Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kunjungan Mo Jingtian


Xie Ying Fei sudah merasa lebih tenang sekarang. Dia hendak berdiri dengan bantuan Qing Yue'er, tetapi tiba-tiba melihat sosok Mo Jingtian yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dengan cepat Xie Ying Fei langsung bersujud menghadap Mo Jingtian.


“Xie Ying Fei dari klan Xie telah bersalah. Mohon beri hukuman untuk menebus kesalahannya,” ucap Xie Ying Fei dengan penuh penghormatan.


Qing Yue'er yang melihat situasi ini merasa sedikit aneh. Sulit membayangkan bagaimana ibunya bisa bersujud di depan orang lain. Dia tahu ibunya adalah orang yang memiliki gengsi tinggi. Namun wanita itu benar-benar menurunkan harga dirinya di depan Mo Jingtian.


Manusia normal memang sudah sepantasnya menghormati dewa yang memiliki derajat lebih tinggi. Namun haruskah Qing Yue'er juga melakukan hal-hal seperti itu pada Mo Jingtian? Tapi bagaimana mungkin, sedangkan dia sendiri sudah terbiasa bersikap santai dengan pria itu.


“Yue'er, kau juga harus turun,” bisik Xie Ying Fei. Meskipun putrinya mungkin memiliki hubungan yang spesial dengan Mo Jingtian, tetapi dia ingin gadis itu tidak melupakan posisinya yang masih hanya seorang manusia.


“Ibu, tapi ....”


“Tidak ada tapi. Tunjukkan rasa hormatmu, Qing Yue'er.” Xie Ying Fei kembali memberikan perintah.


Melihat perdebatan kedua orang itu membuat Mo Jingtian merasa lucu. Akhirnya dia mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka. “Aku sudah memikirkannya,” ucapnya yang langsung menarik perhatian Qing Yue'er.


“Xie Ying Fei, bagaimanapun juga kamu adalah istri Dewa Angin dan kamu sudah menemukan pencerahan sekarang. Aku tidak akan memberimu banyak kesulitan, tapi aku ingin kamu melakukan sesuatu ....” Mo Jingtian menggantung ucapannya.


“Aku akan melakukan apa pun yang diperintahkan,” balas Xie Ying Fei dengan sigap.


Mo Jingtian mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang diikat menggunakan benang cahaya. Setelah itu dia menyerahkannya pada Xie Ying Fei. “Pergilah ke Puncak Awan Abadi dan sampaikan ini pada penguasa di sana. Tidak perlu mengatakan informasi apa pun pada mereka.”


“Puncak Awan Abadi?” Xie Ying Fei sedikit terkejut setelah mendengar ini. Namun dia tidak berani mempertanyakan banyak hal dan segera menerima perintah tersebut. “Aku akan segera pergi ke tempat itu.”


“Bagus.”


Qing Yue'er tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Mo Jingtian. Dia juga tidak tahu apa itu Puncak Awan Abadi dan di mana letaknya. Namun dia tidak menanyakannya, mungkin Mo Jingtian akan memberi tahu jika memang dia pantas diberi tahu.


“Yue'er, katakan pada kakekmu bahwa aku baik-baik saja. Aku akan pergi sekarang,” ucap Xie Ying Fei tanpa keraguan.


“Benar-benar sekarang?”


Xie Ying Fei mengangguk. Puncak Awan Abadi memang tempat yang jauh, tetapi menurut sepengatahuannya di sana tidak ada banyak hal-hal yang berbahaya. Jadi dia tidak perlu membuang waktu untuk persiapan.


“Aku akan segera kembali,” ucap Xie Ying Fei sambil mengusap kepala Qing Yue'er.


“Emm.” Qing Yue'er mengangguk.


Qing Yue'er menatap kepergian ibunya sampai sosoknya tidak lagi terlihat. Setelah itu dia beralih menatap Mo Jingtian. “Sesuatu yang besar sudah terjadi semalam? Tamu tak diundang siapa yang kamu maksud?”


Ada jejak kekhawatiran di wajah Qing Yue'er. Benar, dia memang merasa sedikit cemas. Apa yang terjadi sampai Pulau Langit ini berubah menjadi tanah yang hancur? Mungkinkah ini akibat pertempuran Mo Jingtian? Jika benar seperti itu maka siapa yang berani bertempur melawan pria itu?


Belum juga mendapat jawaban, Qing Yue'er tiba-tiba merasakan ada banyak sosok yang mendekati Pulau Langit. Itu adalah orang-orang Celestial. Sepertinya mereka datang untuk melihat keadaan tempat ini?


“Aku akan menyegel tempat ini lagi,” ucap Mo Jingtian. Kemudian dia pun segera memasang kembali formasi pelindung yang sebelumnya sudah dihancurkan oleh kipas Xie Ying Fei. Tempat itu memang sudah hancur, tetapi dia bisa memulihkannya dengan mudah.


“Jingtian, cepat ceritakan, apa yang sudah terjadi? Melihat banyak orang yang ingin tahu, sepertinya ada kekacauan besar,” tebak Qing Yue'er.


“Dewa Alkimia datang,” ucap Mo Jingtian yang langsung membuat Qing Yue'er terkejut. Benar-benar terkejut karena itu berada di luar dugaannya.


“Dewa Alkimia? Apa yang dia inginkan? Jingtian, apa kau baik-baik saja?” Qing Yue'er segera meneliti keadaan Mo Jingtian. Untungnya dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.


“Untuk saat ini itu sudah selesai. Jangan khawatirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan.”


Qing Yue'er mengerutkan keningnya. Dewa Alkimia .... Ada banyak hal yang masuk kedalam pikiran Qing Yue'er. Dewa itu benar-benar datang. Apakah untuk membalas kehancuran klan Liu? Apa pun alasannya, Qing Yue'er yakin kedatangan Dewa Alkimia pasti bukan untuk Mo Jingtian. Lagi pula selama ini dia juga tidak pernah melihat dewa yang datang langsung untuk menentang Mo Jingtian.


“Ah, baiklah. Aku tidak akan memikirkannya. Lebih baik kita pergi sekarang.” Qing Yue'er berpura-pura tidak peduli. Daripada mengorek informasi dari Mo Jingtian yang kadang sangat pelit, lebih baik dia mendiskusikannya dengan Ying Jun nanti.


Mo Jingtian terdiam sejenak. Tiba-tiba saja dia menerima transmisi suara dari seseorang. Setelah beberapa saat barulah dia bereaksi. “Sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu,” ucapnya pada Qing Yue'er.


“Kamu memiliki urusan lain?”


Mo Jingtian mengangguk. “Tidak akan lama.”


“Bukan masalah.” Qing Yue'er segera mengangguk. Dia akan mengambil kesempatan ini untuk berdiskusi dengan Ying Jun. “Kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai jumpa.” Dia tersenyum manis, lalu segera melesat pergi.


Setelah Qing Yue'er pergi, Mo Jingtian juga segera meninggalkan Pulau Langit. Hanya dalam sekejap dia sudah berpindah ke tempat yang sangat jauh. Kali ini apa yang ada di hadapannya adalah tempat yang cukup tertutup. Harum aroma cendana menguasai seluruh tempat itu.


Ruangan di mana Mo Jingtian berada di dominasi oleh bebatuan yang terlihat sangat tua dan kokoh. Di tengah-tengah terdapat peti batu panjang seukuran manusia yang tertutup rapat. Terdapat ukiran unik di bagian atasnya. Mo Jingtian mendekati peti itu dan segera duduk berlutut di sampingnya.


“Guru, Jingtian ada di sini.”