Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Menang Lalu Menghilang


Han Qiong menatap Qing Yue'er dengan wajah puas. Gadis seperti itu adalah tipe-tipe orang yang dia sukai, terutama karena tidak menyepelekan penampilan lusuhnya. Lihat saja, orang lain sudah lama mengejeknya tapi gadis itu tidak seperti itu.


Ada dua kemungkinan. Pertama, gadis itu tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Kedua, dia memang menghormati orang lain. Entah apa pun itu tapi yang jelas dua hal itu adalah sesuatu yang bagus.


Han Qiong mulai membuka bungkusan kantong teh dan meminta pelayan kedai untuk menyeduh teh-teh tersebut di bawah pengawasannya. Setelah itu dia mulai menyajikannya kepada Qing Yue'er.


"Ada beberapa teh langka di sini. Kamu harus menebak namanya dengan benar," ucap Han Qiong.


Qing Yue'er mengangguk dan mulai mencicipi teh pertama. Setelah merasakannya sejenak dia langsung beralih ke teh yang lain. Dia melakukannya dengan cepat, namun dia menyisakan satu teh terakhir.


Han Qiong tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunggu dengan sabar.


Otak Qing Yue'er tidak tinggal diam. Dia sebenarnya tidak mengerti apa jenis-jenis teh ini. Omong kosong jika dia mengetahuinya. Dia bukan manusia yang berasal dari dunia ini, dia tidak mengetahui semua detail teh-teh ini.


Namun sikap percaya dirinya memang sudah terlalu berlebihan. Dia mengandalkan Ying Jun dalam hal ini. Jika orang lain tahu mungkin mereka akan memuntahkan darah karena marah.


Qing Yue'er bersikap seperti seorang ahli. Dia membelai dagunya dan mengamati beberapa teh yang sudah diminum. Dia terlihat seperti sedang berpikir keras mempertimbangkan sesuatu. Aktingnya memang perlu diacungi jempol.


Han Qiong menatap Qing Yue'er dengan penuh harap. Dia ingin tahu apakah gadis itu bisa diandalkan atau tidak.


"Apa kau tahu jawabannya?" bisik Jing Ling di telinga Qing Yue'er. Dia merasa sedikit was-was kalau-kalau gadis di sebelahnya itu tidak tahu.


"Jangan meremehkanku." Qing Yue'er berkata dengan santai. Dia mengambil satu cangkir teh dan mengendus perlahan.


"Teh Salju minggu ke-5," ucap Qing Yue'er sebelum beralih ke teh lain.


"Teh Utara Lembah Dingin." Dia mengatakannya dengan percaya diri. Tentu saja itu karena Ying Jun yang memberi tahu padanya.


Han Qiong mengangguk-angguk sambil membelai dagunya dengan puas. Dia masih terus mengawasi Qing Yue'er dengan antisipasi.


"Teh Lotus Salju," ucap Qing Yue'er.


"Teh Haitang Putih."


Kemudian Qing Yue'er menunjuk pada satu teh yang belum dia sentuh sama sekali. Sejak tadi dia memang sengaja menyimpan teh yang satu itu.


"Kenapa kau tidak meminumnya?" tanya Han Qiong dengan penasaran.


Orang-orang yang menyaksikan adegan ini hanya menatap Qing Yue'er dengan wajah mengejek. Pasti gadis itu tidak tahu apa jenis teh itu sehingga dia tidak menyentuhnya.


"Gadis, kenapa kamu tidak menyerah saja?"


"Benar. Hadiahnya bahkan masih menjadi pertanyaan, kenapa dia mau mempertaruhkan racun di tubuhnya?"


"Aih, anak muda zaman sekarang hanya tahu bagaimana bermain-main tanpa tahu apa risikonya."


Seperti itulah beberapa pemikiran yang terlintas di benak mereka. Bagi orang-orang ini, Qing Yue'er hanya bermain-main untuk menyenangkan orang tua semacam Han Qiong tanpa peduli dengan dirinya sendiri.


Qing Yue'er tidak memperhatikan pendapat orang-orang di sekelilingnya. Dia tersenyum dengan penuh kemenangan pada Han Qiong.


"Teh Popi Merah memiliki efek buruk untuk tubuh," ucapnya.


"Bagus bagus!"


Han Qiong bertepuk tangan dengan puas. Dia tidak menyangka kalau gadis berpakaian putih itu memiliki pengetahuan yang luar biasa. Di tempat kecil seperti ini, siapa yang akan mengetahui tentang teh-teh langka yang dia bawa?


Lalu lihatlah gadis itu, dia bahkan tidak mengeluarkan reaksi yang berlebihan. Dia masih terlihat acuh tak acuh. Sikapnya benar-benar terlihat tidak membanggakan diri, atau membual terlalu banyak.


