
Bab 373 Telur Emas
Huang Chen yang terbang sangat cepat akhirnya hanya membutuhkan tiga cangkir teh untuk diminum, sudah tiba di di Sekte Teratai Salju.
Huang Chen terengah-engah karena sering ketakutannya dia sambil melihat satu rekan tewas akibat pria tua tersebut.
“Bajingan! Tidak tahu siapa kita berani sekali pria tua bangka itu membunuh salah satu murid Sekte Teratai Salju bedebah!” Huang Chen, berpikir secepatnya harus menghubungi ketua guru agar bisa menangani secepatnya.
Untuk sekte yang sudah disegani sejak lama tidak boleh kehilangan wajah, karena masalah dibunuh pria tua tersebut. Banyak orang yang berselisih dengan sekte teratai salju berakhir dengan naas.
Ini juga berlaku kepada pria tua tersebut karena telah membunuh satu pekan dari sekte Teratai Salju.
Huang Chen Setelah tiba di sekte tempat di mana dia belajar, langsung tanpa berbasa-basi pergi ke tempat di mana ketua sekte tersebut sedang berkumpul.
Sembari marah dia langsung memasuki ruangan yang sangat megah bahkan para murid yang sedang berlatih atau berjalan-jalan di tempat pekarangan sekte teratai salju melihat gerak-gerik Huang Chen sungguh kebingungan dia ingin berkata apa yang terjadi tapi, nampaknya Huang Chen sedang terburu-buru sehingga tidak jadi.
“Ada apa? Aku baru pertama melihat Huang Chen terburu-buru bahkan ada jejak ketakutan yang terpampang jelas di wajahnya,” Salah satu murid yang sedang berjalan bersama satu wanita berkata dengan ingin tahu.
“Aku tidak tahu lebih baik kita berbicara apa yang sedang terjadi setelah dia keluar dari ruangan ketua sekte.” Murid wanita tersebut berkata sambil menyarankan seperti itu.
“Hmm baiklah,” balas murid tersebut kemudian mereka berdua berjalan lagi seperti orang sedang berpacaran.
Semua murid sekte teratai salju adalah orang yang sombong dan tidak pernah memandang ke bawah dia selalu tinggi dari yang lainnya.
Sifat itu sudah dikembangkan dari pertama sekte berdiri, bahkan dari pertama mendirikan sekte tersebut, sampai sekarang tidak ada sejarah bahwa sekte teratai salju menghasilkan sampah. Semuanya adalah jenius yang nyata terlebih lagi didukung dengan monster burung raksasa sehingga popularitasnya melejit seperti roket yang melambung tinggi.
Kini kedua orang itu yang sepertinya sedang berpacaran melihat raut wajah Huang Chen hanya menggelengkan kepalanya. Siapa sih, yang berani-beraninya melawan sekte teratai salju apakah Anda bosan hidup?
Sekte Teratai Salju tidak mudah dipusingkan, secepatnya Anda yang mengusik Huang Chen akan mendapatkan akibatnya yaitu, kematian yang sangat indah.
Satu batang dupa telah berlalu akhirnya Huang Chen sudah duduk di tengah-tengah kursi yang sangat bagus. Kursi yang lebih bagus dengan lebih tinggi daripada kursi lainnya.
Kursi di bagian tengah memiliki bentuk yang sangat unik dan lebih tinggi, apalagi kayu tersebut dibuat menggunakan bahan pohon mahoni yang kualitasnya sudah terjamin.
Bagian kursi Tengah terdapat pria sekitar berumur 80 tahun kurang lebih, dia memiliki jenggot berwarna putih rambut berwarna putih dan jubah baju berwarna putih.
Pria tua tersebut yang tidak lain adalah ketua sekte Teratai Salju yang sudah mengurus bagian sekte sudah lama sekitar 10 generasi. Adapun generasi 1 sampai 9 dia sudah wafat bahkan ada yang hilang entah di mana keberadaannya setelah mengarungi dunia.
Kini setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Huang Chen tiba-tiba mata dari pria tua itu, menyipit tajam kemudian tangan kirinya mengelus-elus jenggotnya.
Ketua sekte generasi sepuluh bernama Duan Xiaochu. Sekarang dia ingin tahu lebih spesifikasi bagaimana kelima murid tersebut sampai bertemu dengan Song Chufeng.
Duan Xiaochu yang mendengarkan dari awal sampai terakhir dari Huang Chen hanya menyimpulkan bahwa kelima murid tersebut sangatlah tidak sopan dan tidak menghormati kepada orang yang lebih tua darinya.
