
Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Liu Wen membuat Taotie tertawa keras. “Di mana lubang raksasa itu? Tunjukkan padaku, apakah itu benar-benar bisa menelanku atau tidak.” Bukannya merasa takut Taotie justru tertarik untuk melihatnya secara langsung.
Liu Wen sedikit tegang. Namun, tanpa menunda apa pun dia langsung membuat gerakan besar. Lubang hitam raksasa kembali muncul di langit, tidak jauh dari tempat di mana Taotie berada.
“Taotie, karena kamu tidak seharusnya berada di sini maka aku akan mengirimkanmu ke dimensi lain untuk mengisolasikan keberadaanmu!” Liu Wen berkata dengan suara berat.
Qing Yue'er berdecih dengan sinis. Sekarang Liu Wen ini bertindak seolah-olah sedang membela kebenaran. Itu sama sekali tidak cocok dengan keserakahannya. Dia tahu, jika Liu Wen memang berhasil mengurung Taotie pasti yang akan dilakukan adalah mengajak kerja sama agar Taotie mau menuruti keinginannya. Isolasi itu hanya omong kosong semata.
“Inikah lubang hitam yang kau katakan?” tanya Taotie dengan heran. Kemudian dia membuka mulutnya lebar-lebar. Bahkan mulutnya masih lebih lebar dari lubang raksasa buatan Liu Wen.
“Kau pikir ini bisa menelanku? Omong kosong macam apa itu, hahaha ....” Taotie kembali tertawa keras. Kali ini tawanya terdengar begitu mengejek.
Qing Yue'er yang melihat kenyataan ini seketika ikut tertawa juga. “Taotie, kenapa kau tidak melahapnya juga?”
Taotie tampak berkedip. “Oh, benar juga. Aku penasaran apakah ini memiliki rasa yang lezat?” gumamnya. Kemudian dengan perlahan dia membuka mulutnya lagi hanya untuk menyedot lubang hitam raksasa itu masuk.
Orang-orang yang melihat ini hanya bisa terperangah. Perasaan mereka benar-benar terguncang ketika melihat lubang hitam yang bahkan tidak bisa dilawan oleh Xie Song itu ternyata bisa dilahap oleh Taotie. Ini ... mencengangkan. Ini baru raksasa yang sesungguhnya!
Liu Wen hanya bisa melemas. Dia menatap tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. “Tidak mungkin!”
“Ini tidak ada rasanya sama sekali,” gerutu Taotie seolah apa yang dia katakan adalah hal yang sangat wajar.
Qing Yue'er berkedip beberapa kali. Tentu saja tidak ada rasanya. Lagi pula itu adalah lubang kosong yang berarti hanya udara. Dia menatap Taotie dengan lelah. “Lanjutkan saja apa yang akan kau lakukan.”
Taotie menatap Qing Yue'er sebentar. “Apa aku tidak perlu memakan orang itu?” Apa yang dimaksud olehnya adalah Liu Wen.
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. Dia memiliki caranya sendiri sekarang. “Tidak perlu.”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali membersihkan sampah-sampah pertempuran,” ucap Taotie sambil melesat pergi dari sana. Dia akan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
“Apa Ibu baik-baik saja sekarang?” tanya Qing Yue'er sambil memutar-mutar trisulanya.
“Tentu saja. Aku baik-baik saja.” Xie Ying Fei mengangguk dengan senang. Dia menatap Qing Yue'er dengan penasaran, ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan.
“Kalau begitu Ibu boleh menggunakan ini untuk memberikan pemukulan yang baik pada orang ini,” ucap Qing Yue'er. Seringaian dingin muncul di bibirnya. Kemudian dia langsung melemparkan trisulanya pada ibunya.
Xie Ying Fei dengan gesit menangkap trisula itu. Dia mengamatinya sejenak dengan tatapan takjub. Dia tahu senjata itu tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, apalagi biasanya sebuah senjata kelas atas akan memilih seseorang sebagai tuannya. Dan dia yakin jika trisula itu pasti sudah memilih Qing Yue'er sebagai orang yang berkuasa di atasnya.
