Seni Naga Kuno Taiko

Seni Naga Kuno Taiko
Kelima Orang Sembrono


Bab 371 Kelima Orang Sembrono


Di pinggiran hutan gundul yang luas, masih terdapat beberapa hutan yang masih menjulang tinggi dan sangat lebat.


Di atas hutan-hutan tersebut, tiba-tiba ada beberapa Pemuda dan Pemudi yang memakai seragam, mereka semuanya sepertinya sedang mencari sesuatu.


Kelompok mereka ada kurang lebih beranggotakan lima.


Kelima orang tersebut, memiliki dua pria dan tiga Wanita. Sepertinya, mereka semua sedang mencari sesuatu begitu sangat serius.


Benar, mereka adalah murid dari sekte Teratai Salju yang sedang mencari monster burung yang telah lama tidak kembali sekitar dua hari yang lalu.


Walau monster burung tersebut memiliki sifat yang ganas dan tidak ramah kepada orang yang mengenali, tapi untuk di pihak sekte Teratai Salju burung tersebut tidak terlalu menyerang jika tidak ada penyebab lain.


Monster burung tersebut adalah simbol dari sekte tersebut. Akan tetapi, monster burung yang memiliki lebar seperti pesawat helikopter, dan sayapnya seperti dua kali daripada panjang helikopter tersebut, tiba-tiba pergi ke hutan dan tidak pernah kembali lagi.


Pihak Sekte Teratai Salju sungguh sangat khawatir, jika monster burung tersebut membuat ulah dan membahayakan orang yang sedang berpetualangan di hutan.


Kekuatan monster burung raksasa tersebut tidak ada tandingannya, dan pihak Sekte tersebut juga mempercayainya.


Namun, pihak sekte tidak mengetahui bahwa master burung raksasa itu, sekarang sedang direbus dan dibuang bulu-bulunya untuk dihidangkan dan dijual oleh toko milik Long Fai.


“Hmmm, kita sudah mencari dari berbagai tempat yang disenangi monster burung raksasa tersebut, akan tetapi tidak menemukan hasil.”


“Yah, bagaimanapun monster burung raksasa tersebut adalah burung yang kuat aku khawatir jika melukai orang-orang yang tidak bersalah.”


“Hmmm!”


kedua orang itu berkata satu sama lain, sedangkan ketiganya lagi dia mengangguk secara bersamaan.


Walaupun dalam pernyataan mereka berlima bahwa burung tersebut khawatir melukai orang-orang yang tidak bersalah, tetapi tidak sepenuhnya merasa khawatir.


Karena dunia kultivasi adalah dunia kejam. Mereka tidak peduli dengan kehidupan orang lain bahkan pihak sekte tersebut, merasa bangga jika monster burung raksasa, bisa membunuh para praktisi dari monster dan manusia.


Semakin tinggi kepupolaran dari monster burung raksasa membunuh para praktisi, maka semakin tinggi juga popularitas sekte Teratai Salju tersebut sehingga semakin disegani.


Bukan hanya itu saja mereka berlima mencari burung raksasa, sepenuhnya tidak terlalu serius dia pergi hanya berjalan-jalan saja.


Sampai pada suatu saat mereka berlima Akhirnya sampai di sebuah hutan yang sudah rusak. Hanya menyisakan beberapa pepohonan yang sudah usang dan gundul.


Dari kejauhan mereka berlima melihat sosok pria tua yang sedang mencangkul tanah yang sudah gundul.


“Lihat, di sebuah kejauhan ada satu Pria tua yang sedang mencangkul tanah tersebut, mari kita bertanya apakah dia pernah melihat monster burung tersebut,” tanya salah satu kelompok yang berlima.


“Baik!”


Keempat lainnya langsung terbang mengikuti kelompok yang di depannya untuk menanyakan kepada pria tua tersebut yang sedang mencangkuli tanah.


Kelima kelompok, sudah tiba di hadapan Pria tua yang sedang mencangkul sekitar sepuluh langkah.


Dari kelima kelompok orang yang bernama Huang Chen berkata dengan tenang.


Huang Chen menjelaskan spesifiknya bentuk dari monster burung kepada Song Chufeng.


