Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Chapter 48


Bai Yin Xue menundukkan kepalanya. Ujung pedang yang lancip menembus dadanya dari belakang. Darah mulai jatuh mengalir. Mulutnya merasakan bau karat dari darah yang baru saja dimuntahkan.


Rasa sakit dari dadanya menyebar ke setiap sudut tubuhnya. Kegelapan di matanya menghilang dalam beberapa saat, tapi rasa sakitnya tidak berkurang.


Yang lebih menyakitkan lagi adalah perasaan marah, putus asa, dan frustasi yang melebur menjadi satu.


Dia melihat penatua yang tersenyum didepannya.


"Yoh, sepertinya tangan seseorang tergelincir dan pedang terhunus ke arahmu."


Bai Yin Xue menatap orang itu dengan dingin. Tatapan matanya beralih ke ayah dan pamannya yang sedang dicabik-cabik dengan belati.


Kenapa dia menjadi sangat tidak berguna?


Apa semuanya akan berakhir disini?


Tidak!


Kemarahan meluap tidak bisa ditahan lagi. Qi spiritual menyelimuti sosoknya yang suram. Dia meraung dengan seluruh keluhan dan kemarahan ekstrim.


"AAARRRGGGGHH!!!"


Teriakannya menggelegar di kesuraman langit malam. Awan hitam bergejolak di langit. Suara gemuruh segera datang membuat orang ketakutan.


Pandangan Bai Yin Xue menjadi buram. Dia hanya melihat awan hitam yang bergulung-gulung sebelum kesadarannya menghilang.


Tanah bergetar keras terombang-ambing. Tanah dibawah mulai retak menjadi jurang-jurang kecil sebelum mereka semakin melebar.


"Apa yang terjadi?"


"Surga, apakah ini kemarahan dewa?"


"Ahhh cepat pergi dari sini!"


"Cepat cepat!! Bencana alam akan terjadi!"


Semua orang yang ada di alun-alun bergetar ketakutan. Mereka mencoba melarikan diri dari bencana.


Penatua Sekte Hujan Darah menatap kebingungan. Mereka mencoba untuk terbang ke langit, tapi itu tidak berhasil. Ketakutan mulai datang mengisi hati mereka.


"Apa yang sedang terjadi?"


"Aku tidak tahu. Setelah gadis itu meraung tiba-tiba menjadi seperti ini."


"Pergi cepat pergi. Ini bukan hal baik."


Mereka segera melarikan diri melewati jurang-jurang yang semakin melebar. Sayangnya bagaimanapun juga mereka tidak bisa selamat dari bencana.


Di tengah kekacauan yang ada, seorang pria muncul dari udara tipis. Jubah merahnya berkibar tertiup angin. Dia melihat sekeliling dengan mata menyipit.


Pandangannya jatuh pada gadis yang tergeletak tidak sadarkan diri. Pedang panjang menembus tubuhnya dari belakang.


Hatinya bergetar saat melihat pemandangan ini. Matanya segera berubah menjadi dingin.


Sudah berapa kali gadis itu berjuang sendirian?


Seharusnya gadis itu tidak menderita kehancuran seperti ini.


Mo Jingtian bergegas mendekat, mencabut pedang dari tubuh Bai Yin Xue. Dia mengangkat tubuh yang berlumuran darah itu.


Dia melihat sekeliling dan matanya menyala saat melihat kerabat Bai Yin Xue. Seketika, sosok mereka menghilang dari tanah yang hancur ini dan dikirim ke tempat yang lebih aman.


Suara lolongan kesedihan terdengar dari bawah sebelum itu menjadi hening. Mo Jingtian terbang melayang melihat seluruh alun-alun jatuh membentuk sebuah lubang hitam. Itu adalah jurang yang dalam dan tak berdasar.


Semuanya terjadi dalam sekejap. Tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang sudah di amankan oleh Mo Jingtian.


Ini adalah amarah gadis kecilnya!


Ini adalah kekuatan gadis kecilnya!


Gadisnya sama sekali bukan sesuatu yang remeh. Dia akan menuntunnya untuk meraih puncaknya!


Mo Jingtian menutup matanya untuk menenangkan kejutan di hatinya. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya. Tatapannya jatuh pada wajah mungil yang ada di pelukannya.


