
Tidak lama kemudian Bai Fu'er dan dua lainnya sampai di puncak ke delapan. Ternyata banyak murid lain juga yang sudah datang di sana. Mereka semua saling berkelompok untuk berbisik-bisik membicarakan apa yang sedang terjadi.
Bai Fu'er bisa merasakan ketegangan yang dirasakan oleh para penatua. Mereka melihat Qing Yue'er dengan tatapan tidak senang. Terutama penatua Tang, guru Wang dan beberapa penatua utama yang cukup dia kenal.
Penatua Zhou yang menjadi wakil kepala akademi terbatuk dengan ringan. Dia menatap Qing Yue'er dengan rumit. Sebenarnya dia cukup berkepala dingin untuk tidak langsung menuduhnya. Hanya saja suaranya tidak bisa berarti apa-apa jika dibandingkan dengan para penatua yang berjumlah hingga 30 orang.
"Bagaimana jika kita menunggu sampai Leluhur Yin sadar? Kita mungkin perlu mendengar pendapat darinya." Dia berkata dengan tenang, tidak ingin memperkeruh suasana.
Ketika mendengar perkataan penatua Zhou, Bai Fu'er langsung mengangguk setuju. Walaupun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia selalu percaya jika Qing Yue'er tidak akan melakukan sesuatu yang mengancam keselamatan akademi.
Dia berjalan menuju Qing Yue'er. Ji Fan dan Qi Rong mengikutinya dari belakang. Mereka juga memiliki pemikiran yang sama dengan Bai Fu'er. Dan mereka juga sudah berteman lama dengan Qing Yue'er, jadi mereka harus menyuarakan pembelaannya.
"Benar, Penatua. Akan lebih baik jika kita menunggu sampai Leluhur Yin bangun. Jangan terburu-buru." Bai Fu'er akhirnya menyuarakan pendapatnya.
Namun seseorang yang sudah sangat marah, membalas ucapannya dengan teriakan. "Siapa kamu?! Murid kecil sepertimu berani mengajari seorang penatua?!"
Bai Fu'er langsung terdiam. Dia takut akan membuat hal-hal menjadi semakin sulit.
"Aish! Anak kecil bahkan tahu pilihan mana yang benar. Kenapa kalian tua-tua hanya tahu caranya terburu-buru?" Zu Tiankong mencemooh dengan keras. Dia sudah semakin muak dengan penatua yang lain.
Wang Tianji mengerutkan dahinya dalam-dalam. Dia sedang berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Perkataan penatua Zhou ada benarnya juga. Jika Qing Yu memang bersalah, leluhur pasti juga tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
"Baiklah. Kita akan menunggu sampai Leluhur Yin sembuh. Untuk Qing Yu, kamu akan tetap berada di asrama sampai hari dimana keputusan tiba. Akan ada beberapa orang yang mengawasimu, jadi jangan berpikir untuk melarikan diri!" Wang Tianji berbicara dengan datar. Setelah itu dia berbalik pergi meninggalkan kerumunan.
Qing Yue'er mengangkat bahunya. Kemudian dia tersenyum manis kepada Tang Huanyu. Hal itu justru membuat orang tua itu semakin marah. Senyum Qing Yue'er seolah-olah mengejeknya karena belum bisa membalaskan dendam muridnya.
Namun dia tidak berani bertindak terlalu terang-terangan. Masih banyak cara lain yang bisa dia gunakan untuk membuat anak itu menderita. Bahkan lebih menderita berkali-kali lipat.
Qing Yue'er menatap datar pada kepergian orang-orang tua itu. Dia sedang menunggu kesempatan yang tepat untuk mengambil sesuatu yang dilupakan oleh mereka. Senyum miringnya tersembunyi dibalik kegelapan malam.
"Ayo kembali! Apa lagi yang kau tunggu?!" Bai Fu'er berseru padanya.
"Tunggu sebentar." Qing Yue'er berbisik pelan. Tubuh kecilnya melesat cepat ke sudut gelap yang sedikit jauh darinya berdiri.
Bukan benda yang asing, itu adalah empat jepit rambut perak yang digunakan untuk membuka pusaran. Sejak pusaran berhasil dibuka, jepit rambut itu telah berhenti mengeluarkan manfaatnya sehingga terbuang begitu saja.
Namun Qing Yue'er tidak berpikir demikian. Jepit rambut itu terbuat dari bahan perak yang tidak sembarangan. Dia bisa mengasahnya menjadi senjata yang cukup kuat. Lalu dia juga masih mempertanyakan apakah benda itu memiliki fungsi lain atau tidak.
