Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Tuan Abadi


Qing Yue’er tidak tahu sudah berapa lama dia tenggelam dalam kegelapan tanpa akhir. Dalam mimpinya dia terlalu takut untuk membuka mata.


Apa yang sudah terjadi? Apakah semuanya baik-baik saja sekarang? Bagaimana jika setelah dia membuka mata ternyata sesuatu terjadi pada pria itu?


“Gadis, bangunlah.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memasuki telinga Qing Yue’er. Suara itu terdengar seperti magnet yang langsung menarik kesadarannya.


Qing Yue’er mengerjapkan matanya beberapa kali. Sinar matahari memasuki retina mata dan membuat dia merasa silau. Perlu beberapa waktu baginya untuk menyesuaikan diri.


“Aku tidak sengaja menemukanmu di tepi gunung ini. Apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian?”


Itu adalah pria tua yang mengenakan jubah abu-abu lusuh. Wajahnya terlihat lembut dan entah kenapa hanya dalam sekali pandang saja Qing Yue’er bisa menyimpulkan orang tua itu adalah orang yang baik.


Qing Yue’er tidak bisa menjawab petanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa tiba di tempat ini. Apa yang sudah terjadi? Perasaannya menjadi tidak menentu.


Terakhir kali dia masih berada di dalam dimensi dan melihat perseteruan Mo Jingtian dengan Baili Linwu. Kedua pria itu saling menjatuhkan satu sama lain.


Mo Jingtian berakhir dalam formasi yang Qing Yue’er tidak tahu apa pengaruhnya. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


“Pak Tua, apa kau melihat seorang pria juga? Pria dengan jubah merah yang sudah robek?”


Pria tua itu tampak berpikir selama beberapa saat. “Kurasa aku melihatnya, tapi aku takut itu hanya penglihatanku yang salah.”


Kedua mata Qing Yue’er langsung berbinar. “Ke mana dia pergi? Tolong katakan padaku!” pintanya dengan cepat.


“Dia kesulitan naik ke puncak gunung. Apa itu temanmu?”


Qing Yue’er langsung mengangguk. Kemudian dia bangkit dari tempatnya, lalu membungkuk pada pria tua itu. “Terima kasih banyak untuk bantuanmu. Jika ada kesempatan aku pasti akan membalasmu.”


“Tidak, tidak. Tunggu dulu! Apa kau akan menyusul naik?” tanya pria itu.


“Ya. Aku harus mencarinya.”


“Tapi di atas adalah tempat tinggal Tuan Abadi. Kau akan mengganggunya.”


Qing Yue’er terdiam sejenak. “Apa ini pegunungan Jingcai?”


“Benar. Ini adalah pegunungan Jingcai. Kau tidak bisa pergi ke sembarang tempat.”


Qing Yue’er menggelengkan kepala. Tidak peduli apa dia harus tetap menemukan Mo Jingtian dan mencari tahu apa yang sudah terjadi. Dia meragukan keadaan Mo Jingtian. Bagaimana jika pria itu memiliki luka serius?


“Aku harap siapa pun yang menjadi Tuan Abadi itu bisa memaklumiku,” ucap Qing Yue’er. “Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih.”


Pria tua itu tersenyum tipis, lalu berkata, “Semoga kau bisa menemukannya.”


Qing Yue’er balas tersenyum. Tanpa mengatakan apa-apa lagi sosoknya langsung berkelebat menghilang. Hanya kesunyian yang tersisa.


Pria tua itu mengistirahatkan tangannya di belakang sambil mengamati arah pergerakan Qing Yue’er. “Aku tidak menyangka akan kedatangan tamu seperti kalian,” gumamnya, lalu menghela napas pelan.


“Bagaimanapun juga malapetaka itu benar-benar datang. Aku hanya bisa membantu semampuku.”


Setelah itu sosoknya langsung menghilang ke dalam ketiadaan.


***


Qing Yue’er bergerak menaiki pegunungan Jingcai. Sejauh ini tidak ada hal berbahaya yang dia temui. Namun, dia tidak tahu bagaimana situasi di atas sana.


Dia terus naik sampai menemui dua tugu batu yang berdiri berdampingan. Sepertinya itu menadakan pembatas wilayah. Namun, Qing Yue’er tidak tahu apa maksudnya. Jadi dia hanya mengabaikannya.


Tidak ada jawaban. Apa koneksinya sudah terputus? Sebenarnya ini sedikit aneh. Dia masih merasa heran kenapa dia bisa tiba di tempat ini. Jika memang ada yang memindahkannya, apakah itu Mo Jingtian?


Qing Yue’er menggelengkan kepala. Kenapa Mo Jingtian meninggalkannya seorang diri? Rasanya ini bukan sifat Mo Jingtian. Apakah mungkin pria tua itu baru saja menipunya?


