
Pagi-pagi sekali lonceng akademi dibunyikan. Seluruh murid dikumpulkan di tanah lapang untuk melakukan uji binatang roh. Mereka semua datang dengan membawa binatang roh masing-masing. Ada beragam binatang yang berbeda-beda. Ada yang berukuran sekecil ulat sebaliknya ada yang sebesar monster. Tiba-tiba saja lapangan menjadi tempat yang begitu sempit.
Qing Yue'er yang baru tiba di sana menjadi heran. Kenapa mereka begitu pamer memunculkan binatang kontrak mereka? Sebenarnya bisa saja bagi binatang roh untuk bersembunyi dari manusia, tapi itu terserah masing-masing orang.
Dia sendiri tidak mungkin memunculkan binatang miliknya bukan? Itu hanya akan membuat orang lain terintimidasi karena hanya dia yang mungkin memiliki binatang illahi. Ya, mereka semua telah mengetahui tentang naga emas miliknya. Jadi sebenarnya tidak dibutuhkan baginya untuk datang ke sini. Hanya saja, dia tidak ingin melewatkan jika sewaktu-waktu ada pertunjukan yang menarik.
Sebenarnya banyak murid yang berbisik ketika melihat Qing Yue'er, tapi dia sudah sangat terbiasa dengan hal seperti ini. Cara menangani hal ini sangatlah sederhana, kamu hanya perlu mengabaikan mereka lalu mereka akan berhenti ketika lelah.
Luo Qingqi merapat pada Qing Yue'er. Dia berbisik, "Ini akan baik-baik saja bukan?"
"Ya, kamu tidak perlu cemas." Qing Yue'er menjawabnya dengan singkat. Dia sedang fokus untuk mengamati orang-orang yang mulai muncul di platform bagian depan.
Beberapa guru dan penatua muncul. Di antara mereka Qing Yue'er tidak banyak mengenalinya. Hanya Peng Liang dan Gu Xingren. Sisanya dia tidak benar-benar paham. Ya, sebenarnya ada banyak sekali guru di sini dan dia tidak mengenal semuanya. Oh, Han Qiong tentu saja tidak akan ada di sana. Orang tua itu pasti sudah memulai meditasinya.
"Xinyu, sepertinya dugaan kita benar," bisik Luo Qingqi.
"Benarkah?"
Luo Qingqi mengangguk. "Apa kamu ingin tahu seseorang yang menyukai Ling Suyao?"
Kedua alis Qing Yue'er dirajut. "Jadi dia ada di sini?"
Selanjutnya Luo Qingqi menunjuk pada seorang pria yang ada di antara guru-guru tua. Dia melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain, tentu saja. Qing Yue'er mengikuti arah tunjuknya dan melihat seorang pria dewasa yang terlihat asing. Sosoknya memang berwibawa, tapi hanya itu. Tidak ada yang begitu menarik baginya.
"Jadi dia? Kenapa dia bisa ada di antara guru-guru?" tanya Qing Yue'er, heran.
"Sebenarnya dia orang yang memiliki kedudukan. Itulah kenapa seharusnya kita tidak memiliki masalah dengannya." Luo Qingqi menghela napas. Ada banyak pemikiran yang masuk ke otaknya, tapi dia tidak bisa melakukan melakukan banyak hal.
"Berkedudukan?" Qing Yue'er terkekeh. "Seberapa hebat dia?"
Luo Qingqi menyikut Qing Yue'er agar tidak berbicara terlalu keras. Setelah itu dia pun kembali berbisik, "Dia dinyatakan sebagai penerus akademi."
"...."
Sudut bibir Qing Yue'er berkedut. "Penerus? Bukankah ini berarti kita sudah tersandung batu?" Dia terkejut mendengar hal ini. Sungguh ini adalah pertama kalinya dia mendengar tentang penerus atau apa pun itu. Bahkan dia tidak menyangka kalau Ling Suyao akan seberuntung itu karena sudah disukai oleh seorang penerus akademi sebesar ini.
Akan tetapi, jadi apa? Lagipula wanita itu sudah mati. Dan dia membunuhnya karena wanita itu yang terlebih dahulu memiliki niat buruk padanya. Jika dia tidak membunuhnya saat itu mungkin Ling Suyao bisa saja mengadukan tentang dirinya pada si pewaris itu. Qing Yue'er mencibir. Wanita itu memiliki dua wajah yang berbeda. Dia mengingatnya dengan baik.
"Haiz." Qing Yue'er menghela napas. Pantas saja tiba-tiba sekolah mengadakan uji binatang roh padahal sebelumnya tidak ada hal semacam ini. Jika itu adalah pewaris yang menginginkannya maka orang itu hanya perlu menjentikkan jari saja, lalu kemauannya dengan mudah terwujud.
"Yah, bisa dikatakan seperti itu. Jadi aku hanya berharap semoga tidak akan terjadi apa-apa," ucap Luo Qingqi memecah pikiran Qing Yue'er.
Qing Yue'er hanya mengangguk saja. Sebenarnya ini cukup berbahaya karena bisa dikatakan saat ini dia tidak memiliki dukungan yang cukup. Apalagi gurunya tidak ada di sini. Namun, dia tidak mau membebani dirinya dengan pikiran-pikiran yang hanya akan menyulitkannya.
