
“Baik.”
Mo Jingtian mengepalkan tangannya dan menatap mereka dengan rumit. “Karena kalian sudah memintanya seperti ini, maka aku akan mengabulkannya.”
Qing Yue’er yang mendengar itu menutup matanya secara perlahan. Senyum lega akhirnya muncul di bibirnya. “Terima kasih ….”
Pria itu melangkah mendekatinya. Tangannya meremas kedua pundaknya lalu menariknya berdiri. Kemudian Mo Jingtian memeluknya dengan erat.
“Ini yang kau inginkan bukan?”
Qing Yue’er mengangguk. Matanya memerah menahan tangis. Dia sudah merelakan semuanya sekarang. Apa pun yang terjadi, dia sudah siap kehilangan segalanya.
Mo Jingtian melepaskan pelukannya. Dia mengusap pipi Qing Yue’er dan menatapnya dengan lembut. Hatinya terasa sakit. Kakinya melangkah mundur, lalu tanpa mengatakan apa-apa dia berbalik pergi.
Qing Yue’er hanya menatap kepergiannya dengan perasaan bersalah. Pasti sulit bagi Mo Jingtian untuk menghadapinya. Namun, pria itu harus belajar merelakannya. Bukankah ini adalah ujian terakhirnya sebagai Anak Surga?
Pada saat itu, orang-orang akhirnya mulai pergi. Xie Yingfei menuntun Xie Song keluar dari kamar. Pikiran mereka kalut dan itu membuat Qing Yue’er menghela napas sedih.
“Maafkan aku ….”
***
Hari itu juga, berita tentang rencana pernikahan Qing Yue’er menjadi topik hangat di Istana Tianjun. Banyak yang mengetahui tentang apa yang telah terjadi, tapi tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka.
Itu karena para petinggi istana sudah memperingatkan mereka untuk fokus dengan pekerjaan mereka daripada membicarakan hal-hal memalukan itu. Lagi pula identitas Mo Jingtian yang istimewa membuat mereka sedikit tidak nyaman untuk menggosipkannya.
Saat itu, Xie Song duduk di aula bersama saudara-saudara klan Xie-nya. Dia menarik napas panjang. “Aku tidak menyangka ini akan menjadi seperti ini.”
“Apa lagi yang bisa kita lakukan? Qing Yue’er yang menginginkannya,” Xie Yingfei berkata dengan lirih. Dia sudah menduga ini semua adalah rencana gadis itu untuk memaksa Mo Jingtian.
“Itulah kenapa aku membuatnya menang,” kata Xie Mao. “Kalian jangan membenciku jika sebelumnya begitu kasar. Aku hanya ingin membantunya mendesak dewa itu.”
“Apa kau menebak itu adalah rencananya?” Xie Yang bertanya.
Xie Mao segera menggeleng. “Tidak. Tapi aku sudah mendengar gadis itu selalu mengejar Tuan Mo. Jadi, pernikahan ini pasti sesuatu yang diinginkannya. Selain itu ….”
Dia berdeham. “Selain itu, ini adalah kesempatan yang bagus untuk memiliki menantu dewa. Tentu saja aku tidak ingin melewatkannya,” lanjutnya terang-terangan.
Xie Wuqing yang mendengar itu menjadi sedikit kesal. “Paman, kau benar-benar memikirkan hal yang bagus!” ucapnya dengan sarkas.
“Jadi, kapan waktu yang baik untuk melangsungkan acara pernikahan itu?” Xie Yang bertanya.
Kemudian Xie Song menghitung dengan jari-jarinya. Pria itu mempertimbangkan beberapa hal sebelum akhirnya memutuskan.
“Jika Yue’er menginginkan pernikahan yang besar, mungkin itu baru bisa dilakukan lima belas hari lagi. Namun, jika dia menginginkan acara yang sederhana, kita bisa melakukannya dalam tujuh hari.”
“Pasti acara yang sederhana,” kata Xie Wuqing.
“Aku akan menanyakan itu padanya nanti,” kata Xie Yingfei.
Xie Song mengangguk. “Kau lebih mengerti dengan urusan ini. Segala kepentingan seperti pakaian pengantin dan yang lainnya, persiapkanlah dengan baik.”
“Aku mengerti, Ayah.”
Setelah itu, Xie Song berdiri dari kursinya. Dia merasa lelah sekarang. Rencana pernikahan mendadak ini tidak membuatnya bersemangat atau bahagia.
“Aku akan kembali ke kamar. Kalian lakukanlah hal-hal seperti biasa,” katanya sebelum pergi.
Xie Song berniat untuk pergi ke kamarnya. Namun, langkah kakinya justru membawanya ke kamar Mo Jingtian. Dia mengetuk pintunya dengan pelan.
“Tuan Mo, ini aku.”
Beberapa saat kemudian, suara Mo Jingtian terdengar dari dalam. “Masuklah.”
Akhirnya Xie Song membuka pintu kamar. Dia masuk dan melihat Mo Jingtian sedang duduk di bawah. Tangan kirinya menyangga kepala, sementara tangan kanannya memegang guci anggur porselen.
