Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Tidak Patuh Mati


Bab 371 Tidak Patu Mati


Shi Batian telah dipegang bahunya oleh Song Chufeng, akhirnya menoleh langsung penuh amarah dia meraih tangan kanan Song Chufeng hendak menarik dan membanting. Akan tetapi, tarikan itu sepertinya sedang menarik penjepit besi raksasa yang sangat sulit dicabut, malahan dia sendiri yang dipegang bahunya langsung terjatuh tersungkur sambil berlutut.


"Crack!"


“Ahhhh bahuku patah!”


"Bug!"


Shi Batian menjerit seperti babi yang ingin disembelih, Song Chufeng kemudian langsung menendang Shi Batian tanpa ampun tanpa membutuhkan jeda sama sekali.


"Bak!"


"Swosh!"


Ditendang oleh Song Chufeng, Shi Batian langsung meluncur sangat jauh sekitar 20 meter dari hadapannya.


Huang Chen langsung jelek wajahnya, dia tidak mengira bahwa pria tua tersebut, sungguh sangat memiliki kekuatan yang dahsyat. Dia melirik ke arah ketiga wanita tersebut yang masih terpaku di tempat.


“Kalian di belakangku agar aman!” pekik Huang Chen kemudian langsung melanjutkan lagi perkataannya, “Pria tua kamu berani sekali kepada kami! Apakah kamu tidak tahu siapa kami hah?!”


“Siapa kamu aku tidak peduli kamu harus mengambil benih-benih yang berjatuhan tersebut jika tidak maka kamu nasibnya seperti dia, cepat!” Song Chufeng berteriak, dia sungguh sangat tidak terima jika barang-barang yang diberikan oleh Long Fai diusik oleh orang yang tidak tahu malu dan dihambur-hamburkan.


“Kamu!” Huang Chen memarahi mulutnya kemudian langsung menyerang Song Chufeng tanpa pikir panjang.


Huang Chen mengeluarkan cambuk yang sangat panjang terbuat dari serat bulu sutra dengan campuran besi. Bahkan, cambuk tersebut, memiliki efek magis yang menyala-nyala.


"Swosh!"


Cambuk itu, meluncur sangat cepat untuk mengenai Song Chufeng. Akan tetapi, tiba-tiba Song Chufeng dari kendil tersebut mengeluarkan cahaya merah langsung berubah menjadi Susano yang berbentuk tangan langsung memegang cambuk tersebut.


"Swosh!"


Susano bentuk tangan merah itu langsung memegang cambuk milik Huang Chen dan menarik ke depan sehingga langsung ditangkap menggunakan tangan Song Chufeng.


Setelah menangkap Huang Chen, Song Chufeng langsung meninju perut itu menggunakan tangan kiri sehingga akibat tinju tersebut, Haung Chen langsung muntah darah sangat banyak dan sosoknya juga meluncur sangat jauh.


Song Chufeng melihat ketiga wanita yang masih terpaku karena ketakutan dan melirik secara sekilas tapi ada jejak ancaman nyata dari Song Chufeng.


“Gadis yang baik, Jika kamu masih menghargai kulit yang putih itu, maka menurutlah kepada Paman ini. Ambillah beberapa benih biji yang tumpah di tanah, dan kumpulkan ke karung kecil ini, apakah kamu paham?” kata Song Chufeng menatap ketiga wanita tersebut dengan tatapan main-main seseolah dirinya adalah hewan buas yang siap kapan saja untuk menerkam.


Ditatap seperti hewan buas, ketiga wanita tersebut langsung merinding dia tidak berkutik sama sekali. Untuk melawan, dia sudah yakin tidak bisa mengalahkan Song Chufeng, dengan alasan; kekuatan mereka ketika tidak bisa disandingkan dengan Shi Batian dan Huang Chen.


Sekarang mereka bertiga melihat Huang Chen dan Shi Batian dihajar habis-habisan oleh Song Chufeng mereka semuanya hanya putus asa menuruti apa yang dia inginkan selagi nyawa mereka tidak terancam.


Shi Batian terlempar jauh langsung terbang melesat untuk menyerang lagi, tanpa memperdulikan bahunya yang saudara.


