Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Lautan Api


Apa yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah gulungan kertas berwarna kuning kecokelatan. Kertas itu sudah sangat usang dan kuno. Siapa pun pasti dapat mengetahui bahwa benda tersebut sudah melewati ratusan tahun-tahun yang panjang.


Qing Yue'er mengambil kertas itu dan membukanya dengan perlahan. Apa yang tertulis di permukaan kertas adalah beberapa kalimat yang tidak bisa dimengerti.


"Berdiri di atas lembah, dia adalah sesuatu yang paling suci. Dia putih dan indah. Sayangnya, sikapnya terlalu arogan."


Itu adalah kalimat yang tertulis di sana. Qing Yue'er mengembuskan napasnya dengan kasar. Kenapa kalimat seperti ini ditulis dan disimpan sedemikian rupa? Apakah ini begitu penting?


"Ying Jun, apa kau tahu sesuatu?" tanya Qing Yue'er.


Tak selang lama Ying Jun langsung membalasnya tanpa kebohongan. "Aku tidak tahu."


Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia meletakkan kertas itu kembali pada tempatnya, tapi tiba-tiba dia melihat rune lain di sisi bagian dalam kotak. Kali ini rune itu hanya ada sedikit.


Di bawah rune itu terdapat dua tulisan 'Hua' yang berjejer. Yang satu memiliki arti 'Bunga' sedangkan yang satunya bisa berarti nama marga. Mungkinkah orang yang meletakkan ini memiliki marga Hua?


"Haruskah aku membawa ini pergi?" tanya Qing Yue'er.


"Aku pernah melihat rune ini di suatu tempat yang jauh, tapi aku juga tidak mengerti fungsi dan kegunaannya. Akan lebih baik jika kamu mengambilnya. Jika ini adalah hal sepele, maka itu tidak mungkin disimpan di tempat seperti ini."


"Selain itu kamu sendiri bisa merasakan aura kunonya. Mungkin itu terkait dengan hal-hal mengenai perang antara dewa dan iblis."


Qing Yue'er menyetujui ucapan Ying Jun. Dia mengambil kotak itu dan memasukkan ke dalam dimensi. Kalimat yang tertulis di kertas tidak merujuk pada hal-hal kejahatan, mungkin itu bukan sesuatu yang membahayakan.


Setelah itu Qing Yue'er meneliti apakah ada hal lain yang bisa dia temukan. Kali ini matanya tertarik pada dinding-dinding batu. Setelah diperhatikan ternyata ada ukiran-ukiran lain yang terlihat sangat samar. Jika tidak diperhatikan dengan baik maka dia tidak akan bisa menemukannya.


Apa yang terukir di sana membuat Qing Yue'er penasaran. Itu lebih seperti catatan hidup seseorang. Ada kemungkinan bahwa itu adalah catatan milik orang yang membangun rumah ini serta yang meninggalkan kotak batu juga.


"Aku hidup dengan kesendirian. Tidak ada orang yang benar-benar kupercayai. Namun, aku tidak bisa membiarkan hal itu terbuang sia-sia. Waktuku mungkin tidak akan tersisa banyak. Jadi siapa pun yang menemukan tulisan ini cermatilah petunjuk-petunjukku."


Di bawah kalimat itu juga tertulis nama 'Hua'. Sudah bisa dipastikan bahwa semua yang ada di sini adalah peninggalan dari orang dengan marga Hua.


"Hmm." Qing Yue'er bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Petunjuk? Petunjuk yang mana? Bukankah itu hanya teka-taki yang membingungkan?" gumam Qing Yue'er. Dia duduk di alas jerami yang sedikit lembab, lalu menutup mata untuk mengembalikan energinya.


Itu memakan waktu hingga beberapa jam sebelum Qing Yue'er merasa tubuhnya sudah lebih baik. Dia membuka kedua matanya dan menarik napasnya dalam-dalam.


