Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Suara Misterius


Xie Song mengerutkan keningnya. Melihat tamu tak diundang itu membuat dia bertanya-tanya alasan kedatangannya. Kemudian dia pun bergerak keluar diikuti oleh Xie Ying Fei.


Bukan hanya mereka berdua yang bergerak menuju tempat kekacauan. Namun, beberapa anggota istana Tianjun juga keluar untuk melihat apa yang baru saja terjadi.


Mereka terkejut setelah melihat keadaan di luar. Gerbang istana yang kokoh sekarang sudah retak. Ada juga beberapa puing yang berserakan di tanah.


“Tuan Xie, bagaimana ini? Aku tidak sengaja terjatuh dan membuat keributan di wilayah kalian,” ucap seorang pria paruh baya yang berdiri di tepi reruntuhan. Wajahnya menunjukkan beberapa penyesalan.


Namun, Xie Song bisa melihat kepura-puraan di balik wajahnya. Bagaimana mungkin ada seorang ahli alam surgawi yang tiba-tiba jatuh dari langit? Hua Yan ini datang bukan dengan berjabat tangan, tetapi malah mengawalinya dengan keributan.


“Tuan Hua, siapa pun tahu tidak ada ahli alam surgawi yang bisa terjatuh begitu saja. Apa itu karena tulangmu yang sudah menua? Eh, tapi aku yang bahkan lebih tua darimu saja tidak pernah mengalami hal itu,” balas Xie Song.


Hua Yan menjadi tidak senang. Dia tidak tahu ternyata Xie Song itu cukup pandai berbicara. Namun, tujuannya datang ke sini adalah untuk melihat Qing Yue'er. Dia ingin tahu seberapa bagusnya gadis itu.


Dia berdehem. “Kudengar kalian baru meruntuhkan klan Liu,” ucapnya.


“Apa masalahnya? Mungkinkah Tuan Hua ingin memberikan ucapan selamat pada kami?” tanya Xie Song yang masih tampak berdamai.


Dalam hati, Hua Yan mendecih. Tentu saja dia tidak akan mengucapkan selamat. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Kudengar kemenangan kalian ini bisa diperoleh karena ada gadis yang mengendalikan binatang ilahi. Jika gadis itu tidak ada bukankah kalian tidak akan menang?” tanya Hua Yan dengan sarkasme.


“Apakah gadis yang kau maksud itu cucuku?” tanya Xie Song terkejut. “Aku tidak akan memungkiri. Ah, aku memang memiliki cucu yang jenius,” lanjutnya lagi dengan kebanggaan di wajahnya. Dia sama sekali tidak malu mengakui jika kemenangan itu memang dibawa oleh Qing Yue'er.


“Kenapa Tuan Hua berbicara seperti itu? Apa kamu iri karena tidak memiliki seseorang yang jenius di klan Hua?” tanya Xie Ying Fei yang sudah tidak senang dengan kedatangan Hua Yan.


“Kalian ini ....” Hua Yan tidak tahu harus berkata apa. Niatnya adalah untuk membuat mereka merasa malu karena sudah mengandalkan gadis muda. Namun, mereka justru merasa bangga dan sebaliknya mereka mengejek keadaan klan Hua.


“Untuk apa aku iri? Kalian jangan pernah lupa, leluhur kami juga bukan orang sembarangan," ketus Hua Yan.


“Ah, aku tahu itu. Jadi, apa kamu sering mengunjungi makam leluhurmu? Mengingat itu, aku jadi bertanya-tanya, apa warisan leluhur kalian sudah ditemukan?” tanya Xie Song.


“Bukan urusanmu. Aku peringatkan kamu jangan pernah mengungkit masalah warisan klan Hua.” Hua Yan berkata dengan nada yang dingin.


“Baiklah.” Xie Song mengangguk. “Hari ini aku tidak akan memintamu untuk mengganti rugi. Kalau begitu, permintaan maaf, aku tidak akan mengantarmu.”


