Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Bulu Terang dan Bulu Gelap


Saat ini Qing Yue'er dan kedua rekannya tampak keluar dari sebuah penginapan. Mereka baru saja menyewa dua kamar untuk bermalam malam ini. Namun karena merasa penasaran dengan tradisi pengiriman lampion pada Dewa, mereka memutuskan untuk melihat-lihat.


Ada banyak sekali penduduk kota Li yang sudah keluar dari rumah. Mereka semua memiliki wajah yang sumringah dengan lampion di tangan masing-masing. Beberapa dari mereka bersama dengan keluarga, atau bahkan ada yang bergandengan dengan pasangan.


"Apa kita harus membeli lampion?" Jing Ling bertanya.


"Ya, kita mungkin juga melakukan apa yang mereka lakukan," ucap Qing Yue'er.


Setelah itu mereka pun bergerak untuk mencari penjual lampion. Ternyata ada banyak yang menjualnya bahkan dengan bentuk lampion yang berbeda-beda.


"Nona, apakah kau ingin membeli lampion? Kami memiliki harga yang sangat murah!" Sang penjual lampion segera menawarkan dagangannya pada kelompok Qing Yue'er.


Qing Yue'er yang tidak mau repot akhirnya mengambil tiga, untuk dirinya, Jing Ling dan Ming Yuxia. Setelah membayar, mereka bersiap untuk pergi. Namun sang penjual menawarkan untuk meminjamkan kuas dan tinta untuk menuliskan harapan pada lampion.


"Terima kasih," ucap Qing Yue'er sambil menerima kuas itu. Dia pun mulai menuliskan harapan di permukaan lampion.


"Apa yang kamu tulis?" tanya Jing Ling dari samping.


Qing Yue'er tidak membalasnya. Tidak ada banyak yang dia harapkan, hanya sebuah keberhasilan. Ya, dia ingin berhasil tapi bukan hanya dalam satu hal. Dia ingin berhasil menyelesaikan apa yang harus dia kerjakan. Apa pun yang dia perjuangkan, harus selalu berhasil dicapai. Bukankah itu sederhana?


Dia menuliskannya di permukaan lampion, "Untuk sesuatu yang tinggi, yang mungkin mengendalikan kehidupan manusia. Keberhasilan selalu menyertaiku."


"Kamu tidak ingin menuliskan sesuatu tentangku?" Tiba-tiba Mo Jingtian bertanya dari benaknya.


Qing Yue'er terkekeh. "Kamu terlalu berharap."


Meskipun dia berkata seperti itu, sebenarnya dia meninggalkan sebuah simbol di sana. Itu adalah gambar bulu Vermillion dan Blue Phoenix yang saling disilangkan. Seperti yang beberapa orang tahu, Blue Phoenix adalah binatang ilahi milik Qing Yue'er. Sedangkan Vermillion adalah binatang yang identik dengan Mo Jingtian.


Qing Yue'er tersenyum. Mungkin hanya dia dan orang yang bersangkutan yang mungkin mengetahui apa makna simbol itu.


"Aku sudah selesai," ucap Qing Yue'er. Dia melihat Jing Ling dan Ming Yuxia yang sudah selesai juga. Setelah itu mereka pun membawa lampion itu ke pusat kota yang sudah ada banyak orang berkumpul.


Menerbangkan lampion tidak boleh sembarangan. Ada seseorang yang memimpin untuk memberitahu waktu yang ditentukan oleh aturan alam. Ketika waktu yang sudah ditentukan tiba, semua orang mulai menerbangkan lampion-lampion itu secara bersamaan. Qing Yue'er dan dua lainnya pun melakukan hal yang sama.


Lampion-lampion terbang tinggi menuju langit. Itu menciptakan pemandangan yang begitu indah ketika dilihat mata. Lautan kuning dan merah bergelombang tinggi.


Qing Yue'er mengamati ke mana lampion-lampion itu akan berakhir. Dia ingin tahu apakah lampion itu benar-benar akan berakhir di tangan Dewa.


Ketika lampion terbang semakin tinggi, tiba-tiba langit merubah warnanya. Sinar purnama yang awalnya terang, kini tertutupi oleh kegelapan. Pada saat itulah lampion itu seperti tertelan oleh lubang hitam tak kasat mata. Namun itu terjadi hanya selama beberapa saat sebelum akhirnya kegelapan itu lenyap. Ajaibnya, setelah kegelapan hilang, lampion-lampion itu telah lenyap begitu saja.


Qing Yue'er tertegun. Ini memang hal yang cukup menakjubkan. "Apakah itu tandanya lampion telah disampaikan?" tanya Qing Yue'er pada orang di sebelahnya.


"Ya, itu benar."


Akhirnya Qing Yue'er mengangguk mengerti. Untuk sementara, dia tidak akan menanyakan hal lain. Rasa penasarannya sudah selesai sampai di sini.


