Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Akademi Surgawi


Keesokan harinya Qing Yue'er bersiap untuk meninggalkan kota Li. Ketika dia keluar kamar ternyata Jing Ling dan Ming Yuxia sudah menunggunya di depan pintu. Mereka berdua sudah siap untuk kembali melakukan perjalanan.


Qing Yue'er tersenyum puas. "Bagus kalian sudah siap. Kita akan pergi sekarang." Dia berjalan keluar dengan membawa tongkat rotan. Mungkin orang-orang akan melihatnya dengan heran, bukannya membawa pedang ternyata dia malah membawa sebuah tongkat. Sama sekali tidak seperti anak muda pada umumnya.


Tentu saja Qing Yue'er tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Dia sendiri memang memiliki kepribadian yang eksentrik.


Jing Ling dan Ming Yuxia mengikuti Qing Yue'er. Mereka mulai terbang menuju akademi Surgawi yang mungkin akan memakan waktu hingga satu hari perjalanan. Selama itu pula mereka tetap bergerak tanpa berhenti untuk beristirahat.


Ketika hari sudah sore akhirnya mereka telah sampai tanpa halangan apa pun. Namun ada satu masalah yang membuat mereka sedikit bingung. Saat ini akademi tidak sedang menerima pendaftaran murid baru, jadi bagaimana mereka bisa masuk ke sana?


Qing Yue'er berjalan menuju pintu masuk akademi. Di sana ada dua murid yang bertugas sebagai penjaga pintu masuk. Tanpa ragu Qing Yue'er menghampiri kedua orang itu.


"Saudara, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


Kedua orang yang ditanya oleh Qing Yue'er merasa tertegun. Mereka sudah sering melihat wanita cantik tapi baru kali ini dia melihat wanita yang benar-benar cantik. Di hadapan wanita seperti itu tentu saja mereka ingin memberikan yang terbaik.


"Nona, silahkan jika ingin bertanya sesuatu," ucap salah satu dari mereka.


Qing Yue'er menyunggingkan senyum tipis. "Apakah sekarang benar-benar tidak ada pendaftaran murid baru?"


"Apa Nona ini ingin mendaftar di sini? Ah, sayang sekali pendaftaran masih membutuhkan tiga bulan dari sekarang."


Qing Yue'er menghela napasnya. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu yang hampir dia lupakan. Akhirnya dia merogoh lengan bajunya dan mengambil benda pipih yang tidak begitu besar. Dia menunjukkan sesuatu pada kedua penjaga itu.


"Aku memiliki token ini, apa aku bisa bertemu dengan Han Qiong?" tanya Qing Yue'er sambil memegang token batu pemberian Han Qiong.


Kedua penjaga yang melihat token di tangan Qing Yue'er pun langsung tertegun. Mereka tentu saja sangat hafal siapa pemilik token itu. Namun dari sekian lama mereka ada di sini, mungkin hanya ada beberapa orang saja yang memiliki token kekerabatan Han Qiong.


Han Qiong atau yang kerap kali disapa guru Han itu bukan orang yang akan memberikan token kekerabatan secara sembarangan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya. Dan karena gadis itu memiliki token tersebut, itu berarti dia bukan gadis yang sederhana.


"Nona, silahkan ikut denganku. Aku akan mengantarkanmu pada guru Han," ucap pria itu.


Qing Yue'er tersenyum puas. Teenyata benar, token itu akan mempermudahkannya dalam memasuki akademi. Sekarang tinggal bagaimana dia akan berbicara pada Han Qiong agar bisa masuk menjadi murid di akademi ini.


Setelah itu Qing Yue'er dan kedua temannya mulai mengikuti ke mana pria itu melangkah. Mereka melihat-lihat akademi yang besarnya berkali-kali lipat lebih besar dari akademi Xinfeng. Bangunan-bangunannya dibangun dengan ukuran yang besar dan material yang bagus.


Di sana juga ada sebuah menara tinggi yang mungkin memiliki beberapa lantai. Entah untuk tujuan apa itu tapi tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar menara.


Qing Yue'er dan kedua rekannya berjalan dengan tenang. Banyak pasang mata yang merasa penasaran dengan keberadaan mereka. Kedatangan tiga gadis asing yang memiliki penampilan luar biasa memang membuat mereka terutama murid laki-laki merasa antusias.


Bukan hanya karena penampilannya yang cantik, tetapi udara di sekitarnya pun sudah terasa berbeda. Qing Yue'er dengan ciri khasnya memakai pakaian putih, memiliki aura yang acuh tak acuh. Dia seperti orang yang sama sekali tidak peduli dengan hal-hal duniawi. Jing Ling yang mengenakan pakaian berwarna lembut, auranya lebih terkesan periang. Sedangkan Ming Yuxia saat ini menggunakan pakaian berwarna biru langit, sangat cocok dengan aura dinginnya.


Kombinasi dari tiga aura yang berbeda menciptakan satu aura yang sama sekali baru. Dan itu adalah sesuatu yang menakjubkan. Tentu saja kedatangan mereka akhirnya menarik banyak pasang mata dari para murid di akademi.