Meskipun begitu selama Qing Yue'er menghendaki maka orang lain bisa memakainya. Seperti sekarang. Karena Qing Yue'er membiarkannya memakai trisula itu, berarti dia memang bisa menggunakannya.
Dengan trisula di tangannya, Xie Ying Fei bergerak cepat melesat ke arah Liu Wen. Dia mengayunkan senjata panjang itu hingga ketiga ujung runcingnya merobek udara di depannya.
Whoosshh!
Hempasan energi yang begitu kuat langsung melemparkan Liu Wen ke belakang. Bagaimanapun juga saat ini keadaannya tidak sebaik sebelumnya. Menciptakan banyak lubang juga membuatnya kehilangan banyak tenaga.
Xie Ying Fei memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menyerang Liu Wen. Tak henti-hentinya dia merobek ruang kosong di udara hingga menciptakan retakan spasial yang menakutkan.
Qing Yue'er menatap takjub pada ibunya. Sepertinya dia harus belajar lebih banyak tentang bagaimana cara menggunakan trisula dengan benar. Dia benar-benar kagum dengan ibunya yang terlihat seperti seorang jenderal perang dengan baju armor peraknya.
Hanya dalam beberapa saat Liu Wen yang awalnya masih sedikit lebih baik, kini kondisinya menjadi sangat jauh dari kata baik. Bajunya memiliki robekan di banyak tempat. Penampilannya yang berantakan menjadi semakin berantakan lagi.
Banyak sekali luka goresan yang sengaja dibuat oleh Xie Ying Fei. Bahkan, wajahnya tidak bisa terhindar dari goresan itu. Meskipun Liu Wen mencoba untuk menghindar tetapi kenyataannya Xie Ying Fei tidak memberikan banyak kesempatan padanya.
“Kalian benar-benar tidak tahu malu! Bagaimana kalian bisa melawan satu orang menggunakan banyak bantuan?!” Liu Wen mengecam sambil menahan napasnya yang terasa sesak.
“Tentu saja. Kami adalah orang yang datang menyerang. Jika kamu tidak memiliki seseorang untuk membantu, katakan saja apakah ini yang dinamakan dengan dengki?”
Liu Wen memelotot pada Xie Ying Fei. “Aku tidak pernah iri dengan klanmu! Klan Liu-ku lebih baik darimu karena bisa melahirkan satu dewa, bagaimana denganmu?!” teriak Liu Wen dengan marah.
Xie Ying Fei menatap Liu Wen dengan datar. Dia membenci Liu Wen bersama dengan seluruh klannya. Orang inilah yang sejak dulu selalu menekan klan Xie. Orang inilah yang secara tidak langsung membuatnya berpisah dengan Qing Yue'er selama bertahun-tahun. Sekarang dia memiliki kesempatan untuk menghancurkan wajahnya. Maka dia akan melakukannya dengan baik.
Dengan suara yang dingin dia berkata, “Kami akan segera melakukannya.”
“Cih, begitu percaya diri!” Liu Wen meludah ke tanah.
Pada saat itulah dia merasakan udara dingin yang merambat ke punggungnya. Dari arah depan dan belakang dua senjata meluncur dengan kecepatan kilat.
Whoossh whoossh!
Chi.
Seketika darah merah langsung terciprat ke segala arah. Pedang panjang itu menembus leher Liu Wen begitu saja. Ini benar-benar pemandangan yang menakutkan.
“Ka—kalian tidak akan hidup ... dengan ... tenang.” Liu Wen berkata dengan suara yang tersendat. Matanya masih memelotot lebar ketika denyut jantungnya mulai melemah.
Qing Yue'er menatap Liu Wen dari belakang. Dialah orang yang sudah melemparkan pedang itu. Rasanya tidak akan puas jika dia tidak ikut membunuhnya. Benar, hatinya memang masih penuh dengan dendam dan amarah yang tersisa. Sekarang karena Liu Wen sudah mati maka dia merasa sedikit lebih lega.