Dia menyimpannya dan langsung kembali menemui teman-temannya. Dia terkekeh ringan. "Hehe, aku tidak menyangka kalian akan datang kesini."
"Kamu pikir aku bisa tenang saat mendengar kamu membuat masalah lagi?" Bai Fu'er berkata dengan cemberut.
Qing Yue'er terkekeh lagi. Walaupun Bai Fu'er seringkali berkata dengan nada yang tidak menyenangkan, namun dia tahu jika gadis itu tidak benar-benar membencinya. Sepertinya itu memang sudah menjadi sifatnya.
"Ah, itu sangat menyenangkan menurutku. Tentu saja kamu akan bisa beristirahat dengan bebas." Qi Rong segera berbicara dengan senyum yang mengembang.
"Ck, kamu pikir semua orang bersikap malas sepertimu?!" Ji Fan memukul kepala Qi Rong yang membuat anak itu membalas dengan melayangkan kakinya.
"Membosankan!"
Bai Fu'er mengabaikan kedua remaja lelaki yang sedang bertengkar. Dia lebih memilih untuk pergi menyusul langkah Qing Yue'er. Hanya saja karena mereka berbeda asrama, Bai Fu'er harus berpisah di tengah jalan.
***
Ketika malam sudah semakin larut, seorang pria paruh baya terlihat tidak bahagia. Tang Huanyu berjalan dengan hati penuh amarah. Dia menghentikan kakinya di depan pintu kayu yang kusam. Tanpa mengetuk lagi, ia langsung membuka pintu dan masuk kedalam.
Muridnya yang sekarang telah menjadi cacat, sedang terbaring di tempat tidur. Anak itu langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Ming'er, aku sudah mengetahui kebenarannya," ucap Tang Huanyu ketika dia sudah duduk di samping Tang Wuming.
Ketika mendengar ucapan gurunya, Tang Wuming langsung membelalakkan matanya. Dia menatap gurunya dengan sorot mata penuh keluhan. Ingin berbicara namun yang keluar hanyalah suara yeng terdengar mengerikan.
Sejak b*jingan itu memotong lidahnya, dia tidak bisa berbicara. Ditambah lagi dengan kedua tangan dan kakinya yang juga tidak terselamatkan. Tapi yang paling membuatnya tidak berdaya adalah kultivasinya yang dihancurkan.
Dia benar-benar telah direduksi menjadi sampah sungguhan. Tidak pernah terpikirkan jika suatu hari nanti dia akan menjadi sosok yang dulu selalu dia pandang rendah.
Ingin mengadukan pada orang lain, namun dia tidak memiliki cara yang bisa orang lain mengerti. Sekarang setelah gurunya mengatakan bahwa kebenarannya sudah diketahui, tidak dipungkiri perasaannya bergejolak dengan rasa antusias.
"Orang itu adalah Qing Yu, bukan?" Gurunya menatap dia dengan mata yang memerah.
Tang Wuming langsung mengangguk berkali-kali. Dia takut gurunya akan berubah pendapat jika dia hanya mengangguk satu kali. Matanya menatap gurunya dengan berbinar. Akhirnya orang yang paling dia andalkan dapat menemukan siapa pelakunya.
Setelah ini dia dapat memastikan jika kehidupan Qing Yu akan lebih menderita dari hidupnya saat ini. Anak itu harus merasakan sesaknya dikucilkan dan dipandang jijik oleh orang lain. Pada intinya dia harus merasakan penderitaan yang berkali-kali lipat dari penderitaannya saat ini.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah membiarkan masalah ini berakhir begitu saja."
Tang Huanyu sedikit mengangkat bibirnya menjadi senyum. Remaja di depannya ini sudah lama berada dibawah bimbingannya. Dia sudah menganggapnya seperti keturunannya sendiri. Setiap keluhan yang ditanggung, dia pasti akan membantu menghadapinya.
Jangankan berurusan dengan murid Zu Tiankong, bahkan jika Tang Wuming berurusan dengan cucu leluhur, dia tidak akan takut membantunya. Bukannya apa, dia hanya sosok guru yang tidak akan berhenti melindungi muridnya.
Sudut mata Tang Wuming menjadi basah. Gurunya masih tetap yang terbaik.
"Bodoh, jangan menangis. Aku akan segera mengurusnya." Setelah mengatakan itu dia berjalan pergi meninggalkan Tang Wuming yang menatapnya dengan penuh terima kasih.