Sosok merah dan putih itu menghilang di kegelapan malam, menyisakan keheningan yang mengerikan.


Lima hari telah berlalu sejak bencana yang terjadi di alun-alun. Seluruh kerajaan gempar dengan bencana yang terjadi saat kompetisi diadakan.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Dari sekian banyak orang, hanya ada segelintir yang selamat dari bencana itu. Tapi bahkan segelintir orang itu tidak dapat mengingat apa yang telah terjadi. Ingatan mereka seperti telah dihapus oleh seseorang.


Di dalam Perserikatan Alkemis.


"Rong Rong, apa kamu ingat apa yang terjadi saat kompetisi?" Ji Fan bertanya pada Qi Rong.


"Tidak, aku hanya tahu tubuhku dikirim ke rumahku sendiri."


"Kita mengalami hal yang sama."


Di dalam istana kerajaan Linxiang.


Ling Wuji duduk diatas tahtanya. Dia sedang berpikir dalam-dalam.


"Yang Mulia, apa kamu mengingat sesuatu?" Seorang penasihat kerajaan bertanya.


Ling Wuji menggelengkan kepalanya. "Tidak ada satupun yang bisa aku ingat. Semuanya seperti dihapus oleh orang lain."


Penasihat kerajaan hanya bisa menghela nafas.


Saat ini Bai Yin Xue masih belum terbangun dari tidur lelapnya. Luka-lukanya sudah membaik tapi dia masih belum sadar.


Xie Wuqing duduk menemani sosok yang terbaring dengan wajah pucat. Semua yang telah terjadi membuat hatinya bergetar.


Apakah mungkin bencana alam tiba bertepatan dengan waktu kompetisi? Sedangkan tanah alun-alun sudah ada sejak dahulu kala. Bagaimana itu bisa tiba-tiba hancur tenggelam ke dasar bumi?


Tapi jika bukan bencana alam, siapa yang melakukan ini?


Apakah itu benar karena teriakan Bai Yin Xue?


Bagaimana itu mungkin?


Segala macam pertanyaan dan tebakan muncul dalam otaknya. Dia tidak bisa benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Pikirannya melayang pada sosok merah dengan rambut putih. Pria itu benar-benar memegang kata-katanya. Dia menyelamatkan keponakannya dan bahkan kerabatnya.


Jika pria itu tidak datang tepat waktu mungkin mereka sudah terpendam di bawah tanah bersama mayat-mayat lainnya.


"Terima kasih untuk Dewa Penghancur Di Futian." Dia bergumam ringan.


"Uhuk!"


Bai Yin Xue terbatuk saat matanya membuka. Dia merasa tenggorokannya sangat kering.


"Ah keponakanku akhirnya bangun." Paman Wuqing berkata dari sampingnya. Dia mengambil secangkir air dan memberikan kepada Bai Yin Xue.


Setelah meminum air, tenggorokannya menjadi lebih baik. Dia menatap pamannya dengan rasa ingin tahu. Bagaimana mereka bisa selamat? Siapa yang menyelamatkannya?


"Yin Xue, apa kamu ingin tahu siapa yang menyelamatkan kita?"


Bai Yin Xue hanya mengangguk.


"Surga! Ini adalah Di Futian sang Dewa Penghancur, apa kamu tahu?" Paman Wuqing berkata dengan antusias. Selama ini tidak ada yang bisa dia ceritakan ke orang lain, karena dia harus menjaga identitas pria itu.


"...."


"Siapa Di Futian?"


"Kamu tidak tahu? Itu adalah pria tampan dengan jubah merah yang khas serta rambutnya yang putih."


Bai Yin Xue langsung mengangguk mengerti. Itu adalah Mo Jingtian!


Pikirannya melayang pada sosok itu. Saat pertama kali mereka bertemu, dia berpikir Mo Jingtian adalah iblis berdarah dingin. Tapi ternyata pria itu selalu menolongnya diwaktu yang tepat.


Dia teringat bagaimana mereka terhubung. Dari tangan lembut yang memeluknya, bibir mereka yang bertautan, suaranya yang menyenangkan. Wajahnya memanas saat mengingat hal-hal itu.


"Yah, dia sangat baik dalam segala hal."