Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Bertindak


Di suatu tempat dengan suasana yang sepi dan tenang, seorang pria muda dengan kipas lipat di tangan sedang menghadap ke langit malam. Sebuah cahaya biru terang nampak turun dan berhenti tepat di depannya.


Setelah beberapa saat cahaya itu memudar dan terpampanglah batu permata biru yang mengambang di udara. Tanpa ragu pria itu mengambilnya dan menggenggam dengan erat. Dia memejamkan mata untung menyaring informasi apa yang ada dalam batu itu.


Setelah beberapa saat, matanya kembali terbuka. Jejak keresahan muncul di wajahnya yang lembut.


"Setelah bertahun-tahu masih tidak menghasilkan perubahan apa pun. Apa orang-orang itu begitu kuat hingga tak tertandingi?" gumamnya.


Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang datang dari belakang. Dia langsung menyembunyikan batu itu di balik lengan bajunya sebelum kembali bertingkah sewajar mungkin.


"Wuqing, sudah larut kenapa kau masih di luar?" tanya seorang pria tua dengan jenggot putihnya yang panjang.


"Guru," sapa Xie Wuqing dengan sopan.


Liang Hua mendekati murid yang baru diangkat beberapa bulan lalu. Sebenarnya dia tidak tahu kenapa, setiap kali dia melihat Xie Wuqing, dia merasa ada sesuatu yang membuat pemuda itu selalu khawatir.


Selain itu, anak itu juga selalu tertutup padanya. Meskipun begitu bakatnya memang tidak bisa diremehkan. Bahkan di sekolah besar ini mungkin jarang-jarang ada seseorang dengan tingkat kejeniusan seperti itu.


"Kamu terlihat tidak nyaman," ucap Liang Hua.


Xie Wuqing tersenyum. "Murid ini baik-baik saja."


Liang Hua menghela napas. Selama muridnya tidak mau mengatakan hal-hal padanya, dia hanya akan menahan rasa penasarannya.


"Akademi Pedang Surgawi sudah tidak bisa menahanmu lagi, apa kau akan pergi ke Dataran Tengah?" tanya Liang Hua.


"Mungkin beberapa hari lagi murid ini harus pergi. Aku sudah menunggu seseorang selama beberapa saat, tapi sepertinya dia masih belum sampai di tempat ini," jawab Xie Wuqing dengan mata yang menerawang.


Ingatannya tertuju pada gadis barbar itu. Sekarang bagaimana kabar Qing Yue'er? Sudah lama sejak mereka berpisah. Mengingat bakatnya yang luar biasa, pasti kekuatannya sudah maju begitu banyak.


"Siapa yang kau tunggu? Apa itu seseorang yang membuatmu merasa gelisah?"


"Itu mungkin kebenaran." Xie Wuqing terkekeh tanpa menjelaskan lebih lanjut.


***


Pagi-pagi sekali Qing Yue'er mendengar seseorang memanggil namanya. Saat pintu dibuka, dia melihat Jing Ling yang sudah berdiri dengan senyuman lebar. Tangannya menenteng makanan yang langsung di sodorkan ke arahnya.


"Xinyu, aku membawakan makanan untukmu. Apa kau senang?"


Jing Ling nampak antusias. Sedangkan Qing Yue'er menyambutnya dengan tangan terbuka. Siapa yang tidak senang ketika diberi makanan gratis?


Setelah itu dia menghabiskan paginya dengan ocehan Jing Ling. Gadis itu benar-benar terlalu banyak bicara. Bahkan dia tidak peduli walaupun hanya dibalas dengan 'hmm' singkat oleh Qing Yue'er.


"Sebelumnya aku sudah mencari tempat persembunyian Mei Yiran, tapi aku tidak menemukannya," ucap Qing Yue'er menghentikan ocehan Jing Ling.


"Apa yang akan kau lakukan? Apa kita langsung melenyapkannya?" Jing Ling bertanya untuk interuksi.


Qing Yue'er sudah memikirkannya. Dia tidak bisa membuang waktu lebih lama. Lebih baik dia cepat melenyapkan sitar itu sebelum wanita itu semakin memakan korban lebih banyak.


