
Yin Hu sudah mendapatkan harta lagi dan yang ini sepertinya adalah yang terakhir untuknya. Benar saja, setelah dia mendapatkan sebuah senjata yang bagus itu dia langsung dikirim keluar dari dalam kuil. Setelah beberapa saat dia sudah sampai di permukaan air laut. Akhirnya dia bergegas menuju tepi pantai. Semoga dia masih bisa bertemu dengan Qing Yue'er.
Di pinggiran pantai ada beberapa orang yang tampak sedang menunggu seseorang. Awalnya dia tidak peduli, tapi tiba-tiba seseorang menghampirinya. Dia adalah perempuan muda yang cantik.
“Em, maaf, benarkah ini Leluhur Yin?” tanya Luo Qingqi. Dia tersenyum dan terlihat ramah.
Yin Hu merasa heran, bagaimana orang ini mengetahui namanya? Meskipun begitu, dia tidak menanyakan banyak hal dan hanya bertanya, “Kamu mengetahuiku?”
Luo Qingqi terkekeh. “Barusan Xinyu berpesan untuk menunggu leluhurnya. Ya, dia memberi tahu kepada kami sedikit tentangmu.”
“Xinyu?” Yin Hu sedikit mengernyit. Oh, gadis itu memang ....
“Leluhur, mari aku perkenalkan pada orang lain. Kami adalah rekan Xinyu dan aku harap kamu tidak meragukan kami semu," ucap Luo Qingqi dengan sopan.
“Ah, tidak. Aku akan mengikuti saja.”
Kemudian Luo Qingqi membawa Leluhur Yin kepada anggota akademi Surgawi yang lain. Dia juga ingin mempertemukannya dengan Han Qiong. Bagaimanapun orang tua itu adalah guru langsung Qing Yue'er.
“Ini Leluhur Yin? Leluhur Xinyu yang berasal dari Tongxuan Timur?” Kepala Akademi Niu Longhao bertanya dengan antusias. Meskipun tingkat kekuatannya mungkin lebih rendah darinya, tapi dia sangat menghormati orang yang sudah berkontribusi terhadap perkembangan Qing Yue'er.
Yin Hu yang melihat Niu Longhao menjadi sangat terkejut. Bagaimana tidak, orang ini menjabat sebagai kepala akademi Surgawi yang tentunya sudah dikenal di seluruh benua Tongxuan. Dia tidak berharap bisa bertemu secara langsung dengannya.
Dengan cepat dia langsung membungkuk untuk memberi hormat. “Yin Hu dari akademi Xinfeng memberi hormat pada Kepala Akademi Niu Longhao.”
“Ah, jangan begitu.” Niu Longhao mengisyaratkan agar Yin Hu segera menyudahi salam formalitas itu. “Aku benar-benar bukan apa-apa. Sebaliknya kamu harus memberi salam pada Han Qiong. Dia ini guru Xinyu di akademi Surgawi,” ucapnya sambil mengarahkan tangannya pada Han Qiong.
Yin Hu menoleh dan tersenyum pada Han Qiong. “Terima kasih sudah mengajari Qing ... ah, maksudku Xinyu, dengan baik.”
Han Qiong mengangguk dengan bangga. “Tentu, tapi aku juga harus berterima kasih karena bagaimanapun juga akademi Xinfeng juga pastinya sudah banyak membantu anak nakal itu.”
“Guru Han, dia sudah dewasa sekarang. Mungkin tidak senakal itu,” sela Niu Longhao.
“Tetap saja dia pasti tidak senormal perempuan pada umumnya,” balas Han Qiong dengan yakin.
Yin Hu langsung terkekeh mendengar perdebatan kecil itu. Dia jadi ingat bagaimana sikap Qing Yue'er selama berada di akademi Xinfeng. Memang, dia bukan gadis yang kaku seperti gadis lainnya. Namun, itulah keunikannya. Bukankah seorang genius memang biasanya memiliki sifat yang abnormal?
“Bagaimanapun semuanya sudah ditakdirkan,” ucap Yin Hu yang langsung diangguki oleh orang lain.
“Benar, semuanya sudah ditakdirkan. Baiklah, mari kita kembali ke penginapan. Xinyu mungkin sudah ada di sana,” kata Han Qiong. Semuanya mengangguk setuju. Akhirnya rombongan mereka langsung bergerak menuju penginapan.
Yin Hu juga ikut dengan mereka. Dia sungguh tidak menyangka akan menjadi bagian dari orang-orang yang bergengsi seperti ini. Jika dibandingkan dengan akademi Surgawi tentu saja statusnya sendiri jauh lebih rendah. Namun, ternyata mereka semua memperlakukannya dengan hormat. Menakjubkan.
Dalam perjalanan Jing Ling mulai menggosip dengan kedua rekannya. “Leluhur Yin ini ternyata masih terlihat muda dan cantik. Aku pikir dia adalah wanita tua yang sudah keriput.”
“Jing Ling, aku harap dia tidak mendengar ucapanmu.” Luo Qingqi berkata dengan sedikit sindiran.
“Eh, aku hanya mengungkapkan apa yang kupikirkan. Itu saja,” kilah Jing Ling. Kemudian dia menatap Ming Yuxia. “Cobalah berbicara sesekali agar mulutmu tidak berlumut.”
Ming Yuxia menatapnya dengan mata memicing. “Aku bukan kamu yang banyak bicara.”
“Eh? Sekalinya bicara kamu akan berkata pedas.” Jing Ling mengeluh.
“Sudah, sudah. Kita sudah sampai," ucap Luo Qingqi.
