
Ban 120 Coba Katakan Bagai Mana Kamu Ingin Membunuh Aku
Saat ini, Long Fai setelah memasukan kilin api ke dalam dunia Artefak, dia membuat terobosan jalan pintas. Dia masuk ke dunia Artefak, setelah itu dia pergi ke tempat di mana Santo Pelindung.
Di depan batu yang di ukir tulisan yang sangat rumit, Long Fai menjentikan jarinya seketika batu itu seperti kehilangan keseimbang untuk mengeras. Batu itu di bawah tekanan jentikan Long Fai langsung luntur seperti adonan.
"Niat pedang sungguh kuat." Kata Long Fai memuji diri sendiri. Dia tersenyum sambil memasuki ke dalam ruangan itu yang di sebut wilayah santo pelindung.
Setelah memasuki ruangan itu, setelah sekian 7 jam menelusuri reruntuhan kuno, Long Fai berseru. Karena dia ketika memasuki lorong itu, seketika berubah menjadi dunia yang sangat indah namun semipit seperti satu daerah desa.
"Uhh dunia apa ini?" Seru Long Fai. Namun tepat seruan itu di lontarkan, entah kenapa dirinya kurang beruntung atau beruntung, Long Fai melihat dari ke jauhhan dari altar ada sebuah cahayaya sangat menyilaukan.
Long Fai mendekati cahaya itu dengan terbang sangat cepat. Setelah sudah sampai, dia melihat bahwa di tengah altar itu, ada cekungan cukup dalam sekitar 1 meter. Dan di tengah-tengah itu, dia melihat ada telur yang sedang bersemayam sangat nyaman di tempat itu.
"Uhh, apakah hewan santo pelindung sekarang masih telor?" Long Fai menggaruk kepalanya. Setelah itu, dia mengambil telor sangat mudah dengan santai. Padahal, seperti yang semua orang ketahui, dia antara altar ini terdapat mesin pembunuh yang mematikan. Tapi ketika berhadapan sama Long Fai, perangkap jebakan itu tidak berfungsi sama sekali.
Dari kegelapan, ada rubah tua yang sudah menantikan telor bintanang santo pelindung. Namun karena terlalu banyak jebakan dia mengurungkan untuk mengambil telor itu, sekarang dia melihat anak muda yang mengambil telor santo, yang sehat dan selamat. Kemudian mata rubah tua itu mengusap-usap berapa kali. dia hanya memastikan bahwa apa yang dia lihat tidak ilusi sama sekali.
Dia berguman sendiri apakah jebakan itu sudah usang? Karena sudah termakan jaman? Karena dia melihat bahwa telor sudah di ambil dan dia juga melihat bahwa pemuda itu sudah turun dari altar, dia akan membunuh pemuda tersebut dan merebut harta itu.
Jika anda berhasil merebut harta itu, otomatis anda sekarang tak terkalahkan. Memikirkan itu, rubah tua tersenyum hingga air liur menetes.
Tentu saja, dia tidak gegabah sama sekali, karena tidak hanya dirinya saja. Bahkan di kehampaan, banyak hegomoni monstetmr tua yang menargetkan telor itu.
"Telor kecil, aku akan memasukan kamu ke dalam dunia aku agar cepat menetas." Kata Long Fai sambil memejamkan matanya sambil berpose imut.
Namun dia tidak menyadari bahwa dari langit ada tombak petir yang sangat cepat seperti cahaya mencoba menyerang Long Fai.
"Sowsh!"
Long Fai kaget, dia melompat ke samping sambil mengutuk orang yang menyerangnya.
"Bajingan siapa yang berani menyerang aku diam-diam hah!" Kata Long Fai. Sebenarnya dia sudah siap, karena tidak mungkin di sekitar sini tidak ada monster tua yang sedang menunggu harta telor itu. Long Fai hanya berpura-pura menjadi babi untuk memakan harimau.
Dan benar saja tiba-tiba ada kilatan cahaya biru dan munculah sosok wanita cantik sekitar umur 10 tahun menghadap Long Fai dan berkata.