Xie Song menatap dua orang yang sudah membunuh Liu Wen. Perasaan haru tidak bisa terlepas dari hatinya. Akhirnya dendam, amarah dan rasa takut yang mencekiknya selama bertahun-tahun kini sudah mulai lenyap. Ya, kekuatan terbesar klan Liu berada di tangan Liu Wen, terlepas dari orang yang sudah diangkat menjadi dewa.
Xie Ying Fei berjalan mendekati Liu Wen. Dia menatap orang tua itu dengan sendu. Jika tidak ada permusuhan pasti dia juga tidak akan membunuhnya. Namun, ini adalah sesuatu yang mungkin sudah ditakdirkan. Dia sendiri melakukan ini demi klannya. Dia tidak ingin di masa depan klan Xie dibantai oleh klan Liu. Sebelum itu terjadi maka klan Xie dulu yang harus bergerak membantai klan Liu.
Dengan perlahan dia mencabut pedang beserta trisula yang menancap di tubuh Liu Wen. Pria itu benar-benar mati. Meskipun dia tidak tahu apakah ini adalah akhir dari segalanya atau bukan, tapi dia tetap merasa ini adalah hasil yang tidak buruk.
Xie Ying Fei bergerak menghampiri Qing Yue'er. Dua senjata di tangannya kembali diserahkan pada pemilik aslinya. “Terima kasih. Hal baik ini terjadi karena ada kamu di sini,” ucapnya sambil tersenyum.
“Ibu, ini adalah apa yang harus kita lakukan. Ini bukan karena aku, tapi ini karena keberanian semua orang. Jika kalian hanya menunda maka kemenangan ini tidak akan pernah datang,” ucap Qing Yue'er sambil menyimpan kembali senjatanya.
“Ah, itu tidak juga,” ucap Xie Song. Harus dia akui bahwa Qing Yue'er adalah pemilik peran terbesar. Dia sendiri harus berterima kasih padanya.
Sementara mereka berbicara sebentar, Taotie benar-benar bekerja dengan efisien. Ketika mulutnya terbuka maka mayat-mayat mulai terserap ke dalamnya. Itu terlihat seperti tempat pembuangan sampah yang sangat berguna.
Para binatang ilahi menyelesaikan boneka- wayang dengan sangat baik. Berkat kerja sama mereka juga pasukan klan Xie menjadi lebih hemat tenaga. Mereka bersorak dengan senang. Beberapa orang bahkan mencoba mendekati para binatang ilahi hanya untuk meminta berkenalan. Jangan heran, binatang ilahi adalah sesuatu yang mewah bagi mereka.
Ying Jun mendengus. Dengan kesal dia berseru, “Minggir semuanya! Aku tidak ingin membuang waktuku dengan kalian!”
“Ah, tenang dulu, tenang dulu. Bolehkah aku mengetahui namamu? Kami semua sangat menghargai bantuanmu. Jadi, bisakah kita berbicara barang beberapa patah kata?” Seseorang yang merupakan perwakilan pasukan klan Xie berbicara dengan lantang.
“Kalian tanya namaku? Kalau begitu ingat ini, namaku adalah Ying Jun si Phoenix yang tampan!”
Mendengar ucapan itu membuat harimau putih mencibir. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan Ying Jun. Di masa lalu mereka pernah bertemu, tapi tidak ada jalinan apa pun. Mereka bukan teman, bukan juga musuh. Hanya sebatas sama-sama binatang yang mendapat keilahian dari langit.
“Rupanya masih sama sombongnya seperti dulu,” ucap harimau putih. Kemudian dengan rasa tidak peduli dia mulai mengubah wujudnya menjadi sesosok pria dewasa. Wajahnya terlihat tenang dan memiliki kharisma tertentu.
“Aku hanya berbicara berdasarkan kenyataan,” ucap Ying Jun dengan kepala terangkat.
“Kalau begitu tunjukkan pada kami seperti apa penampilanmu.” Orang yang merupakan perwakilan pasukan itu langsung mengutarakan gagasannya. Dia sendiri merasa ingin tahu seperti apa wujud manusia dari phoenix itu.