Awalnya dia hanya merasa badannya begitu sakit, seperti tulang-tulang di tubuhnya telah dipatahkan. Namun, setelah menjalani pemulihan dia menjadi sadar akan sesuatu. Otot-otot tubuhnya serta tulang-tulangnya telah diperkuat.


Qing Yue'er mengepalkan telapak tangannya, kemudian dengan cepat menghantamkannya ke tanah.


Bang!


Tanah itu langsung bergetar keras. Bahkan ada retakan-ratakan yang dihasilkan oleh tinjunya. Diam-diam dia merasa takjub. Ini benar-benar sebuah pelatihan fisik. Sepertinya ibunya tidak salah mengirim dia ke sini.


"Hua, aku tidak tahu kamu pria atau wanita. Aku juga tidak tahu apa makna petunjuk-petunjukmu, tapi aku harus berterima kasih karena telah mengizinkanku memulihkan diri di sini," ucap Qing Yue'er.


"Dan untuk petunjukmu, aku akan menyimpannya. Jika itu ditakdirkan maka aku mungkin akan menemukannya," lanjutnya.


Tidak ada jawaban apa pun. Tentu saja, itu karena tidak ada orang lain di sini. Setelah itu Qing Yue'er pun berjalan keluar. Sekarang dia harus kembali melanjutkan perjalanan.


Pintu batu kembali ditutup. Udara panas kembali menerpa kulit Qing Yue'er. Kini penampilannya benar-benar berantakan, jika orang lain melihatnya mungkin mereka akan berpikir dia adalah seorang pengemis.


Meskipun begitu, tenaganya telah berhasil dipulihkan. Mungkin luka-luka di permukaan kulitnya tidak benar-benar sembuh, tapi setidaknya itu sudah tidak sesakit sebelumnya.


Hhmmm~


Tiba-tiba ada suara dengungan yang datang dari arah utara. Qing Yue'er tidak tahu apa yang terjadi, dia langsung mempersiapkan diri sebelum akhirnya mulai bergerak lagi.


Tidak ada kesulitan apa pun. Sesekali dia akan melontarkan ejekan atau sekedar gurauan pada iblis-iblis yang dia temui. Rasanya tidak terlalu buruk menjadi lincah seperti ini.


"Jingtian ...."


Qing Yue'er menggumamkan sebuah nama. Awalnya hanya iseng, tapi dia benar-benar mendengar sebuah jawaban. Bukankah ini benar-benar mengejutkan?


"Apa yang telah kau lalui hanyalah sebuah permulaan. Yang akan kau hadapi barulah pelatihan yang sesungguhnya," ucap Mo Jingtian.


"...."


Qing Yue'er terkejut tanpa bisa berkata-kata. Bukan hanya terkejut karena Mo Jingtian membalasnya, tapi dia juga terkejut dengan apa yang pria itu katakan.


Jika ini baru permulaan, bukankah apa yang menunggunya adalah hal yang lebih mengerikan? Surga, pelatihan macam apa ini?


Dengan helaan napas, Qing Yue'er mencoba menenangkan perasaan gelisah yang tiba-tiba muncul. Tidak seharusnya dia merasa takut. Dia hanya perlu percaya bahwa dia pasti bisa melaluinya.


"Kau mendengarku?" Qing Yue'er bertanya lagi. Sayangnya tidak ada jawaban yang terdengar. Baiklah, mungkin hanya interaksi seperti ini yang bisa dilakukan.


Kali ini udara terasa lebih panas. Qing Yue'er melihat langit yang menjadi lebih merah. Samar-sama dia bisa melihat kobaran api yang tinggi menjulang. Warna merahnya begitu menyala, membentang dan menutup semua jalan yang akan dilaluinya.


Qing Yue'er menelan ludahnya. "Apa ini? Apa tidak ada jalan lain?"


Dia memeriksa dari jauh, tapi memang tidak ada sesuatu yang bisa dia lalui. "Haruskah aku masuk ke dalam lautan api itu?"


***


Jangan lupa tinggalkan vote, like dan komen ya.