Kedua mata Qing Yue’er berkilat-kilat. Kenapa dia begitu mudah memercayai orang itu? Langkah kakinya langsung berhenti. Dia menunduk mengangkat tangan kirinya.


Jari-jari tangan kanannya mengusap punggung tangan satunya lagi. Dia sedang mencari cincin cahaya yang menghubungkannya dengan Mo Jingtian. Cincin itu masih ada, tetapi cahayanya sangat lemah.


Perasaan Qing Yue’er menjadi tidak menentu. Dia melihat ke sekeliling yang merupakan hutan dengan pohon-pohon yang cukup tinggi. Dia mengepalkan telapak tangannya dan langsung menghantam tanah dengan tinjunya.


Baanngg!


Suara ledakan terdengar, tetapi tidak begitu keras. Gelombang kekuatan roh menyebar merambat di tanah. Qing Yue’er memejamkan matanya cukup lama. Dia sedang mencari jejak Mo Jingtian.


Setelah beberapa saat akhirnya kedua mata Qing Yue’er kembali terbuka. Sosoknya langsung melesat ke depan dengan kecepatan kilat. Meskipun sangat samar dia masih bisa merasakan auranya.


Puncak pegunungan Jingcai berupa tempat luas dengan banyak batu-batu yang tersebar. Ukuran dan bentuknya sangat beragam. Itu pemandangan yang sangat tidak terduga.


Qing Yue’er melihat ke sekeliling dengan bingung. Kekuatan rohnya hanya cukup membantunya sampai di sini. Sekarang dia harus mencari sendiri. Dengan gesit dia mulai melompat dari satu batu ke batu yang lain.


“Jingtian! Apa kau di sini?!”


Hanya ada suara burung gagak yang merespons teriakan Qing Yue’er. Dia menghela napas panjang. Masih ada banyak lilin harapan yang menyala di hatinya. Dan itu tidak akan pernah padam.


Qing Yue’er melihat batu besar yang berada di tengah-tengah. Samar-samar dia melihat cahaya emas yang berpendar dari balik batu. Apakah ada sesuatu di sana?


Sosok Qing Yue’er melesat ke depan. Jantungnya berdebar keras. Hanya dalam waktu yang singkat dia sudah tiba di sana, di balik batu besar itu.


Qing Yue’er termangu selama beberapa saat. Kakinya menjadi sedikit gemetar, tetapi dia tetap mencoba melangkah ke depan. “Apa … apa yang terjadi?”


Dia tiba di sisi batu yang berbentuk persegi panjang. Di atas batu itu sudah berbaring sosok yang sejak tadi dia cari. Cahaya emas melingkar melindungi sosoknya.


“Jingtian ….” Qing Yue’er memanggil dengan suara lirih dan bergetar. Pria yang terpejam itu sama sekali tidak menjawabnya. Pria itu hanya diam membisu.


Qing Yue’er mulai merasa matanya menjadi panas. Dia langsung menyerbu ke depan dan memegang tangan Mo Jingtian. “Jingtian, bisakah kau membuka matamu, ah? Bisakah kau mendengarku sekarang?”


Wajah Mo Jingtian terlihat pucat. Topengnya sudah terlepas dan tergeletak di sisinya. Qing Yue’er menggoyangkan pria itu beberapa kali. “Kenapa kau tidak menjawabku?!”


Perasaan Qing Yue’er mulai diselimuti ketakutan. Dengan cepat dia langsung memeriksa kondisi Mo Jingtian. Denyut nadinya terasa lemah, begitu pula dengan napasnya. Meskipun begitu tidak ada cedera internal yang terbilang parah.


“Apa yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan?” Qing Yue’er bertanya pada diri sendiri. Otaknya seakan tidak bisa berjalan dengan benar.


Pada saat itu dia melihat tatto hitam dengan motif aneh yang melingkar di leher Mo Jingtian. Dia mencoba menyentuhnya, tetapi tidak ada banyak hal yang bisa dia dapatkan.


“Apa ini?”


“Itu adalah formasi belenggu ras iblis,” balas seseorang di belakang.


Qing Yue’er langsung menoleh ke belakang. Sekarang dia terkejut melihat siapa yang ada di sana. Itu adalah pria tua yang sebelumnya sudah bertemu dengannya.


“Kau ….”


Dia merasa heran dengan kemunculan orang itu. Kelihatannya pria tua itu sudah akrab dengan tempat ini. Jangan bilang kalau orang itu adalah Abadi yang dirumorkan tinggal di pegunungan ini?


Pria itu tersenyum kecil, lalu mengangguk. “Aku adalah Abadi yang tinggal di sini.”