"Itu adalah penjaga gerbang Teng, lalu siapa ketiga gadis itu? Bukankah mereka semua luar biasa?"


"Tidak tidak, kamu harus memilih salah satu dari mereka. Jangan menjadi rakus!"


"Hmm, jika aku diminta untuk memilih aku akan memilih gadis dengan jubah putih itu."


"Benar, kecantikan itu benar-benar sangat alami. Namun yang lainnya juga tetap cantik."


Beberapa bisikan pun terdengar di antara murid-murid. Mereka adalah para murid pria yang mengagumi kedatangan Qing Yue'er. Namun berbeda dengan murid perempuan, ada beberapa dari mereka yang justru merasa tidak senang. Tentunya itu adalah orang-orang yang iri dengan penampilan Qing Yue'er dan dua lainnya.


Meskipun begitu, ketiga gadis itu sama sekali tidak merespons apa pun. Mereka seperti tidak menganggap mereka ada. Sebenarnya tidak seperti itu. Mereka hanya sedang fokus dengan mengagumi akademi besar ini. Tidak ada waktu untuk merespons mereka semua.


Setelah melewati banyak bangunan akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang ada di bagian belakang akademi. Rumah itu tidak begitu besar, tapi keadaannya terlihat sangat rapi. Di bagian sampingnya ada berbagai macam tanaman herbal yang ditanam dengan rapi.


Pria yang mengantar mereka langsung mengetuk pintu dengan pelan. Setelah beberapa saat pintu pun terbuka menampilkan seorang anak laki-laki kecil yang mungkin baru berumur 10 tahun.


"Xiao Mo, di sini ada tamu yang ingin bertemu dengan tuanmu," ucap pria yang mengantar tadi.


Anak kecil itu mengangguk dan menyuruh penjaga gerbang Teng pergi. Setelah itu dia pun langsung memeriksa Qing Yue'er dan lainnya. "Untuk alasan apa kalian ingin bertemu dengan tuanku?"


Qing Yue'er menarik napasnya dengan pelan. Entah kenapa dia merasa anak itu bukanlah anak biasa. Mungkin karena pengaruh lingkungan di sekitarnya. "Haruskah aku memberitahu tujuanku?"


"Apa kamu memiliki token kekerabatan?"


"Ya, aku memilikinya," ucap Qing Yue'er. Dia menunjukkan token itu pada anak kecil tersebut.


"Tuanku sedang beristirahat, jadi mungkin tidak bisa menemuimu sekarang."


Qing Yue'er memicingkan matanya. Sepertinya bertemu dengan Han Qiong juga membutuhkan lebih banyak usaha. Mungkin pria tua itu memang tidak mudah untuk ditemui. Dan anak ini, ada kemungkinan adalah seseorang yang diutus untuk merawat tamu-tamu yang akan menemui Han Qiong.


"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk saat ini?" tanya Qing Yue'er. Sesungguhnya di tempat yang baru dan memiliki banyak penghuni seperti akademi ini, dia tidak akan begitu bodoh untuk membuat kekacauan.


"Bisakah kalian membantuku melakukan sesuatu?" tanya anak itu.


"Apa itu?" Kali ini Jing Ling yang bertanya.


"Tanaman herbal di sana sudah seharusnya disiangi, sayangnya aku memiliki banyak pekerjaan lain. Apa kalian mau membantuku melakukannya?"


Sudut bibir Qing Yue'er sedikit bergetar. Jadi apakah mereka disuruh untuk menjadi pekerja selama beberapa saat? Dia tidak marah, tetapi Jing Ling merasa tidak senang. Ekspresi gadis itu langsung cemberut.


"Apa kamu sedang mengerjai kami?" Jing Ling bertanya dengan tidak senang. Namun Qing Yue'er segera menepuk bahunya. "Tidak apa-apa, kita akan melakukannya."


Anak itu tersenyum senang. "Nanti jika tuanku sudah bangun, aku pasti akan memberitahu kalian." Setelah mengatakan itu, anak tersebut langsung masuk ke dalam rumah dan kembali menutup pintu.


"Sialan." Jing Ling menggerutu. Dia menghentakkan kakinya ke tanah seperti sedang merajuk saja. Sedangkan Qing Yue'er hanya tersenyum samar. Setelah itu dia pun berlalu menuju kebun tanaman herbal diikuti oleh Ming Yuxia di belakang.


***


Anak kecil yang bernama Xiao Mo masuk ke halaman belakang. Di sana ada banyak tanaman herbal juga yang tumbuh dengan baik. Kemudian dia melihat tuannya sedang menyiram herbal dengan riang.


"Tuan, aku sudah melakukannya," ucap Xiao Mo.


Han Qiong terkekeh dengan senang. "Apa mereka mau melakukannya?"


Xiao Mo mengangguk. "Ya, mereka melakukannya meskipun ada satu yang mungkin masih merasa berat hati."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat seberapa tulus hati mereka," ucap Han Qiong. Sejak ketiga gadis itu memasuki halamannya, dia memang sudah merasakan kedatangan mereka. Jadi dia ingin mencoba menguji ketulusan mereka terlebih dahulu.