Akan tetapi, sekte Teratai Salju adalah sekte yang tidak pernah tunduk siapapun jadi, walaupun kelima murid tersebut berperilaku sembrono kepada Song Chufeng itu tidak peduli sama sekali terlebih lagi, di pihak sekte dirinya kehilangan satu murid akibat dibunuh oleh Song Chufeng.
Duan Xiaochu menatap ke arah Huang Chen dan berkata, “Oke baiklah! kita harus membalaskan karena muridku sudah ada yang tewas, kamu bersabarlah aku akan memanggil beberapa murid senior yang sudah berpengalaman di medan pertarungan untuk membantumu dan membawa ketiga murid wanita untuk kembali.”
“Baik kepala Sekte!” Huang Chen mengangguk Dengan hormat akhirnya dia bisa membalaskan dendam karena telah membunuh Shi Batian.
‘Shi Batian, kamu tenanglah aku akan membalaskan dendam dan ketika aku mendapatkan pria tua bangka tersebut aku akan cincang-cincang untuk menyembuhkan rasa kebencian karena telah membunuhmu!’ Huang Chen berkata di dalam hatinya dengan Aura yang sangat ganas terpancar sangat jelas.
Duan Xiaochu, setelah mendapatkan informasi langsung memerintahkan Huang Chen Kembali keluar ruangan ini.
~
~
#Toko Kelontong.
Ketiga wanita tersebut, tidak menyangka bahwa mengikuti kedua senior itu berakhir naas. Pasalnya sekarang dia menjadi petani yang mengikuti arahan dari Song Chufeng.
Padahal dia mendaftar ke sekte Terate salju sudah penuh keyakinan bahwa dirinya akan melambung tapi hanya membutuhkan dua bulan pelatihan dan keluar mengikuti kedua seniornya sekarang malah menjadi babu dari orang lain.
Sungguh ironis dan sangat tidak bisa berkata apa-apa. Dalam benak mereka semuanya ingin melawan tapi karena menghargai kehidupan lebih baik menuruti perkataan Song Chufeng.
Sekarang kedua wanita itu sudah mencangkul sangat luas tanah yang gundul secara bergantian bahkan ada yang menabur benih Tapi anehnya ketika benih itu ditaburkan langsung tumbuh seperti berkecambah.
Pandang yang sangat memukau mereka bertiga baru pertama kali melihat benih yang begitu ajaib hanya sekali tabur langsung tumbuh mungkin saja membutuhkan dua hari langsung dipanen.
Sementara itu, Song Chufeng yang sedang memancing ikan di sungai kecil akhirnya melihat ketika wanita itu sedang berkeluh kesah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Menjadi petani adalah melatih kesabaran seperti halnya memancing kamu tenang saja gadis, setelah kamu selesai mencangkul dan menebar benih, aku akan menghadiahi kamu tiga ikan kecil yang sudah matang.” ucap Song Chufeng sambil tersenyum sehingga gigi yang berwarna kuning terlihat mereka bertiga.
"Engah!"
Ketiga wanita itu, langsung ingin muntah darah karena sepertinya tenaga untuk mencangkul seluas Tanah ini hanya dihargai dengan 3 ekor ikan kecil yang sudah matang.
Karena mereka bertiga adalah memiliki keluarga yang terpandang untuk menghadiahi tiga ekor ikan kecil sungguhlah tidaklah etis.
Akan tetapi, ketika sedang mencangkul dan penuh amarah ketiga wanita itu mencium bau yang sangat lezat dari tiga ekor ikan kecil tersebut sehingga ketiganya matanya tidak pernah luput dari ikan tersebut seseolah mereka bertiga adalah kucing yang imut hendak ingin menerkam ikan yang sudah dihidangkan.
“Hei lihat, mungkinkah pria tua tersebut adalah koki yang handal bagaimanapun aroma ini sungguh sangatlah lezat, kita yang sudah pernah mencicipi makanan bintang 5, sepertinya kalah dengan pria tua tersebut yang sedang membakar ikan?” Satu wanita berbisik pelan kepada wanita satunya.
”Benar, sepertinya pria tua itu memiliki keahlian yang memumpuni dari kekuatan bahkan cara memasak hidangan sungguh sangat keren.” Wanita satunya juga berbisik.
Ketika wanita itu tiba-tiba melototkan matanya karena dia melihat Song Chufeng mengeluarkan beberapa butir telur berwarna emas sehingga ketika wanita tersebut langsung berseru.
"Telur Emas!"