Tiba-tiba Song Chufeng mengerutkan keningnya karena burung yang diceritakan oleh kelompok


pemuda tersebut, sepertinya sama persis burung yang sedang direbus oleh Lin Kun.


Sementara itu Song Chufeng hanya mengatakan yang sebenarnya kepada mereka semua.


“Adik, sepertinya Paman ini pernah melihat burung yang kalian sebutkan.” ujarnya.


Sontak mereka semuanya langsung menatap ke arah Song Chufeng dan Huang Chen langsung berkata secara tergesa-gesa.


“Baik paman, bisakah Paman menunjukkan Di mana tempat burung itu ditemukan?” tanya Huang Chen kepada Song Chufeng.


“Hmmm burung itu aku melihat? Kalau tidak salah, burung tersebut sedang direbus oleh temanku di toko itu,” jawab Song Chufeng kepada Huang Chen dan tangannya juga menunjuk ke arah toko Long Fai berada.


Kelima orang itu langsung ingin terjatuh karena apa yang diharapkan, atau jawaban yang diinginkan, tidak sesuai kenyataan. Bagaimana mungkin burung yang sangat galak dan perkasa akan begitu mudah direbus oleh teman dari pria tua tersebut, sungguh tidak mempercayainya mereka berlima.


Huang Chen berkata dengan tatapan yang jelek kemudian berkata lagi, “Paman, kami sedang tidak bercanda tolonglah bantuannya sikap Paman, jika tidak melihat maka jujur jangan berkata seperti itu bagaimana mungkin burung yang perkasa sangat mudah direbus oleh temanmu katanya.”


Song Chufeng hanya menggelengkan kepalanya melirik mereka semua langsung menghela nafas, “Jika kalian semua tidak percaya itu tidak apa-apa, Paman juga berkata kebenaran bukan bercanda.”


Tiba-tiba satu pria yang bernama Shi Batian, yang sekaligus kelompok itu berkata kepada Song Chufeng. “Paman, mungkin Paman tidak pernah melihat burung yang begitu mempesona sehingga dibandingkan burung yang sedang direbus oleh temanmu itu tidaklah ada apa-apanya jadi jangan bermimpi! Bagaimana mungkin burung kebanggaan sekte kita akan mudah direbus oleh manusia Huh!”


“Jika kamu tidak percaya, itu tidak masalah buatmu, aku hanya berkata seperti ini jika perkataanku tidak ada benarnya, lebih baik kalian semua mencari sendiri.”


“Huh!” Shi Batian mendengus dingin dan langsung berjalan melewati Song Chufeng, bahkan, dia menendang karung kecil yang berisikan beberapa benih biji yang diberikan oleh Long Fai pada waktu itu.


Song Chufeng melihat benih pemberian dari Long Fai terjatuh akibat ditendang, langsung marah dan berkata kepada Shi Batian.


“Adik, apakah kamu tidak diajarkan sopan santun dari orang tuamu? Apakah kamu tahu ini adalah benih biji yang akan ditanam di hutan ini beraninya sekali kamu adik menendang benih ini,”


“Cepat adik-adik semuanya karena kalian satu kelompok dengan dia tolonglah ambillah benih biji ini yang sudah berhamburan di tanah.”


Shi Batian marah, “Pria tua kamu pikir kamu siapa? Kamu hanyalah manusia rendahan bahkan kami tidak perlu berdekatan dengan pria tua sepertimu sungguh membuang waktu,”


Wajah Song Chufeng sungguh sangat gelap seperti mendung nya langit, dia menatap ke arah Shi Batian. “Benih ini pemberian dari tuanku berani-beraninya kalian bocah menendang karung ini cepat! Ambillah benih-benih ini jika tidak?”


“Jika tidak?” Shi Batian langsung mengejek dia pikir siapa.


“Jika tidak, maka kamu akan tahu akibatnya.” Song Chufeng berkata penuh martabat.


”Hahah lupakan! Aku tidak takut?!” Kemudian mereka berlima meninggalkan Song Chufeng sehingga Song Chufeng langsung murka.


Song Chufeng seperti Dewa langsung tanpa disadari sudah memegang bahu Shi Batian.


“Cepat adik, ambil benih ini?” tatapan Song Chufeng menyipit tajam.