
Setelah Qing Yue'er mengantongi kristal Burung Api, dia kembali menyusuri lorong yang ada. Dia bergerak cukup jauh lagi sampai akhirnya sampai di tempat paling ujung. Di sana ada cahaya samar yang terlihat seperti dinding. Itu pasti segel yang sudah ditembus oleh iblis.
Qing Yue'er ragu-ragu. Apa yang harus dia lakukan? Segel itu sudah terlihat lemah. Sepertinya dia harus menguatkannya. Namun, dia merasa pahit karena kekuatannya pasti tidak akan memadai.
Ketika dia sedang berpikir tiba-tiba Mo Jingtian muncul. Dia melihat pria itu bergerak mendekati segel. Kemudian dengan sekali ketuk segel itu langsung hancur. Apakah segel itu yang sudah terlalu lemah atau karena Mo Jingtian yang terlalu kuat?
“Ini sudah diciptakan sejak lama. Seharusnya ada yang berwenang untuk memperbaruinya. Namun, sepertinya mereka terlalu tidak berguna.” Mo Jingtian berkata dengan nada penuh ejekan. Jarinya melukis formasi di udara dan melemparkan rangkaian formasi itu untuk membentuk segel baru.
Baangg!
Bunyi ledakan bisa terdengar di telinga Qing Yue'er. Segel baru akhirnya terbentuk dengan sempurna. Sebenarnya dia tidak tahu siapa orang yang dimaksud oleh Mo Jingtian tetapi dia tidak menanyakannya.
“Kamu bisa menyuruh Taotie untuk menghancurkan tempat ini,” ucap Mo Jingtian.
“Apa kamu akan pergi?” Qing Yue'er bertanya. Entah kenapa dia tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu. Dia merasa seperti ada kegelisahan tertentu dalam hati Mo Jingtian. Hanya saja pria itu tidak mengatakan kepadanya.
“Mungkin, ada sesuatu yang harus aku pastikan.”
Qing Yue'er hanya menatap Mo Jingtian dengan diam. Sampai akhirnya pria itu kembali bertanya, “Bagaimana jika waktumu sudah dekat?”
Kedua mata Qing Yue'er berkedip. “Maksudmu?”
“Bukan apa-apa. Ketika aku kembali nanti, aku harap kamu sudah menginjak alam surgawi.” Mo Jingtian mendekati Qing Yue'er. Sorot matanya melembut. “Aku tahu kamu tidak pernah mau mengandalkanku agar tidak bergantung padaku.”
Qing Yue'er merasakan tangan Mo Jingtian yang memegang tangan kirinya. Kemudian sebuah cahaya putih yang menyilaukan tiba-tiba muncul menjerat jari manisnya. Jantungnya langsung berdegup dengan cepat.
“Kau tahu, aku senang karena kamu berpikir seperti itu,” ucap Mo Jingtian. Kemudian dia menarik Qing Yue'er ke dalam pelukannya.
“Jingtian, kamu bertindak seolah-olah kita akan berpisah lama.” Akhirnya Qing Yue'er memeras kata-katanya. Dia menatap cahaya putih yang melingkar di jari manisnya. Jika ini ada di dunia modern, mungkin inilah yang disebut cincin.
Pei! Apa yang dia pikirkan?
“Aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya, takut,” ucap Mo Jingtian.
Qing Yue'er menjadi bingung. “Apa yang kau takutkan?”
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er dengan dalam. Ada perasaan frustrasi dalam tatapannya. Namun, ada juga keengganan dan ketidakpastian. “Karena kamu terlalu luar biasa.”
“Memangnya kenapa jika aku luar biasa? Aku tidak berpikir seperti itu. Jika dibandingkan denganmu, aku sama sekali bukan siapa-siapa,” ucap Qing Yue'er dengan jujur. “Kadang-kadang aku heran juga kenapa kamu mau repot-repot—”
Sebelum kalimatnya terucap dengan sempurna, jari telunjuk Mo Jingtian sudah terulur untuk menghentikan kalimatnya. “Jangan sesekali berpikir seperti itu.”
Senyum manis mengembang di bibir Qing Yue'er. Kemudian dia pun mengangguk. “Pergilah. Jangan pulang dengan luka seperti dulu.”
