
Pagi pun tiba. Tongxuan Timur langsung digemparkan oleh menghilangnya iblis dalam waktu satu malam. Bagaimana bisa? Siapa yang sudah memberantas iblis-iblis itu?
Rakyat awam sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi. Mereka langsung bersujud dan berterima kasih pada langit. Akhirnya keresahan dan ketakutan yang selalu menghantui mereka bisa terangkat.
Ada banyak orang yang menyiapkan persembahan. Mereka semua terlihat seperti baru saja selamat dari bencana besar.
Sementara itu, pemimpin kekuatan seperti akademi, sekte dan kerajaan masih menebak-nebak. Mereka mengikuti instruksi Ling Wuji untuk membuat formasi pelindung. Jadi, mereka berpikir bahwa semua ada sangkutannya dengan kerajaan Linxiang.
Meskipun begitu ada juga yang sudah melihat penampilan besar Taotie dan dua binatang ilahi milik Qing Yue’er yang bertempur di langit malam. Mereka terlalu terkejut sampai tidak tahu harus berbuat apa.
Satu persatu pemimpin dari kekuatan-kekuatan itu berdatangan ke kerajaan Linxiang. Tentu saja Ling Wuji menjadi kewalahan. Dia sendiri tidak ikut andil dalam penyelesaian itu. Qing Yue’er telah bertindak sendirian.
“Ah, begini, Tuan-Tuan yang terhormat.” Ling Wuji memulai membuka pembicaraan. ”Sebenarnya aku sendiri mengikuti perintah orang lain agar memberi tahu kalian memasang formasi pelindung. Bagaimana persisnya hanya orang itu yang tahu.”
“Memangnya siapa orang yang kau maksud? Kita juga perlu berterima kasih padanya,” sahut sang raja dari kerajaan Xirei.
“Itu benar. Sebenarnya aku juga melihat tiga makhluk besar di langit. Namun, aku tidak ingin hanya berasumsi. Bukankah akan lebih baik jika kita mengetahui kebenaran daripada hanya menebak-nebak?” timpal yang lain.
“Ayolah, katakan pada kami!”
“Benar. Katakan saja! Lagipula itu bukan rahasia yang mengancam.”
“Ah, orang itu ….” Ling Wuji menjadi bingung sendiri. Haruskah dia memberi tahu tentang kedatangan Qing Yue’er? Bagaimana jika gadis itu nanti memarahinya? Dia merasa sedikit ragu.
Berbeda dengan keributan di istana kerajaan, di kediaman Bai suasana masih tampak normal. Sepertinya belum ada yang menyadari kedatangan Qing Yue’er, kecuali Bai Fu’er dan Ji Fan.
Sampai akhirnya Zu Tiankong tiba-tiba muncul di depan gerbang. Dia menatap penjaga gerbang lalu berkata, “Aku ingin bertemu dengan muridku.”
Penjaga gerbang yang ada dua orang itu saling menatap satu sama lain. “Guru Zu, apa maksudmu Nona Qing?”
Zu Tiankong mengangguk. “Memangnya siapa lagi kalau bukan dia?”
Penjaga gerbang itu menjadi bingung. Mereka menatap Zu Tiankong dengan perasaan tidak nyaman. “Itu .… Guru Zu, kami tidak mendengar ada Nona Qing di sini. Apa Guru tidak salah?”
Zu Tiankong mendengkus tidak senang. Dia tidak mungkin salah. Jelas-jelas dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada phoenix biru di langit yang bertempur dengan dua makhluk besar lainnya. Dia sangat yakin, Qing Yue’er pasti pulang.
“Jika kau tidak mengizinkanku masuk maka aku akan segera menerobos,” ucap Zu Tiankong. Ekspresinya menjadi muram.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba suara orang lain terdengar dari dalam. Orang yang berbicara tak lain adalah Bai Su. Kebetulan dia ingin pergi ke istana kerajaan. Tidak menyangka sama sekali ternyata ada Zu Tiankong di luar gerbang.
“Guru Zu?” Bai Su menatap heran. Ada apa gerangan pria tua itu datang ke kediaman Bai? Itu sangat tidak biasa. Yang dia tahu Zu Tiankong biasanya hanya berdiam diri di akademi.
Zu Tiankon mengerutkan kening setelah melihat ekspresi heran di wajah Bai Su. “Kelihatannya kau juga tidak tahu kedatangan Yue’er?” Dia bertanya.