Ying Jun mendengus. Tentu saja dia tidak akan mau melakukannya. Meskipun dia sudah tumbuh lebih besar seiring dengan kekuatannya yang juga mulai kembali, tapi dia masih belum benar-benar kembali ke wujud semulanya.
Saat ini bentuk manusianya hanya terlihat seperti seorang remaja berusia 15 tahun. Itu sama sekali tidak lucu jika harus dibandingkan dengan si harimau putih. Ini hanya akan berakhir menjadi bahan lelucon saja.
“Biarkan aku membocorkannya.” Tiba-tiba Jinlong yang sejak tadi diam, ikut mengeluarkan suaranya.
“Bagaimana? Bagaimana?” Orang-orang langsung bertanya pada Jinlong.
“Jinlong! Jangan katakan apa pun pada mereka!” seru Ying Jun untuk mencegah Jinlong mengatakan sesuatu. Namun, Jinlong tidak mendengarkan seruannya. Naga emas itu bersiap untuk menyemburkan semuanya.
“Dia tidak tampan sama sekali. Lebih tepatnya lucu, ah, bayangkan saja bagaimana wajah seorang anak berumur 15 tahun.”
Orang-orang langsung tertegun dan menatap Ying Jun dengan penasaran. Apakah benar? Jika seperti itu mungkin sosok phoenix ini sebenarnya sangat menggemaskan bukan?
“Kamu benar-benar .... Itu tidak benar, bagaimana mungkin ada hal seperti itu?” Ying Jun mencoba mengelak dan membuat keributan dengan orang-orang di sekitarnya.
Mengabaikan keramaian di pihak Ying Jun, Taotie malah sibuk dengan dunianya sendiri. Ya, tentu saja karena baginya sekarang adalah surga yang sebenarnya. Sudah sangat lama dia tidak memakan sesuatu sebanyak ini. Mungkin setelah ini dia bisa tidur dengan nyenyak.
Hanya dalam waktu yang singkat semua sampah-sampah boneka akhinya masuk ke pembuangan mulut besar Taotie. Kemudian dia tampak bersendawa dengan suara yang begitu menggelegar. Jika dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna mungkin saat ini dia akan mengusap-usap perutnya. Sayang sekali dia hanya sepotong kepala yang sangat jelek.
Taotie bergerak mengelilingi istana Shenghuo hingga beberapa kali. Dia ingin melihat apakah ada manusia dari klan Liu yang mungkin saja tertinggal. Namun, semuanya sudah kosong. Sepertinya anggota-anggota klan Liu sudah mati semua.
Kemungkinan besar dia sudah memasukkan ke dalam mulut, tapi bagaimana dia bisa tahu apakah itu anggota keluarga klan Liu atau bukan. Yang dia tahu dia hanya akan menelan semua mayat-mayat atau boneka-boneka yang bertumpukan.
Qing Yue'er sendiri bergerak untuk memeriksa keadaan istana Shenghuo. Dia ingin mencari apakah ada harta atau sesuatu yang berguna baginya. Mungkin dia bisa memanfaatkannya.
Dia bergerak memasuki ruangan utama klan Liu. Dia tertegun ketika melihat satu patung besar yang ada di sudut ruangan. Di bagian bawahnya terdapat pahatan berbentuk kotak, tidak, itu bukan kotak karena bentuknya lebih terlihat seperti sebuah buku tebal.
Qing Yue'er segera memeriksanya dengan teliti. Matanya sedikit terbelalak ketika menyadari sesuatu. Dia menatap patung itu dengan mata menyipit. Setelah beberapa saat dia menjulurkan tangannya di udara. Sebuah buku tebal langsung muncul di telapak tangannya.
Dengan cepat Qing Yue'er langsung mencocokkan keduanya. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia temukan. Tulisan di permukaan keduanya ternyata sama persis, yaitu Formula Dewa Alkimia.
Qing Yue'er mengedipkan matanya beberapa kali. Ini adalah sosok Dewa Alkimia yang selama ini kitabnya sering dia pakai. Apakah ini dewa yang berasal dari klan Liu? Atau mungkin ini hanya dewa yang mereka puja? Dia benar-benar tidak tahu.