
Dalam putihnya gumpalan awan, dua orang duduk saling berhadapan. Mereka tidak lain adalah Qing Yue'er dan Han Qiong. Wajah kedua orang itu nampak tenang dengan kedua mata yang tertutup rapat. Cahaya putih berpendar samar membentuk lingkaran yang melapisi mereka.
Han Qiong membuka matanya. Kedua tangannya melakukan segel dengan mulut yang bergerak untuk merapal mantra. Cahaya terang terlihat melapisi jari-jari tuanya yang sudah keriput. Setelah beberapa saat, dia menekan jarinya ke dahi Qing Yue'er.
Tubuh tuanya sedikit bergetar. Ini benar-benar bukan sesuatu yang mudah baginya, apalagi dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi. Sayangnya ini adalah sesuatu yang harus dia lakukan.
Ketika dia sedang fokus, tiba-tiba matanya berkilat dengan keterkejutan. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam tubuh gadis itu.
Dia mencoba mencari tahu dengan menyalurkan qi spiritual ke dalam tubuh Qing Yue'er. Namun setelah beberapa saat, dia tidak menemukan kelainan apa pun.
Wajah tuanya berkerut. Meskipun dia penasaran, sepertinya dia tidak perlu terlalu peduli.
Qing Yue'er tidak tahu apa yang ada di pikiran Han Qiong. Dia hanya duduk menyiapkan mentalnya untuk menerima sesuatu yang akan diberikan oleh Han Qiong.
Tekanan yang kuat dapat dia rasakan ketika Han Qiong menekan dahinya. Gelombang kekuatan roh dalam tubuhnya menggelegak seperti mencoba untuk dibangkitkan.
Tiba-tiba ledakan rasa sakit datang di kepalanya. Dia mencoba menahannya, namun semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.
"Tahanlah," ucap Han Qiong. Dia tahu bagaimana rasa sakitnya.
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa. Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Wajah cantiknya bahkan sudah lama kehilangan warnanya.
Tak selang lama rasa sakit itu telah berubah ke titik yang tak tertahankan. Qing Yue'er menggertakkan giginya untuk tetap menjaga ketenangan dan kesadarannya.
Setelah sekian lama menahan rasa sakit, tiba-tiba dia mendengar ledakan di telinganya. Arus hangat mengalir dari kepalanya menuju ke setiap detail tubuhnya. Perasaan seperti ini sangat melegakan, ketika arus hangat menyiram rasa sakitnya.
Dia membuka matanya dan mendapati bahwa dia hanya sendirian di sini. Di mana orang tua itu?
"Orang Tua, di mana kamu?"
Qing Yue'er mencari ke sekeliling tapi tidak menemukan apa pun. Mungkinkah urusan ini selesai sampai di sini?
Sekarang Qing Yue'er tidak tahu apa yang telah Han Qiong lakukan. Dia memeriksa kultivasinya, tapi tidak ada perbedaan. Itu masih level 2 alam langit. Lalu apa hadiah yang telah Han Qiong berikan?
"Periksa kekuatan rohmu," ucap Ying Jun dari dalam dimensi.
Qing Yue'er langsung mencobanya. Dia menuangkan kekuatan roh ke tangannya. Saat itulah dia merasa takjub. Sekarang warnanya bukan merah lagi, tapi berubah menjadi warna kuning.
"Apa ini serius?" gumam Qing Yue'er tidak percaya. Dia mencoba memeriksa berkali-kali dan hasilnya tetap sama.
Kekuatan rohnya telah naik level!
"Ini menakjubkan!"
Dengan perasaan antusias, Qing Yue'er meyalurkan kekuatan rohnya menuju kepalanya. Lalu dia menyalurkannya ke pintu gerbang yang terhubung dengan Dunia Roh.
Seperti yang telah dia duga. Han Qiong telah membantu memperluas daya serapnya. Sekarang gelombang kekuatan roh yang dia serap dari Dunia Roh telah meningkat beberapa kali.