"Ini aku yang menyerang kamu, jadi apa? Aku harap serahkan harta telor itu, maka aku akan mengampuni nyawa kamu." Wanita itu di sekujur tubuhya ada aura guntur yang mencicit.
"Kamu bocah luknut.. Beraninya kamu menyerang aku diam-diam..!" Long Fai mengepalkan tanganya ke arah wanita kecil itu.
"Apa kamu bilang? Aku bocah? Bocah fana mati kamu berni menghina aku." Wanita listrik itu langsung menghilang seperti listrik sudah muncul di hadapan Long Fai. Dia mencoba memukul kepala Long Fai.
Tapi Long Fai saat ini menghindar sangat mudah dan langsung melangkah di belakang wanita listrik itu, langsung men sleding bokong wanita listrik hingga tersungkur ke depan.
"Bug!"
"Aduh!"
Wanita itu, mengusap-usap bokonya karena merasakan sakit. Kemudian dia menatap ke arah pemuda laknat ini, penuh kebencian.
"Kamu sialan berani mempermalukan aku... Mati kamu..!" Tangan wanita itu menunjuk ke Long Fai dia berniat untuk menmbunuh seketika menggunakan hukum guntur. Namun, ketika tangan itu di tunjukan ke arah Long Fai tiba-tiba entah kenapa kekuatan hilang.
"Apa yang terjadi..!" Wanita itu panik sambil menatap Long Fai ngeri.
"Pak!"
"Ahh!"
"Pak!"
"Ahhh ini sakit..!"
Long Fai setelah memukul tangan wanita itu, dia langsung meraih kepala wanita itu dan mencengkramnya. Setelah di cengkram, dia angkat sehingga wajah itu dekat dengan wajah Long Fai.
Setelah itu, Long Fai berkata menyindir: "Hey sampah, aku menunggu kamu untuk membunuh aku. Ayo kamu berteriak arogan seperti tadi..!"
Setelah itu, Long Fai melemparkan wanita itu layaknya karung sampah.
"Bug!"
"Bug!"
Wanita listrik terguling-guling berapa kali dan menatap Long Fai penuh kebingungan dan kebencian. Dia ingin mengatakan dan menghina lagi. Tapi, dia tidak bisa berkata seseolah mulut di penjara. Bahkan saat ini, dia melihat pemuda itu mendekati dirinya lagi.
"Hei wanita bodoh, ayo katakan lagi soal kesombongan kamu..!" Long Fai berseru sambil mendekati wanita listrik. Setelah sudah dekat, dia menendang-nendang tubuh wanita itu layaknya karung samapah.
"Hahahaha mati kamu...!"
"Bug!.. Bug!"
"Ini sakit, siapa pun tolong aku...!" Wanita yang di tendang lusinan kali oleh Long Fai, akhirnya menangis. Dia tidak tahan dan bingung entah kenapa kekuatan sendiri hilang di hadapan bocah itu.
"Hahah kenapa kamu menangis, bukankah kamu sering membunuh orang yang tidak berdosa, bahkan kamu juga berniat membunuh aku? Dimana sifat arogan kamu, aku tidak berbelaskasih hanya karna kamu menangis."
"Ahhhh!"
"Sakit...!"
"Tidak aku mohon siapa tolong aku...!"
"Hahahah mati kamu....!"
"Bug!"
"Bug!"
"Bug!"
Tubuh wanita itu keritis, dan berdarah sungguh deras. Bahkan matanya sayu seperti ingin mati karena di tendang lusinan kali oleh Long Fai.
"Lancang kamu...! Berani menyakiti sahabat aku mati..!" Di atas langit, tiba-tiba ada suara menggelegar dan ada cahaya listrik lagi mencoba menyerang Long Fai.
Namun hanya sebuah lirikan sederhana, tembakan listrik itu hilang. Tentu saja bukan hanya itu saja, orang yang mencoba memarahi Long Fai dan membunuh, juga merasakan kekuatannya menyusut tak terkendali.
"Ada apa ini, kenapa kekuatan aku hilang.. Ahhh tidak....!"