Tak selang lama kemudian seorang guru memulai pembukaan dan menyampaikan maksudnya. Meskipun murid yang lain merasa heran tapi mereka semua tidak memprotes atau menolaknya. Justru beberapa dari mereka datang hanya untuk memamerkan binatang mereka. Sungguh lucu.
"Dengarkan baik-baik, kami hanya ingin mengetahui apakah murid-murid semua sudah mendapat binatang yang layak. Jadi izinkan kami untuk melaksanakan niat baik ini," ucap salah satu guru di sana.
Qing Yue'er mengangguk dengan malas. 'Niat baik kepalamu! Tinggal katakan saja kalau kalian ini ingin mencari pelaku pembunuhan Ling Suyao. Aih, para penipu.'
"Prosedurnya tidak akan sulit. Kami akan mendirikan tugu di sana." Orang itu menunjuk pada pinggir lapangan. "Lalu kalian hanya perlu membiarkan binatang kontrak kalian untuk menyentuh tugu itu. Lalu hasilnya akan muncul bagaimana kekuatannya. Oh, kami juga ingin kalian mengelompokkan diri ke dalam atribut binatang itu."
Semua orang mengangguk memahami. Luo Qingqi berbisik pada Qing Yue'er. "Xinyu, kalau begitu bukankah naga milikmu juga memiliki serangan api?"
"Aku tidak tahu, sepertinya aku bahkan belum melihatnya. Aiya, tapi jejak binatang illahi lebih jelas daripada binatang roh. Maksudnya ... ya, kamu tahu sendiri apa maksudku. Mereka tidak akan berpikir tentang itu."
Luo Qingqi tersenyum. "Ya, aku paham."
"Kalian bisa memulai sekarang!" teriak orang itu. Kemudian sebuah tugu transparan muncul di tepi lapangan. Tugu itu seperti sebuah tugu batu yang memiliki tinggi sebanyak 3 meter. Cahaya di sekelilingnya berwarna cerah.
Murid-murid langsung berbondong-bondong membentuk antrean. Namun, karena jumlah tugu tersebut juga tidak sedikit jadi itu tidak akan memakan waktu yang lama.
Qing Yue'er tidak terburu-buru. Dia malah memilih untuk menarik Luo Qingqi dan membawanya untuk meneduh di bawah pohon. Ya, dia malas berdesak-desakan di sana. Terlalu bising. Dia tidak menyukainya. "Begini lebih nyaman," ucapnya sambil duduk di bawah pohon willow. Angin sejuk menerpa kulitnya yang halus.
"Xinyu, kamu memang berbeda." Luo Qingqi tersenyum.
"Ya, itu karena aku adalah Xinyu," ucap Qing Yue'er dengan acuh tak acuh.
Luo Qingqi ikut duduk. Dia terdiam tidak mengatakan apa-apa lagi. Ada banyak pikiran yang masuk ke otaknya. Namun, itu tidak membuatnya cemas karena dia tahu dia ada bersama dengan temannya.
***
Niu Ren mengedarkan pandangannya. Dia tidak begitu tertarik dengan proses ujian ini. Ya, dia memiliki banyak guru-guru yang sudah mengawasi murid-murid jadi dia tidak perlu membuang waktu untuk memeriksanya juga.
"Guru He, jadi apakah orang yang menaklukkan naga itu ada di sini juga?" Dia memandang He Jin.
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak begitu peduli," ucap He Jin.
Tiba-tiba Peng Liang masuk ke obrolan mereka. "Apa maksudmu Xinyu? Seharusnya dia ada di sini." Dia mengedarkan pandangannya ke barisan murid-murid. Namun, ternyata tidak ada sosok yang dia cari.
"Tidak ada?" tanya Niu Ren.
"Ah, mungkin mataku yang sudah terlalu tua," ucap Peng Liang dengan canggung.
Niu Ren mendengus. Tiba-tiba matanya menangkap dua orang yang saat ini sedang terduduk di bawah pohon willow. Mereka berdua terlihat begitu tenang dan terpisah dari keramaian. Ya, mungkin ini yang membuat dia sedikit tertarik.
"Ah, aku menemukannya!" Peng Liang berseru. Kemudian dia menunjuk ke bawah pohon willow dan pada Qing Yue'er yang sedang menatap ke kejauhan. "Itu dia. Namanya Xinyu. Dia murid Han Qiong. Ah, orang tua itu sangat beruntung."
Niu Ren akhirnya mengangguk. Tentu saja memiliki murid yang melakukan kontrak dengan seekor naga tentunya adalah hal yang menakjubkan. Bahkan dia sendiri takjub karena menemukan bahwa gadis itu masih begitu muda. Sepertinya hanya 16 tahun.
"Dia bibit yang bagus," ucap Niu Ren.
He Jin hanya mendengus. Dia tidak begitu senang dengan pujian itu. "Apanya yang bagus. Paling-paling itu hanya keberuntungan semata," cibirnya.
Jika Qing Yue'er mendengar cibiran itu maka dia pasti akan tertawa dan berkata, "He Tua, kamu benar, itu memang berkat keberuntunganku yang menantang surga. Jangan bilang kalau kamu hanya iri." Lalu pria itu hanya bisa terdiam dengan amarah yang menggelegak.