Bai Su menatap Zu Tiankong dengan bingung. Qing Yue’er? Mungkinkah gadis itu kembali?
“Aiisshh! Kalian benar-benar …. Cepat, cari dia di setiap sudut kediaman! Aku yakin sekali dia ada di sini,” ujar Zu Tiankong sambil menerobos penjaga gerbang. Dia tidak akan sungkan pada mereka.
Bai Su mengangguk cepat. Dia mengurungkan niat pergi ke istana kerajaan, sebaliknya mulai sibuk mencari Qing Yue’er. Diam-diam dia berharap seandainya apa yang dikatakan Zu Tiankong memang benar.
“Ah, sudah lama sekali aku tidak membersihkan kamar i—aahhh!” Pelayan itu memekik kaget. Dia melompat mundur dengan refleks. Jantungnya berdebar-debar, wajahnya menjadi pucat seakan pembuluh darahnya tersumbat.
Pelayan itu menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Dia menatap tidak percaya pada sosok ang sedang berbaring itu. “N—Nona … Qing? Apa itu benar-benar dia?”
Dengan cepat pelayan itu berlari keluar. Saat itu juga dia berpapasan dengan Bai Su yang hendak memeriksa kamar Qing Yue’er. Dia langsung menghentikannya pria itu.
“Tuan, Tuan!”
Bai Su berhenti sebentar. “Ada apa?”
“Nona Qing … ada Nona Qing!”
Bai Su yang mendengar ini menjadi sumringah. Dia segera bertanya, “Di mana dia?”
Pelayan itu menunjuk pada kamar yang baru saja dia tinggalkan. “Di kamarnya. Dia masih tertidur.”
Bai Su mengangguk mengerti dan segera melangkah pergi. Semangatnya melonjak seakan darahnya sedang dipompa dengan begitu cepat. Tubuhnya bahkan sampai gemetaran.
Setelah tiba di depan pintu, dia menggosok kedua tangannya dengan perasaan berdebar. Akhirnya dia mengulurkan tangan dan membuka pintu dengan perlahan. Suara deritan pintu kembali terdengar.
Kali ini Qing Yue’er mengerjapkan mata. Rupanya dia mendengar suara deritan pintu itu. Dia segera menoleh dan langsung melihat pria tua yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tertegun.
“Ah, ayah sudah datang,” ucap Qing Yue’er sambil menguap. Entah kenapa dia merasa mengantuk.
“Tinggal sedikit lagi kau menginjak alam roh perak. Bagaimana kau masih bisa memikirkan tidur?!” protes Ying Jun yang ada di dalam dimensi.
“Itu bukan urusanmu,” balas Qing Yue’er.
Bai Su segera melangkah mendekat. Dia menatap takjub pada sosok gadis yang sekarang duduk di atas tempat tidur. Dia mengamati Qing Yue’er dengan teliti. Benar-benar tidak banyak yang berubah dari gadis itu. Perubahannya hanya menjadi lebih cantik dan dewasa dari sebelumnya.
Kedatangan Qing Yue’er masih terlalu mengejutkan bagi Bai Su. Dia hanya diam menatap Qing Yue’er sambil berpikir apakah ini nyata.
“Kenapa Ayah hanya diam?” tanya Qing Yue’er. “Kemarilah, biar putrimu ini memberikan pelukan hangat,” ucapnya. Dia berdiri dan langsung memeluk Bai Su dengan hangat.
Akhirnya Bai Su tersenyum. Dia mengusap punggung Qing yue’er dengan lembut. “Kupikir ini mimpi. Bagaimana bisa orang yang sudah tinggal di Celestial mau turun lagi ke tempat rendahan seperti ini?”
Qing Yue’er mengerutkan bibirnya. “Tentu saja bisa. Itu … buktinya ibuku dulu mau datang ke sini,” sanggahnya.
“Ya, kau benar.” Bai Su tersenyum. Kemudian dia melepas pelukannya. “Ah, aku jadi curiga. Apa ledakan-ledakan semalam itu juga ulahmu?”
Qing Yue’er tersenyum lalu mengangguk. “Bagaimana? Aku keren, kan?”
Bai Su langsung terkekeh. “Kau pasti sudah membuat mereka gempar. Ah, pantas saja Guru Zu datang ke sini.”
“Guru Zu? Di mana orang tua itu?”
“Ayo keluar. Kau harus menemuinya,” ajak Bai Su. Qing Yue’er mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdua segera keluar meninggalkan kamar.