“Tentu.” Mo Jingtian tersenyum. Itu adalah senyum yang membuat Qing Yue'er tidak akan pernah bisa berpaling. Karena sejak saat itulah dia bersumpah untuk menjaga perasaannya sendiri.
Sekali lagi Mo Jingtian mendekap Qing Yue'er dan mendaratkan kecupan ringan di puncak kepalanya. Setelah itu sosoknya langsung menghilang tiba-tiba.
Qing Yue'er hanya merasakan kekosongan di lengannya. Kemudian dia segera memutar tubuhnya untuk kembali. Dia tahu Mo Jingtian pasti memiliki banyak urusan dan dia tidak bisa menjadi penghalang untuknya. Jika nanti dia sudah setara maka dia akan mencoba untuk melihat apa yang sebenarnya pria itu lakukan.
Daripada menyesalkan kepergian Mo Jingtian lebih baik dia fokus untuk meningkatkan kekuatannya. Dia tersenyum dan kembali memandang jari manisnya. Ah, ini cukup menenangkannya.
***
Qing Yue'er keluar dari sumur. Saat dia tiba di atas, tanah di permukaan langsung bergetar. Itu adalah Taotie. Makhluk itu sedang menghancurkan lorong dan pasti hasilnya akan berpengaruh pada tanah di luar. Namun, beruntung karena tanah di sana bukanlah tanah yang ditempati oleh penduduk.
Beberapa saat kemudian, Taotie keluar dari sumur. Rupanya dia sudah merubah wujudnya menjadi manusia. Siapa namanya? Qing Yue'er sedikit lupa. Oh, Wu Hei'an. Dia baru mengingatnya sekarang.
“Biarkan aku ikut dengamu!” Taotie tiba-tiba merengak di bawah kaki Qing Yue'er. Sungguh tidak ada harga diri sama sekali.
“Aiyya, lepaskan kakiku! Jangan seperti ini, orang lain akan melihatnya!” Qing Yue'er menarik kakinya menjauh. Sepertinya si Taotie ini juga akan sulit dihadapi. Calon pembuat masalah.
Taotie menjauh. Dia tertawa malu. “Aku ingin ikut denganmu, bagaimana? Lagipula aku bisa menjagamu jika sewaktu-waktu ada orang yang akan berbuat sesuatu padamu.”
“Aku tidak membutuhkannya. Daripada kamu, lebih baik jika aku membawa Ying Jun,” ucap Qing Yue'er.
“Heh? Bagaimana bisa? Ini benar-benar tidak adil!”
Taotie mendengus. “Pelit sekali.” Akhirnya dia hanya bisa kembali lagi ke dimensi. Namun, kali ini dia mencari kesempatan untuk masuk ke dimensi Qing Yue'er. Dia tahu jika Mo Jingtian sudah pergi ke tempat yang tidak diketahui. Jadi dia tidak takut untuk datang ke dimensi itu dengan bebas.
Qing Yue'er menghela napas dengan berat. Terserah apa yang akan dilakukan makhluk itu, yang terpenting tidak membuat masalah untuknya. Sekarang dia akan kembali untuk menemui rekan-rekannya.
Mungkin karena kedatangannya sudah ditunggu jadi ketika dia sampai di kediaman Shen, orang-orang langsung menyambutnya dengan semangat. Seperti tuan Shen, dia sudah menyiapkan banyak jamuan makan siang. Itu benar, ini memang sudah siang.
Qing Yue'er menikmati saat-saat seperti ini. Keberhasilan setelah menyelesaikan misi memang sebuah sensasi yang menakjubkan. Seperti ada kepuasan tersendiri.
Mereka semua mulai menikmati makan siang. Luka-luka yang ditanggung sudah banyak diobati dan tidak ada yang sampai separah itu. Mungkin karena pengobatan yang diberikan oleh Su Yang juga bukan sesuatu yang biasa.
Xie Wuqing duduk di sebelah Qing Yue'er. Dia sangat bangga dengan gadis itu. Ah, memang pantas dia menjadi keturunan klannya. Meskipun tumbuh di tempat yang rendah, bukan berarti kekuatannya juga rendahan. Justru di sini ada banyak pelajaran dan perjuangan yang mereka lalui.