Qing Yue'er memang tidak memiliki banyak reaksi. Bukan karena dia tidak membanggakan diri, tapi karena dia mengetahui semua ini berkat bantuan Ying Jun. Jadi dia merasa ini bukanlah hal yang hebat.


Jika Han Qiong mengetahui kebenaran ini maka pria tua itu pasti akan menyemburkan darah merah dan mengambil kembali semua penilaiannya.


Taotie yang berada di ruang dimensi hanya membelai dagunya dengan pelan. Diam-diam dia berpikir secara mendalam. Si kecil Ying Jun memiliki sikap sombong dan tidak tahu malu, lalu apakah sikap seperti itu bisa menular? Kenapa Qing Yue'er sering menjadi tidak tahu malu juga?


"...."


Tentu saja Qing Yue'er tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Taotie. Sekarang dia sibuk menunggu bagaimana keputusan Han Qiong. Dia juga penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan jika dia berhasil.


"Kamu benar-benar memiliki pengetahuan yang luas. Semua jawabanmu benar."


Wosshh!


Setelah Han Qiong berbicara, sosoknya langsung menghilang dengan kecepatan kilat. Bukan hanya dia saja, tapi Qing Yue'er juga menghilang dari tempatnya duduk.


Jing Ling tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia tidak merasakan jejak apa pun dan ke mana mereka pergi. Semuanya terjadi hanya dalam sepersekian detik, bahkan mereka yang memiliki kekuatan hebat mungkin tidak bisa menghentikannya.


"Ke mana mereka pergi?"


Seperti itulah berbagai pemikiran orang-orang yang sebelumnya menyaksikan tantangan teh. Sekarang kedua orang itu menghilang, tentu saja mereka merasa penasaran.


Tidak seperti mereka, Jing Ling malah merasa khawatir. Dia takut sesuatu akan terjadi pada Qing Yue'er. Bahkan mereka baru sampai di kota ini dan belum melakukan sesuatu yang penting, bagaimana jika Qing Yue'er mengalami bahaya?


Benar-benar tidak bisa dibiarkan. Dia harus mencarinya.


***


Sementara itu di kediaman klan Jiang.


Seorang pria paruh baya sedang berdiri di seberang gadis cantik yang berbaring lemah di tempat tidur. Gadis itu tak lain adalah Jiang Yini, putri dari kepala klan Jiang Shu yang telah mati.


Jiang Luo memandang Jiang Yini dengan wajah mengejek. "Keponakan, bukankah kamu begitu baik? Aku akan membuka gerbang menuju harta karun keluarga Jiang. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih untuk kemurahan hatinya."


Jiang Yini hanya bisa menatap pamannya itu dengan penuh kebencian. Harta karun keluarga Jiang hanya boleh dibuka oleh kepala klan dan itu tidak boleh sembarangan. Sedangkan sekarang sejak kematian ayahnya, keluarga mereka hanya bisa disebut sebagai perebutan kekuasaan.


Namun melihat bagaimana Jiang Luo sudah mantap akan membuka harta itu maka mereka pasti sudah memiliki beberapa kesepakatan. Sayangnya dia sendiri sama sekali tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan masalah ini.


"Keponakan yang baik, kami sudah memutuskan untuk memindahkanmu ke kediaman lain. Nikmatilah masa istirahatmu," ucap Jiang Luo. Dia tersenyum penuh kemenangan.


Jiang Yini melotot. Dulu saat ayahnya masih hidup, Jiang Luo selalu baik padanya dan ayahnya. Ternyata selama ini pamannya itu hanya memasang wajah palsunya.


Sekarang Jiang Luo akan memindahkannya ke tempat lain, pasti itu bukan tempat yang baik sama sekali. Dia benar-benar akan dibuang oleh pamannya sendiri.


Tiba-tiba dia ingin tertawa. Sayangnya dia bahkan tidak bisa tertawa dan sebagai gantinya dia malah mengeluarkan air mata.


Sekarang dia mengerti. Harta dan kekuasaan mungkin merupakan sesuatu yang baik. Namun hal itu bisa membuat seseorang buta dan melukai orang-orang terdekat mereka.


Diam-diam perasaan sesak berupa penyesalan menyelusup ke dalam hatinya. Jika dulu dia tidak bersikap sombong dan semena-mena mungkin tidak ada hal seperti ini yang terjadi. Pasti ayahnya masih hidup dan mereka masih akan tetap memiliki keluarga yang utuh.


Sayangnya semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi seseorang yang bisa menolongnya. Mungkin dia hanya bisa mengikuti takdir yang akan menentukan jalan hidupnya.