Kemudian mereka pun turun dari udara sebelum akhirnya masuk ke dalam penginapan. Mereka tidak akan mengganggu para guru yang mungkin masih memiliki urusan dengan Leluhur Yin itu. Tentu saja mereka lebih tertarik untuk memeriksa harta yang baru didapatkan dari kuil Nushen.
Sementara itu Yin Hu mengikuti ke mana guru-guru ini membawanya. Mereka berjalan cukup jauh hingga tiba di sebuah pintu yang tertutup. “Xinyu pasti ada di dalam. Maksuklah, mungkin dia menunggumu,” kata Han Qiong.
Han Qiong hanya terkekeh. Pada saat itu pintu yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan cukup keras. Itu sungguh mengagetkannya. Dia langsung melihat ke dalam dan seketika alisnya langsung berkerut.
“Aiya ....” Qing Yue'er langsung menyembunyikan Mo Jingtian ke belakang pintu. Awalnya dia memang ingin pergi keluar, tapi tidak menyangka ternyata setelah pintu dibuka guru-gurunya sudah berdiri di depan kamar.
“Xinyu! Siapa yang kamu sembunyikan, heh? Apa kamu ... jangan bilang kamu sejak tadi bersama dengan pria itu di sini?” Han Qiong menatap penuh selidik. “Seorang gadis berada di dalam kamar dengan pria dewasa! Gadis, apa kamu tidak takut?!”
Qing Yue'er tersenyum. “Memangnya siapa yang aku sembunyikan? Guru, jangan berbicara sembarangan. Itu tidak baik.”
Han Qiong akhinya memeriksa kebenarannya. Dia memeriksa ke belakang pintu, tapi ternyata tidak ada apa pun di sana. Apakah dia mungkin sudah salah melihat?
“Kalau begitu di mana temanmu itu?” tanya Han Qiong.
“Tentu saja dia berada di kamar yang lain. Guru, jangan khawatir.” Qing Yue'er berusaha untuk meyakinkan gurunya. Kadang-kadang orang tua memang tidak bisa mengerti dengan anak muda. Dia sudah sering bersama dengan Mo Jingtian dan pria itu sama sekali tidak berbuat hal-hal di luar batasnya. Jadi biarkan dia berbohong sedikit pada gurunya.
“Itu bagus kalau begitu,” ucap Han Qiong. “Leluhurmu ada di sini. Berbicaralah dengannya.”
Qing Yue'er mengangguk. “Leluhur Yin, masuklah.”
Yin Hu tersenyum pada semua orang. “Terima kasih untuk bantuan guru-guru sekalian. Jika tidak bertemu, mungkin aku akan kesulitan mencari Xinyu.”
“Bukan apa-apa. Kamu senang melakukannya. Kalau begitu kami akan pergi dulu," ucap Niu Longhao.
Yin Hu mengangguk dan mempersilakan semua orang. Setelah semua pergi barulah dia masuk ke dalam bersama dengan Qing Yue'er.
“Apa Leluhur baik-baik saja? Tidak ada masalah di kuil Nushen?" tanya Qing Yue'er.
“Tidak ada masalah. Bahkan, aku mendapatkan beberapa harta lagi.” Wajah Yin Hu menjadi sumringah. Kemudian dia menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hartanya sampai keluar dari kuil.
Qing Yue'er mendengarkannya dengan senang. Dia sendiri hanya mendapatkan satu yang menurutnya paling bagus, yaitu trisula milik Di Liying. Sisanya dia tidak begitu antusias.
“Nah, aku mungkin tidak akan tinggal lebih lama lagi,” ucap Yin Hu.
“Apa ada sesuatu yang menahan Leluhur?”
“Tidak ada. Semuanya baik-baik saja, tapi akademi Xinfeng sebentar lagi akan mengadakan upacara penghormatan untuk leluhur yang sudah tiada. Jadi aku tidak bisa meninggalkan akademi terlalu lama.”
Qing Yue'er mengangguk mengerti. “Aku mungkin tidak bisa mengikutinya.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula ini merupakan acara rutin tahunan. Suatu saat nanti mungkin kamu akan bisa hadir,” ucap Yin Hu. Kemudian dia memegang tangan Qing Yue'er dengan lembut. “Aku ingin berterima kasih padamu. Akademi sekarang terasa jauh lebih nyaman.”
“Aku tidak banyak melakukan sesuatu bukan?”
“Kamu pasti lupa, tapi yang jelas sejak Wang Tianji dan Long Ye kembali bersama, akademi mulai mengalami kemajuan,” terang Yin Hu.
“Itu berita yang bagus.” Qing Yue'er tersenyum. “Tolong sampaikan salamku untuk mereka semua. Katakan pada Zu Tua kalau aku baik-baik saja.”
“Tentu. Aku juga akan menyombongkan diri karena sudah bertemu denganmu di sini.” Yin Hu terkekeh. Setelah itu akhirnya dia berpamitan. “Tidak ada pertemuan yang berlangsung selamanya. Jadi, seperti aku yang akan pergi sekarang.”
“Aku juga tidak akan menahan Leluhur. Mohon berhati-hatilah,” ucap Qing Yue'er. “Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Yin Hu tersenyum lembut. Dia berjalan keluar penginapan ditemani oleh Qing Yue'er. Setelah tiba di luar penginapan, Yin Hu berkata, “Aku akan pergi sekarang. Kamu harus bisa menjaga diri dengan baik. Sampaikan permintaan maafku pada gurumu karena tidak berpamitan pada mereka.”
“Baik.” Qing Yue'er mengangguk. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia melihat leluhurnya yang mulai melesat ke udara. Wanita berambut putih itu akhirnya memulai perjalanan kembali.