Akhirnya Qing Yue'er memutuskan untuk pergi langsung menuju Mei Yiran. Dia mengikuti Jing Ling hingga berakhir di rumah hiburan yang sama seperti terakhir kali Qing Yue'er singgahi.


Mereka melihat orang yang dicari sedang melakukan diskusi dengan orang lain. Di sana ada Zhao Zirui serta dua orang lainnya. Orang-orang itu memiliki pengaruh yang cukup penting di kota Nan Zheng.


"Apa yang mereka bicarakan?" bisik Jing Ling.


Saat ini mereka berada di ujung koridor sambil mencoba menguping arah pembicaran kelompok orang itu. Saat sedang fokus, Qing Yue'er menyeret Jing Ling menjauh dari sana. Perbuatannya langsung diprotes oleh Jing Ling.


"Apa yang kau lakukan? Ini kesempatan bagus untuk menggali informasi," ucap Jing Ling.


Qing Yue'er menyesalkan keterlambatan otak Jing Ling. Dia menghela napas tanpa daya. "Di mana tempat tinggal Mei Yiran? Aku akan pergi mendapatkan sitarnya. Kau tetap di sini mengawasi pergerakan mereka."


"Itu ide bagus!" Jing Ling setuju, kemudian dia menunjukkan di mana tempat kediaman Mei Yiran.


"Sebelum aku kembali, jangan biarkan Mei Yiran datang." Qing Yue'er berpesan pada Jing Ling. Setelah itu dia langsung meluncur ke tempat yang dituju.


Ternyata kediaman Mei Yiran terletak terpisah dengan rumah hiburan. Itu berada tepat di belakangnya dan hanya terpisah oleh taman obat kecil. Pantas saja semalam Qing Yue'er mencari-cari di rumah hiburan dan tak kunjung menemukannya.


Qing Yue'er melewati taman obat dan menemukan beberapa herbal yang cukup langka. Hatinya sedikit tertarik, sayangngnya dia tidak memiliki waktu untuk memperhatikan lebih jauh.


Dengan langkah yang cepat, dia bergerak menuju kediaman Mei Yiran. Di sana nampak sepi, tapi dia tidak boleh ceroboh. Pasti wanita itu memiliki penjagaan yang rumit.


Setelah mengamati selama beberapa saat, Qing Yue'er menemukan bahwa di sana benar-benar sepi tanpa seseorang pun yang terlihat. Bukannya senang, Qing Yue'er malah merasa bahwa semuanya tidak benar.


Meskipun begitu dia merasa akan sangat disayangkan jika dia tidak memanfaatkan kesempatan ini. Akhirnya dengan langkah hati-hati dia pun pergi menyelinap masuk ke dalam rumah itu.


Sementara itu di dalam rumah hiburan, Mei Yiran memandang orang-orang di hadapannya dengan mata menyipit. "Jadi apa yang kalian inginkan?"


Zhao Zirui terdiam belum mengeluarkan suaranya. Dia masih ingat dengan penolakan yang dilakukan oleh Mei Yiran padanya. Hatinya merasa tidak senang karena harga dirinya seperti terinjak oleh seorang wanita semata.


"Nona, aku rasa kamu seharusnya memberitahu kami bagaimana ini bisa terjadi. Jangan berpikir kami bodoh hanya karena kami tidak melakukan apa-apa," ucap pria bertubuh kuat dengan nama Su Hen.


Lalu pria lain yang sedikit lebih kurus ikut menimpali. "Bukan tidak, lebih tepatnya belum."


Suasana menjadi hening. Mei Yiran tampak mendengus. "Apa kalian pikir aku takut?" cibirnya.


"Bukan seperti itu. Aku rasa akan bagus kalau kita bekerja sama dan membuat kesepakatan."


"Bekerja sama?" tanya Mei Yiran.


"Ya. Bukankah kau ingin mendapatkan kekuatan jiwa yang melimpah? Meskipun aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi selama kau memberi keuntungan maka kami bisa mempermudah jalannya," ucap Su Hen.


Sebelum sempat menjawab, Mei Yiran merasakan getaran tertentu yang memperingatkan kewaspadaannya. Matanya langsung berkilat dengan kekejaman.


"Akhirnya datang juga," gumamnya.