“Gadis, kamu terlihat berbeda,” ucap Xie Wuqing.
“Apanya yang berbeda?” Qing Yue'er bertanya dengan heran.
Xie Wuqing tidak dapat memastikannya. Namun, dia merasa ada aura tertentu yang menyelimuti tubuh Qing Yue'er. Aura yang membuat orang lain tidak akan memandangnya dengan remeh. Apakah ini hanya perasaannya saja?
“Tidak apa-apa. Meskipun kita mungkin tidak memerlukan makan tetapi sensasi dari menelan makanan adalah sesuatu yang berbeda.”
Qing Yue'ere mengangguk setuju. Memang, meskipun dia sudah mulai menjauhi makan tetapi sensasi itu selalu berbeda. Akhirnya dia mulai memakan makanannya.
***
Di sisi Dataran Tengah yang lainnya, seorang pria tua sedang berbincang-bincang dengan rekannya. Dia adalah Daoist Black Three yang sedang mengobrol dengan pria paruh baya yang sering dipanggil Liu. Namanya Liu Teng.
Daoist Black Three mengusap dagunya. “Kamu mendengar tentang penampakan naga di hutan Baihu?”
“Yang itu? Aku mendengarnya, sedikit,” ucap Liu Teng.
“Sungguh luar biasa. Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak ikut dalam pertandingan waktu itu?” Daoist Balck Three bertanya dengan heran. Biasanya Liu Teng adalah orang yang memenangkan pertandingan itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika gadis itu berduel dengan Liu Teng ini.
“Waktu itu aku memiliki urusan penting tetapi itu sudah lama, kenapa kamu masih mengungkitnya?”
“Karena gadis luar biasa itu yang mengalahkanku. Seharusnya kamu mencoba melawannya," ucap Daoist Black Three.
“Aku sudah mendengarnya tetapi aku tidak begitu tertarik.”
“Kamu selalu seperti itu. Tidak tahu apa yang bisa membuatmu merasa tertarik.”
Tiba-tiba ketika mereka sedang mengobrol, seseorang datang mendekati mereka. Itu adalah bawahan Liu Teng. Dia membisikkan sesuatu di telinga Liu Teng. Wajah mereka berdua terlihat serius.
“Ada apa?” Daoist Black Three merasa penasaran.
“Black Three, sepertinya aku harus pergi sekarang,” ucap Liu Teng setelah bawahannya selesai berbisik.
“Pergilah, pergilah. Tidak ada yang sedang menahanmu.”
Akhirnya Liu Teng pergi setelah membayar tagihan jamuan. Dia pergi ke kediamannya sendiri yang cukup tertutup. Dia bergerak dengan cepat menuju paviliun yang ada di halaman belakang. Wajahnya memang tampak serius.
Di dalam paviliun itu ternyata sudah ada seseorang yang menunggu. Dia adalah seorang tuan muda yang wajahnya cukup tampan. Kedua ujung matanya tampak lebih tajam sehingga mungkin akan mudah untuk mengintimidasi orang lain.
“Paman Teng, bagaimana?”
Liu Teng sedikit menunduk. “Tuan Muda Hua, aku sudah mendengar tentang naga yang keluar dari hutan Baihu. Jika kamu benar-benar menginginkannya mungkin kita perlu membutuhkan waktu untuk mencari.”
“Omong kosong. Seberapa susahnya mencari seekor naga? Aku mnginginkannya cepat-cepat!”
“Tentu saja itu bukan hal yang sulit. Aku akan segera mencari tahu. Ada yang bilang itu sudah ditundukkan oleh seorang murid dari akademi Surgawi.”
“Akademi Surgawi? Heh, aku ingin melihat apakah mereka masih bisa mempertahankan naga itu.” Hua Tian yang memegang kipas lipat menepuk-nepukkan kipasnya di telapak tangannya.
“Tuan Muda Hua, kembalilah sekarang. Jika kakekmu tahu pasti dia akan marah besar,” ucap Liu Teng.
“Baiklah.” Hua Tian mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, dia menatap Liu Teng dengan tajam. “Ingat Paman, aku tidak mau melihat kegagalan.”