"Sepertinya dia bukan orang biasa," ucap Ying Jun, "Dia hampir menemukanku."
"Ya, beruntung dia tidak melakukan apa pun," balas Qing Yue'er. Mungkin Han Qiong orang yang tidak akan membuat masalah dengan orang lain.
Dengan perasaan puas, Qing Yue'er berbalik untuk pergi dari hamparan putih yang luas ini. Namun saat dia baru berbalik, tubuhnya langsung mematung. Tidak bergerak maju atau mundur.
Sehelai bulu merah yang berapi-api nampak terbang ke arahnya. Qing Yue'er langsung menangkapnya. Dia tahu siapa yang telah mengirimnya.
Dia menggenggamnya. Kali ini dia tidak dipindahkan ke danau hatinya, tapi sosok samar tiba-tiba muncul tidak jauh darinya. Ketika Qing Yue'er melihat itu, dia langsung menghela napas.
"Ini masih hanya kesadaran," keluhnya.
Dia berjalan mendekati sosok pria berambut putih yang memiliki kelembutan tertentu. Dia mencoba menggapainya, dan itu memang hanya sebuah kesadaran.
"Kalau kamu hanya mengirimi gambar kosong seperti ini lebih baik tidak perlu datang!" gerutu Qing Yue'er. Dia meninju sosok Mo Jingtian beberapa kali untuk memuaskan rasa kesalnya.
Entahlah, dia hanya merasa tidak puas. Dia tidak mau mengakuinya, tapi mungkin hatinya memang sedikit merindukan pria dingin itu.
"Ketika hujan darah tiba, saat itulah aku akan datang," ucap Mo Jingtian.
"Hanya itu?" tanya Qing Yue'er sambil mendongak untuk menatap wajah tampan itu. Meskipun dia tahu bahwa sebuah kesadaran tidak bisa membalas ucapannya, namun dia masih tetap bertanya.
Mo Jingtian terdiam. Setelah beberapa saat, dia nampak menggerakkan bibir untuk berbicara. "Aku selalu mengawasimu."
Qing Yue'er hanya mendengus. Dia bersedekap untuk mendengarkan lebih lanjut.
"Dan ...." Sosok Mo Jingtian menatap ke dalam mata Qing Yue'er. Bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum samar.
"Aku merindukanmu."
Qing Yue'er tidak tahu, tapi ketika kesadaran itu menatapnya dia merasa seolah-olah Mo Jingtian sedang menatapnya dari jauh. Dia tidak bisa menahan senyumnya. Di mana pun Mo Jingtian berada, pria itu pasti tahu apa yang saat ini dia katakan.
"Hujan darah? Apa aku perlu melakukan pembantaian agar kamu datang?" tanya Qing Yue'er sambil terkekeh.
"Tidak tidak. Em, aku pasti akan menemukanmu," lanjutnya dengan percaya diri.
Setelah itu, dia mengangkat tangannya. Cahaya kuning terpancar di sana. Dia sedang menunjukkan kekuatan rohnya yang telah naik ke level baru.
"Aku baru naik level. Ah, ini benar-benar bukan hal mudah. Kamu tidak perlu khawatir, nanti ketika bertemu, aku pasti sudah tiba di level yang lain lagi," ucap Qing Yue'er.
"Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, tapi aku percaya kamu memiliki alasan tersendiri. Ya, kita akan bertemu suatu hari nanti," lanjutnya.
Setelah mengatakan itu dia tersenyum sebelum melambaikan tangannya untuk melenyapkan kesadaran itu. Semakin lama dia melihat bayangan Mo Jingtian hanya akan membuat perasaannya kacau. Lebih baik dia segera mengakhiri perjumpaan semu ini.
Dia menarik napas sebelum berbalik pergi meninggalkan awan putih ini. Sudah saatnya dia untuk melanjutkan misi.