Xie Song segera pergi, meninggalkan Hua Yan yang wajahnya kini sudah menggelap. Dia tidak ingin membuat keributan dengan klan Hua karena klan Xie sendiri baru saja bisa menghirup napas dengan lega.


Xie Ying Fei pun mengabaikan Hua Yan. Dia memerintahkan orang lain untuk kembali ke tempat masing-masing. Baru saja dia hendak pergi tiba-tiba Hua Yan mengeluarkan suara.


“Katakan padaku, di mana putrimu?”


Hua Yan mendengus. “Kamu harus mengajarinya dengan baik. Bagaimana bisa gadis seperti dia memiliki keberanian untuk mencelakai putraku?!”


Mendengar itu Xie Ying Fei langsung mengerutkan kening. “Aku rasa Hua Tian yang terlebih dahulu membuat masalah. Orang sepertimu rupanya tidak bisa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Bukankah ini sedikit memalukan?”


“Dasar j*lang! Sia-sia aku berbicara denganmu,” ucap Hua Yan dengan marah. Ucapan Xie Ying Fei terdengar sangat merendahkan martabatnya.


“Pergi sekarang atau klan Hua berada dalam masalah.” Xie Ying Fei mengancam dengan suara yang dingin. Sorot matanya yang biasa terlihat hangat, kini menjadi sangat datar.


Hua Yan mendecih. “Lihat saja nanti, Xie Ying Fei. Jangan merasa senang dulu," ucapnya. Setelah itu sosoknya langsung menghilang begitu saja.


Xie Ying Fei menarik napasnya. Sepertinya apa yang dikatakan ayahnya benar. Keadaan di luar sana cukup berbahaya. Orang-orang Celestial mungkin banyak yang penasaran pada Qing Yue'er. Dia harus segera mencari gadis itu.


***


Setelah meninggalkan istana Tianjun, Hua Yan terbang kembali menuju istananya sendiri. Perasaannya menjadi buruk. Dia pikir setidaknya dia bisa melihat Qing Yue'er. Namun, bukannya bertemu dengan gadis itu, dia malah mendapatkan banyak kemarahan.


“Tidak perlu terburu-buru. Aku akan memikirkan cara,” gumamnya.


Tepat ketika dia hampir sampai, tiba-tiba langit di hadapannya berubah menjadi gelap. Kilatan petir di langit terlihat saling bertautan. Udara dingin dan gelap terasa begitu kuat ketika menyentuh kulit.


Hua Yan mengerutkan keningnya. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke belakang, tetapi langit di sana masih cerah seperti sebelumnya. Langit penuh petir itu hanya ada di hadapannya saja. Apa yang terjadi? Mungkin dia harus cepat pergi.


Namun, saat dia hendak kembali bergerak, tubuhnya berubah menjadi kaku. Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Hua Yan dengan bingung. Dia kembali mencoba bergerak, tetapi hasilnya tetap sama. Apakah ada seseorang yang sengaja melakukan ini? Siapa?


Hua Yan menjadi waspada. Tidak semua orang bisa melumpuhkan seseorang yang berada di alam surgawi. Siapa pun yang bisa melakukannya, maka dia pasti memiliki kekuatan yang luar biasa.


Tepat ketika Hua Yan merasa kebingungan, tiba-tiba dia mendengar suara menggelegar dari arah langit.


“Klan Xie memiliki kekuatan yang tidak terduga. Apa kamu membutuhkan bantuan?”


Suara itu terdengar begitu mendominasi dan membuat Hua Yan merasa sedikit limbung. Itu tidak terdengar seperti suara pria, tetapi sulit juga untuk mengatakan apakah itu bahkan suara manusia. Rasanya siapa pun yang baru saja berbicara memang sengaja memanipulasi suaranya.


“Siapa kamu? Bagaimana aku bisa yakin kalau kamu bisa membantuku?” tanya Hua Yan dengan suara yang bergetar. Sepertinya dia benar-benar tidak bisa berbicara sembarangan.


“Aku khawatir kamu akan ketakutan jika mengetahui siapa aku yang sebenarnya.”