
Bab 277 An Bulang Mati
"Pekik...!"
Burung phoenix raksasa itu langsung terbang mengarah An Bulang.
An Bulang yang sedang terbang bergegas ke arah ruang Roland tiba-tiba tubuhnya terhempas oleh energi biru yang berbentuk burung phoenix raksasa.
"Engah!"
An Bulang meludahkan darah terus-menerus sambil berputar-putar ke bawah dan menabrak gunung-gunung es.
Wang Roulan setelah menghajar An Bulang, dia secara sengaja tidak sengaja matanya melirik ke arah Long Fai, ingin melihat apakah Long Fai melihat dirinya dengan tatapan memuji.
Setelah itu dia melihat Long Fai sedang menatap ke arah dirinya dengan tatapan senyum yang lembut dan tangan itu juga mengacungkan jempolnya.
Otomatis Wang Raolan menganggukkan kepalanya sangat lembut dia sangat bahagia sekali karena dipuji oleh pria yang dia sukai.
Namun karena terlalu lengah dia tiba-tiba diserang kepalanya sehingga terjatuh ke bawah.
"Bam!''
"Siakat!"
Tubuh Wang Raolan menukik ke bawah tak terkendali dan jatuh menabrak hamparan gurun salju sehingga mengakibatkan cekungan seperti meteor akibat jatuh.
"Cih.."
Wang Roulan sangat tidak senang dan sangat cemburu Dia menatap ke arah An Bulang yang sudah tiba di depannya dengan tatapannya sangat jahat.
“Kamu dasar pria jelek merusak suasana hatiku!” Wang Roulan kemudian bangun dari tidurnya sambil menatap ke arah An Bulang lalu tiba-tiba sosoknya menghilang sudah di hadapan An Bulang.
tangan kanan yang sangat putih dan sangat lembut seperti batu giok langsung memukul kepala An Bulang.
Setiap gerakan dari tubuh An Bulang, ada energi berwarna biru yang menyelimutinya.
"Bam!"
An Bulang ditinju sangat keras sehingga meludahkan darahnya sekali lagi.
"Engah!"
"Ahh.."
“Bajingan... uhukk..uhuk.. ” An Bulang terpatuk sangat keras bahkan sering terbatuk dia berputar-putar di udara sambil memegang perutnya karena dia merasa bahwa perutnya usus-ususnya ingin hancur akibat pukulan Wang Roulan.
belum sempat menstabilkan tubuhnya tapi melihat Wang Roulan terbang melesat seperti jet tempur mengarah dirinya.
”Brengsek... wanita bedebah..ahhh..!!” An Bulang meraung sambil mengemuntahkan darah dari mulutnya dia tidak akan kalah dengan manusia rendahan seperti dia.
Kedua tangan itu menunjuk ke arah Wang Roulan seketika memunculkan darah yang begitu menjejak langsung menabrakkan ke Wang Roulan.
Wang Roulan seketika menggunakan energi kultivasi es untuk membuat dinding gunung es raksasa.
"Bug!''
"Gemuruh!"
Banteng sangat tebal dan setinggi gedung pencakar langit mengitari tubuh Wang Raolan agar tidak terkena serangan dari An Bulang.
"Bang!"
Energi merah darah seperti ular menghantam dinding raksasa yang terbuat dari es namun anehnya dinding itu tidak langsung runtuh bahkan sangat kokoh.
Dinding gunung es itu bergemuruh lagi dan berubah menjadi monster Golem raksasa untuk menonjok An Bulang.
"Sikat!"
"Bam!"
An Bulang ditinju akhirnya memuntahkan darah sekali lagi. bahkan tinju yang ini lebih hebat daripada dadi dia sepertinya ada organ internal yang sangat hancur.
"Bang!"
"Puf!"
Akibat tinju yang sangat keras tubuh An Bulang langsung menjadi bubur cokie bahkan tulang-tulangnya hancur seketika.
Namun dia melihat tubuh yang sudah hancur berkeping-keping sepertinya mencicit menyatu menjadi satu. Tanpa menunggu lama, Wang Roulan menggunakan lagu "Sucay Pelay Boog."
Hanya suara mulut Wang Roulan, akhirnya tubuh An Bulang yang hendak ingin menyatu menjadi satu tiba-tiba bergelilat seperti cacing kepanasan.