“Ini bahkan masih siang, tapi rasanya sangat melelahkan bukan?”
“Duduklah,” kata Mo Jingtian.
Xie Song duduk di seberang pria itu. Dia tersenyum melihat anggur Mo Jingtian. “Ini sepertinya anggur yang bagus.”
“Kau boleh mencobanya.”
Tanpa ragu, Xie Song segera mengambil satu guci. Dia terkejut setelah mencium aromanya yang tidak begitu manis. Karena penasaran, dia pun segera menenggaknya. Keningnya langsung berkerut.
“Tuan, seleramu memang unik.”
Anggur itu terlalu pahit untuknya. Dia tidak akan bisa meminum terlalu banyak. Bukannya merasa ditenangkan, anggur itu justru bisa membuatnya muntah.
“Anggur yang manis akan membuat seseorang mengingat kenangan lama, tentang kerinduan, harapan, dan juga mimpi. Tapi anggur ini … akan menghentikan semuanya.”
Xie Song menghela napas mendengar itu. “Tuan, kau pasti merasa sedih dengan apa yang telah terjadi.”
“Bukan apa yang telah terjadi, tapi apa yang akan terjadi.”
Mo Jingtian mendongak lalu menenggak anggur itu tanpa ekspresi. “Aku tidak ingin membayangkannya, tapi anggur pahit ini bahkan tidak bisa mengusir bayangannya.”
“Aku tidak mengerti bagaimana pernikahan kalian akan mengancam hidup Yue’er. Apakah benar-benar seperti itu?”
Mo Jingtian menjatuhkan guci anggurnya yang sudah kosong ke meja. Dia menatap pria tua itu dengan rumit. “Hanya dengan menikahinya kekuatanku akan kembali. Tapi dalam prosesnya, aku tidak bisa menjamin keselamatannya. Apa kau benar-benar ingin aku menikahinya?”
Xie Song menunduk. Qing Yue’er memang pernah mengatakan tentang keinginannya untuk menikah dengan Mo Jingtian demi mengembalikan kekuatan pria itu. Namun, gadis itu tidak pernah mengatakan kalau itu akan mempertaruhkan nyawanya.
Kemudian dia menggeleng pelan. “Aku tidak akan mencegahnya. Dia ingin melakukan itu demi keselamatan tiga alam. Bagaimana aku bisa melarang niat yang begitu mulia ini?”
Mo Jingtian menenggak anggurnya lagi. Kemudian dia mengibaskan lengan bajunya, “Vermillion, bawakan itu sekarang,” perintahnya.
Beberapa saat kemudian vermillionnya muncul. Pria dengan jubah merah membara itu membawa kotak putih yang diukir dengan warna emas yang indah. Dia segera memberikan itu pada tuannya.
Mo Jingtian mengusap kotak itu dengan perasaan rumit. Itu adalah pemberian langit, sebuah barang sekaligus titah terikat takdir yang pada akhirnya tidak bisa dibantah.
“Aku tidak bisa memberikan hadiah apa pun untuk Qing Yue’er. Aku juga tidak membawa mas kawin dan seserahan seperti mempelai pria yang lain. Tapi ini … ini adalah pemberian orang tuaku. Dan aku akan memberikannya untuknya,” ucapnya dengan lirih.
Dia menyerahkan kotak itu pada Xie Song. “Aku ingin dia memakainya pada hari pernikahan kami.”
Xie Song menyentuh kotak itu. Sebuah perasaan khusus langsung menjalar ke hatinya. Itu sama seperti perasaan ketika dia menyentuh sesuatu yang begitu sakral.
Dia menatap Mo Jingtian dengan bingung sekaligus terkejut. Ada yang ingin ditanyakan, tapi pada akhirnya dia mengangguk yakin. “Aku akan memberikan ini padanya.”
“Terima kasih.”
Xie Song tersenyum. “Jangan pikirkan tentang mahar dan seserahan apa pun. Kami … kami tidak tahu apakah orang tuamu masih hidup atau tidak. Tapi hal-hal seperti ini biasanya disiapkan bersama orang tua mereka.”
Mo Jingtian menunduk dan tersenyum masam. Alangkah baiknya jika dia memiliki rumah dan orang tua. Mungkin mereka akan membantunya mempersiapkan acara pernikahannya.
Tapi untuk apa? Toh, pernikahan ini bukan hal yang benar-benar dia inginkan.
“Tuan, apakah lebih baik kita memberitahukan pernikahan ini kepada orang-orang di Celestial? Atau lebih baik tetap rendah hati dan tidak mencolok?” Xie Song bertanya.
“Semakin sedikit orang yang tahu akan jauh lebih baik. Lagi pula, pernikahan ini akan berbeda dengan biasanya. Aku akan membawa Qing Yue’er naik.”
Xie Song sedikit bingung mendengar itu. “Naik?”
Mo Jingtian mengangguk. Namun, dia tidak menjelaskan lebih banyak.
Akhirnya Xie Song tidak ingin mengganggu lagi. Dia segera pamit keluar sambil membawa kotak pemberian Mo Jingtian.