Long Fai memeluk Murong Ruyue dari belakang sehingga tubuhnya bergetar sedikit karena kaget, tapi setelah itu Murong Ruyue melihat bahwa Long Fai sedang mengelus-ngelus perutnya akhirnya berkata karena bingung.


“Apa yang sedang kamu lakukan, jangan memegang perutku ini tidak nyaman,” kata Murong Ruyue mengerutkan keningnya.


Long Fai hanya membalas, “Jaga anak ini, dan rawatlah! Oh iya dimanakah Wang Roulan kenapa kamu di dalam kamarnya?”


Murong Ruyue mendengar kata-kata anak ada sedikit rona yang samar di kedua pipinya, lalu menjawab, “Wang Roulan sedang pergi ke tempat dimana kamu memberikan sebuah alamat Xiao Yun berada, dia sudah beberapa hari belum datang kemari, karena alasan itulah aku sengaja masuk ke kamarnya mencoba melihat sesuatu tapi tidak aku sangka kamu sangat sembrono.”


Long Fai tidak bisa menahan cemberut, “Jika kamu tidak berada di kamar ini, tidak ada hal yang seperti itu, baiklah penyesalan tidak perlu disesali sekarang hanya menjalani apa yang telah terjadi.”


“Jaga anak ini, aku akan pergi lagi untuk keperluan sesuatu,”


Murong Ruyue tidak menjawab tapi, Long Fai sudah hilang di tempat kamar ini. Begitu Murong Ruyue ingin berkata, tiba-tiba sosok Long Fai sudah tidak ada.


Memikirkan kejadian malam ini, dia sepertinya sedang merasakan ilusi. Tapi melihat di kasur tersebut masih ada cairan kental yang membasahi dia sendiri tidak bisa menyangkal bahwa apa yang telah terjadi pada malam itu, adalah nyata.


Murong Ruyue mendekati kasur tersebut langsung memukul-mukul sambil bertingkah seperti anak kecil, “Bajingan kamu Long Fai! Dasar mesum, setelah melecehkan ku kamu pergi!”


"Sial! Sial kamu Long Fai ahhhh!” Raut wajah Murong Ruyue sungguh tersipu seperti apel matang.


Kemudian setelah memukul kasur tersebut, dia berguling-guling di tempat itu juga dan tingkahnya sungguh menggemaskan.


Setelah beberapa nafas, Murong Ruyue menatap kosong dan mengelus perutnya, “Anak yang di dalam perut ini adalah benih Long Fai dan aku? Apa kata Wang Roulan jika mengetahui perutku semakin hati membesar?”


Murong Ruyue bingung, dan mengingat kejadian itu lagi langsung mengutuk Long Fai sangat keras.


”Bajingan kamu Long Fai! Kamu mesum! Mesum!"


Di kutuk terus menerus oleh Murong Ruyue, Long Fai yang sudah tiba dia toko kelontong bersin tak terkendali.


~


~


~


#Di Tempat lain.


Kini sebelum mencari monster kualitas tinggi, Lin Kun mempelajari beberapa perilaku monster untuk ditiru dan dijadikan sebuah jurus.


Penemuan ini sungguh sangat memukau karena sangat mustahil ada jurus seni bela diri hanya mengandalkan meniru perilaku hewan tersebut.


Kemudian Lin Kun juga tidak pernah lupa setiap saat mengingat teknik menjinakkan binatang.


Di semak-semak yang belukar, Lin Kun sedang mengamati perilaku Kata tersebut. Setelah beberapa saat Lin Kun mempermalukanku dan mencoba melompat.


"Sikat!"


"Ahahaha! Ini berhasil,” tawa Lin Kun yang sepertinya sungguh bahagia karena sungguh membahagiakan.


Dengan semangat akhirnya Lin Kun melompat-lompat dari pohon satu kesatunya lagi sangat cepat.


Ketika sedang melompat tidak sengaja ada monster burung elang raksasa yang sedang terbang.


“Burung raksasa bagus juga ini setidaknya akan lebih baik daripada kembali ke toko tidak membawakan sesuatu," guman Lin Kun setelah itu, tanpa basa-basi langsung melompat untuk menyerang monster burung tersebut.


"Sikat!"


"Swosh!"


Lin Kun melompat dan kedua tangan memperaktekan seperti cakar kaki ayam jago.


Pergerakan Lin Kun yang secara tiba-tiba di samping monster burung tersebut akhirnya, monster burung itu ingin mengepak sayapnya agar Lin Kun terhampar terjatuh.


Sayangnya Lin Kun tidak terpengaruh dan bisa menghindari kepakan sayap tersebut langsung mencakar monster burung itu sehingga kepalanya terputus menjadi dua.


"Sring!"


“Monster jelek saatnya daging mu digunakan untuk masakan hahaha!” Lin Kun tertawa terbahak-bahak setelah itu, langsung menendang burung raksasa sehingga terjatuh ke tanah.


"Swosh!"


“Bom!"


Tubuh monster burung tanpa kepala kejang-kejang di tanah, tanpa peduli Lin Kun langsung meraih dan tubuh monster tersebut dibawa ke tempat toko Long Fai.


Lin Kun memukul monster itu dan terbang sangat cepat untuk kembali ke toko kelontong.


Satu batang dupa berlalu, akhirnya Lin Kun sudah tiba di toko tersebut dan menjatuhkan monster burung itu di tanah sehingga Long Fai tiba-tiba terkaget.


“Hmmmm apakah Lin Kun sudah kembali?” Long Fai kemudian pergi ke luar toko dan melihat bahwa ada master burung berukuran raksasa yang tergeletak dihadapan toko.


Long Fai melirik Lin Kun, “Lin Kun kamu telah membawa monster burung yang cukup besar ini setidaknya bisa digunakan untuk 4 hari menjadi hidangan.”


“Setelah berburu kemudian kamu rebuslah beberapa air yang besar dengan kayu bakar yang cukup banyak,”


“Baik Tuan!”


Lin Kun bergegas untuk ke belakang toko tersebut Tapi sebelum mengumpulkan kayu bakar dia pergi ke tempat ternak.


Tiba-tiba Lin Kun berlari langsung memeluk beberapa unggas kecil seperti ayam bebek sambil menangis. Walaupun hewan itu mencakar-cakar wajah Lin Kun, tapi sepertinya dia tidak mempermasalahkan.


“Uuuuu! Terimakasih ayam bebek dan semuanya karena kamu telah mengajari jurus-jurus perilaku hewan!” Lin Kun berkata sambil mencium ayam dan hewan lainnya.