
Kota Nan Zheng, perbatasan Xirei dan Linxiang.
Suasana malam ini terlihat sangat ramai. Di pusat kota ada banyak sekali orang yang berkumpul, mulai dari pria dan wanita, tua mau pun muda. Mereka semua sangat antusias. Itu karena sebentar lagi akan ada pertunjukan sitar dari wanita cantik yang dikenal sebagai peri surgawi oleh masyarakat kota ini.
Siapa lagi jika bukan Mei Yiran. Seseorang yang beberapa bulan ini singgah di kota Nan Zheng. Konon dia berasal dari kota Fuli, ibu kota kerajaan Xirei. Akan tetapi sejauh ini Mei Yiran tidak pernah mengatakan banyak mengenai identitasnya.
Meskipun begitu, karena penampilannya yang membuat bunga-bunga menunduk malu, dia sangat diterima di kota ini. Selain itu bakatnya dalam memainkan alat musik sangatlah luar biasa. Terutama ketika memainkan sitar, jari-jarinya akan terlihat begitu lentik.
"Heh! Kira-kira akan seperti apa penampilan dewi kita?" Seorang pria muda bertanya pada rekan-rekannya.
"Aku tidak peduli, tapi dia pasti akan sangat cantik."
"Itu benar. Apalagi jika dia mengenakan pakaian yang sedikit lebih ketat," balas pria lain yang berbadan gempal. Mulutnya terbuka saat mengingat seberapa menggodanya penampilan peri surgawi.
Orang yang mendengar ucapannya langsung tertawa, namun mereka memang memiliki pikiran yang sama. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian pria di kota ini sudah mengagumi kecantikan Mei Yiran. Sayangnya peri surgawi mereka bukan orang yang mudah untuk di dekati.
"Aku bahkan rela menjadi penyikat sepatunya asalkan bisa setiap hari bertemu dengannya."
"Saudara, jangankan penyikat sepatu, bahkan jika harus melayaninya seumur hidup aku masih akan melakukannya."
Mereka berbicara dengan antusias mengenai wanita bernama Mei Yiran. Bukan hanya kelompok itu, bahkan sepertinya sebagian orang di sini memuji tentang wanita itu.
"Sungguh berlebihan," ucap seseorang dengan lirih. Dia mengenakan jubah putih dan topi bambu yang menutupi sebagian wajahnya.
"Teman, jangan berbicara seperti itu. Jika orang-orang mendengarnya, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu." Seorang pria dewasa yang berdiri tidak jauh dari Qing Yue'er berkata untuk mengingatkannya.
"Hmm."
Qing Yue'er mengerutkan kening namun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya tidak mengerti, secantik apakah wanita itu hingga membuat seluruh penduduk kota memujanya? Dia menjadi penasaran.
Hari ini dia tiba di perbatasan setelah beberapa hari perjalanan. Setelah menjelajah beberapa saat akhirnya dia berakhir di tempat yang ramai ini. Menurut apa yang dia tangkap dari pembicaraan orang-orang, sepertinya akan ada pertunjukan yang sangat diminati.
Untuk mencari sedikit hiburan akhirnya dia tetap menunggu. Siapa tahu akan ada pertunjukan yang bagus, meskipun sebenarnya dia merasa sedikit lelah.
Suara sorakan bergema ketika apa yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Di pusat kerumunan ada sessosok wanita dengan sitar di tangannya. Usianya mungkin tidak lebih dari 23 tahun. Bibirnya terus menyunggingkan senyum manis yang memesona.
Memang Qing Yue'er harus mengakui bahwa Mei Yiran memiliki paras yang cantik. Terutama tubuhnya yang padat dan berisi, serta depan belakang yang menggoda lawan jenis. Namun sepertinya itu saja tidak akan cukup untuk membuat para penduduk memujanya layaknya peri surgawi.
Mei Yiran mengangkat tangannya untuk meminta para penduduk lebih tenang. Dia duduk di atas panggung dengan gerakan yang anggun. Setelah sedikit mengangguk ke kerumunan, dia mulai memainkan sitarnya.
Suara melodis dari petikan senar mengalun indah di udara. Membius para pendengar untuk jatuh ke dalam alunan kedamaian yang tidak ada habisnya. Seolah ketenangan yang tidak terlukiskan merasuk ke hati setiap orang.
Qing Yue'er memutar kepalanya ke segala arah. Semua orang seperti tercengang entah itu karena terkagum dengan alunan musik atau karena hal lain. Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa seperti itu.
Kedua alisnya terangkat. Dia sedikit merenung. Tiba-tiba suara teriakan yang keras terdengar memecah keharmonisan melodi. Itu adalah sesosok anak kecil yang berlari dari belakang dan menerobos banyaknya kerumunan.
"Wanita sialan! Hentikan permainan konyolmu! Kamu harus bertanggung jawab dengan keadaan ibuku!" teriak anak kecil itu.
Wajahnya memerah karena memendam kemarahan. Namun karena usianya masih terlalu kecil jadi amarahnya tidak terlihat menakutkan, sebaliknya dia terlihat lebih menggemaskan.
"Aih, teman kecil, jangan menjadi perusak suasana. Pergilah, kembali pada ayahmu," ucap pria tua untuk menghentikan langkah anak kecil itu.
"Paman, wanita itu yang menyebabkan ibuku tidur. Aku tidak mau pergi sebelum dia turun dan bertanggung jawab! Aku akan terus berteriak sampai dia mau turun dan mengembalikan kondisi ibuku!" Anak kecil itu terus berteriak membuat semua orang menatapnya dengan kebencian.
Seorang pria muda berjalan mendekatinya dengan wajah yang menyeramkan. "Dasar pengganggu!"
Matanya yang bersinar dengan kekejaman membuanya terlihat lebih menakutkan. Dia mengangkat tangannya bersiap untuk memukul anak kecil itu.
"Pengecut adalah seseorang yang berani menyerang anak kecil." Qing Yue'er mendengus tidak senang. Dia menarik anak kecil itu ke sisinya, berusaha melindunginya dari serangan orang lain.
"Cih! Kamu menyebutku pengecut?!" teriak pria muda yang ternyata bernama Zhao Zirui.
Zhao Zirui adalah seseorang yang berjiwa bebas, melakukan apa pun sesuai dengan kemauannya. Jadi selama dia senang maka semuanya benar dan tidak akan mengizinkan orang lain untuk menghentikannya.
"Tuan Muda, tolong jangan membuat masalah." Tiba-tiba orang lain berbisik dari belakangnya.
"Hmm! Bersenanglah karena aku tidak akan memperpanjang masalah ini," ucap Zhao Zirui pada Qing Yue'er.
Dia tahu apa yang dimaksud oleh pelayannya, jadi dia memilih untuk berlalu pergi meninggalkan gadis aneh bertopi bambu. Sebenarnya dia merasa enggan, namun karena suatu alasan dia lebih memilih untuk membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.
Qing Yue'er menatap Zhao Zirui dengan dingin sebelum turun untuk menyejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang ada di sampingnya. "Kenapa kamu marah-marah seperti ini? Ayo katakan pada kakak, apa yang terjadi?"
Anak kecil itu menatap Qing Yue'er ragu-ragu. Dia tidak mengenal gadis ini. Haruskah dia menceritakan apa yang dia alami?