“Ahhh! Bajingan tua! Apakah kamu tahu bahwa kita adalah berasal dari Sekte Teratai Salju, bagaimanapu Sekte kita tidak mudah dipusingkan oleh seseorang yang seperti kalian, ahhh! Pria tua mati kamu!”


Tubuh Shi Batian diselimuti oleh api yang mengamuk dan berbentuk singa yang sangat buas langsung mencakar tubuh Song Chufeng, dan mencabik-cabik hingga tewas.


Akan tetapi, reaksi Song Chufeng menganggap serangan itu hanyalah serangan yang sangat mudah dipatahkan, hanya mengeluarkan kail pancing tiba-tiba senar tersebut langsung terbang menusuk tubuh Shi Batian.


"Sring!"


"Puf!"


“Engah!


Shi Batian seketika tewas akibat tali pancing itu yang menusuk ke dalam jiwanya bahkan merampok semua jurus-jurus yang telah dikembangkan sejak lama.


Ketiga wanita tersebut melihat rekannya meninggal dengan tragis akhirnya langsung terjatuh makan ketika orang itu sampai kencing di celana akibat rasa takut yang baru pertama kali lihat.


Song Chufeng tahu ketiga wanita itu ketakutan akhirnya, berkata penuh arti. “Lihatlah! Apakah kalian ini tahu akibat dari tidak mematuhi apa yang aku katakan? Lihatlah dengan seksama.”


“Tuan! Ampuni kami, kami tidak tahu kebesaran langit yang luas ini sehingga kami buta! Aku berjanji kepada Tuan tidak akan begitu sembrono selagi Tuan mengampuni ketiga nyawa kami!” Semua wanita langsung berucap dan berlutut dia sangat khawatir dengan keselamatan nyawanya.


Song Chufeng tersenyum, “Karena kalian mematuhi apa yang aku katakan kehidupan nyawamu terjamin tapi juga tidak tahu aku harus berkata terlebih dahulu kepada Tuanku.”


"Tuan?”


Mereka bertiga kaget serempak karena Pria tua yang ada di depannya sudah sangat kuat tapi masih memiliki Tuan, jika bawahan saja sangat kuat seperti itu bukankah atasannya lebih kuat dan sangat menakutkan?


Mereka yang sudah berhenti mengompol setelah mengingat bagaimana keganasan tuan dari pria tua tersebut, akhirnya mengpol lagi karena ketakutan dengan nyawanya yang terancam.


“Hahah kalian tahu gadis, Tuanku sangat Fierce jika kamu melihatnya mungkin akan terkejut karena Tuanku sungguh sangat Agung.” Song Chufeng menepuk-nepuk dadanya seperti kingkong begitu bangga mempunyai Raja yang sangat kuat dan mendominasi.


Ketiga wanita itu saling memandang sepertinya Pria tua yang berada di hadapannya memiliki kekuatan yang sangat kuat dia juga memiliki sifat yang narsis.


Tetapi untuk mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat narsis itu sungguh tidak berani bisa-bisa kehidupan tamat dan naas.


“Hmmm tanah di sini sungguh sangat luas mungkin jika tuan meminta merekrut pekerja tiga orang lagi sudah cukup?” Song Chufeng berkuman terus-menerus sambil menatap ketiga wanita tersebut mungkin saja jika wanita itu semuanya membantu dirinya kecepatan menanam dan mencangkul akan lebih efisien.


Song Chufeng kemudian berkata lagi. “Kalian jika tidak ingin mati bantulah aku untuk menanam hutan yang gundul ini dan taman ini bertugas untuk mencangkul apakah kalian mau?”


Tentu saja ketika wanita itu tidak bisa dan akhirnya menerima sangat enggan karena demi keamanan nyawa, jika Anda tidak mematuhi mungkin saja, Anda langsung tewas.


Dengan lapang dada mereka bertiga mematuhi keinginan dari Song Chufeng. Sementara itu Huang Chen yang terpental sangat jauh melihat satu rekan tewas, akhirnya mundur melarikan diri secepatnya dan melapor kepada sekte atasannya untuk menangani masalah ini bahwa di hutan yang luas di pinggiran kerajaan Naga Yama, ada seseorang yang sangat kuat.