Daging yang berserakan seperti yang mengeluarkan asap hitam keluar dari daging-daging itu.
Selama kurang lebih 3 menit Wang Roulan menyanyikan lagu "Sucay Pelay Boog." Akhirnya tubuh An Bulang hangus menjadi abu berwarna hitam dan hilang di antara langit bumi.
Wang Roulan akhirnya setelah membunuh kedua praktisi iblis menjadi lega. karena ini baru pertama kalinya dia bertarung melawan kekuatannya sangat mendominasi.
Dia mantan guru tidak pernah berpetualang sampai penjuru ke dunia berbeda dimensi tapi sekarang setelah mengenali Long Fai dia bisa pergi ke datang ke dunia berbeda dengan sehingga memperoleh banyak cukup pengalaman.
Setelah itu dia menatap ke arah Long Fai, dengan Tatapan yang penuh memuja-muja dan ada sedikit tempramen panas yang dipancarkan.
"Suami..”
"Hahahah!"
Wang Roulan tertawa bahagia dia menukik terbang untuk mendekati Long Fai, kemudian setelah dekat akhirnya mereka berdua saling berpelukan.
Long Fai yang dipeluk erat oleh Wang Roulan diam diam dia merasa sangat nyaman dan menggangguk puas.
Dipeluk wanita cantik rasanya menyenangkan ini yang tersirat di dalam Long Fai.
Murong Ruyue yang melihat keromantisan antara mereka berdua entah kenapa hatinya cemburu dia terus menggelengkan kepalanya agar tidak cemburu.
Tentu saja dia berpikir alasan kecemburuan ini karena Long Fai memiliki wajah yang mirip seperti mantan kekasihnya yang sudah meninggal pada masa lalu.
Karena dirinya yang seperti obat nyamuk, akhirnya dia membuat terbatuk-batuk kecil.
"Uhuk... uhuk..!"
Kedua orang itu setelah mendengarkan batuk dari Murong Ruyue akhirnya melepaskan pelukan itu dengan enggan tapi ada sedikit warna merah karena malu.
"Uh!"
“Maaf kan aku tetua, aku terlalu bersemangat sehingga aku tidak menyadari bahwa Tetua Ruyue sedang berada di samping kita.” Kata Wang Raolan sangat canggung.
“Tidak apa-apa ini adalah hal wajar karena bahagia yang berlebihan.” Murong Ruyue menganggukan kepalanya sambil tersipu sedikit.
Setelah itu melihat istana yang hancur menjadi reruntuhan, akhirnya Murong Ruyue menggunakan kekuatannya untuk membuat istana lagi.
Balok-balok es yang sudah berceceran tiba-tiba bergemuruh menyatu menjadi satu dan berubah menjadi bentuk istana seperti semula.
Hanya membutuhkan satu cangkir teh tiba-tiba istana itu sudah berdiri sangat megah.
Murong Ruyue mengeluhkan kepalanya dan mengarah kepada kedua orang itu lalu berkata: “Ayoo.. kita masuk ke dalam.”
"Baik!"
Wang Roulan mengganggukan kepalanya setelah itu dia bergandengan tangan kepada Long Fai mengikuti Murong Ruyue tepat di belakangnya.
Tapi, tiba-tiba ada suara yang sangat agung dan sedikit ada jejak keberatan dalam suara itu.
“Kamu telah membunuh dari bagian praktisiku tidak begitu mudah untuk meninggalkanmu hidup-hidup.” suara itu begitu menggelegar seperti Dewa agung yang sedang berpidato di antara langit bumi.
Otomatis ketika orang itu dan semua para murid yang masih selamat menetap ke atas langit namun sayangnya tidak menemukan apapun Hanya suara saja yang begitu menggelegar.
Long Fai matanya menyepit dengan tajam namun dia juga tidak menemukan orang yang berbicara.
Tapi, tanpa disadari tatapan yang menyipit itu akhirnya secara ajaib tiba-tiba makhluk yang berkata sangat agung tiba-tiba muncul karena tanpa sebab diketahui sehingga persembunyian itu langsung dilihat oleh mata telanjang.
“Apa yang terjadi..” Situ Haotian tertegun