Setelah acara itu selesai, orang-orang pun mulai membubarkan diri. Mereka semua meninggalkan keramaian untuk kembali ke rumah masing-masing. Qing Yue'er pun melakukan hal yang sama. Dia dan dua rekannya kembali ke penginapan.


Ketika hari sudah semakin malam, Qing Yue'er membuka kembali slip bambu yang dia dapatkan dari hasil kompetisi. Slip yang berisi Teknik Lubang Hitam itu ingin dia pelajari malam ini. Dengan ditemani oleh Mo Jingtian, dia akhirnya mulai mempelajari teknik tersebut.


Qing Yue'er memfokuskan qi spiritual di tangannya. Cahaya samar sudah melapisi telapak tangannya. Kemudian dia membentuk segel tangan sesuai instruksi Mo Jingtian.


Namun, itu memang bukan hal yang mudah. Menciptakan lubang sekecil itu saja sudah memakan banyak qi spiritual dalam dantian. Sepertinya Qing Yue'er harus sering melatihnya agar terbiasa. Jika dilatih lebih sering maka itu akan menjadi teknik yang menghancurkan.


Qing Yue'er menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia menoleh untuk melihat Mo Jingtian yang juga sedang menatapnya. Saat ini pria itu tetap mengenakan topeng perak untuk menahan pesonanya.


"Ini sedikit sulit," ucap Qing Yue'er.


"Tidak apa-apa. Kamu akan bisa jika sering melatihnya."


Qing Yue'er tersenyum, kemudian dia bergerak untuk memeriksa bayi beruang yang sudah beberapa hari ini tinggal di dalam dimensi. Dia membopong hewan berbulu itu dengan gemasnya. "Aih, ini sangat lucu."


Mo Jingtian hanya memperhatikan apa yang dilakukan Qing Yue'er dengan diam. Dia pikir gadis itu lebih lucu dari pada kedua bayi beruang itu.


"Apa selama kamu di sini mereka berdua sama sekali tidak merengek?" Qing Yue'er bertanya dengan penasaran. Pasalnya selama ini dia belum pernah mendengar bayi beruang mengeluarkan suara sedikit pun.


"Tidak, jika dia merengek aku akan melemparnya ke dalam kolam," jawab Mo Jingtian.


"...."


Sudut bibir Qing Yue'er sedikit berkedut. "Kamu benar-benar kejam."


Akhirnya sekarang dia tahu. Bayi beruang ini bukannya tidak merengek, mungkin mereka merasa takut dengan keberadaan Mo Jingtian. Benar, jika Ying Jun saja takut pada pria itu lalu apa kabar dengan bayi beruang yang bahkan belum berumur satu bulan?


Qing Yue'er tidak merasa terkejut. Ini merupakan hal yang baik, setidaknya dia tidak perlu berkali-kali memeriksa keadaan bayi-bayi beruangnya.


"Bagaimana jika bayi-bayi beruang ini diberi nama?" tanya Qing Yue'er. Tiba-tiba saja dia menemukan ide untuk memberi nama pada bayi beruang itu.


"Itu ide yang bagus," jawab Mo Jingtian.


Qing Yue'er membelai dagunya sambil berpikir dalam-dalam. Kedua bayi beruang itu memiliki warna bulu yang berbeda. Yang satu berwarna cokelat terang, sedangkan yang satunya terlihat lebih gelap. Yang terang adalah betina, sedangkan yang gelap adalah pejantan.


"Apa nama yang cocok? Aku bukan pemberi nama yang baik," gumam Qing Yue'er.


"Bulu Terang dan Bulu Gelap." Mo Jingtian berkata dengan acuh tak acuh.


"...."


Qing Yue'er ingin tertawa. Dia pikir nama yang akan diberikan oleh Mo Jingtian akan menjadi sesuatu yang begitu agung, tapi ternyata pria itu hanya memberikan nama secara acak. Apakah namanya harus sesederhana itu?


"Baiklah, karena kamu adalah seseorang yang memberi nama maka bayi beruang ini harus berterima kasih padamu," ucap Qing Yue'er. Setelah itu dia langsung membawa kedua bayi beruang dan memberikannya secara paksa pada Mo Jingtian.


"...."


Pada akhirnya Mo Jingtian hanya bisa menatap Qing Yue'er dengan datar. Sejujurnya dia bukan penyayang binatang, apalagi dengan bayi beruang yang masih rentan seperti sekarang. Namun karena Qing Yue'er memaksanya, akhirnya dia pun menerimanya.


Sebagai protesnya, diam-diam Mo Jingtian mengirimkan tatapan tajam pada kedua bayi beruang yang ada di gendongannya. Tentu saja hal itu membuat bayi beruang tersebut gemetar ketakutan. Mereka benar-benar terintimidasi oleh sosok dinginnya.


Jika Qing Yue'er mengetahui hal itu pasti dia ingin memukul pria itu dengan tongkat rotannya. Kenapa pria itu begitu tak berperasaan?