Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Pesan Mo Jingtian


Kabar kepulihan Qing Yue’er dan tindakan yang dilakukannya setelah siuman langsung menyebar di seluruh istana Tianjun.


Para pelayan dan anggota istana yang lain seperti mendapat bahan gosip yang sangat berharga. Mereka tidak berhenti membicarakan itu sepanjang hari.


Beberapa orang hanya menganggap Qing Yue’er sebagai gadis muda yang konyol, tapi beberapa yang lain menganggap itu terlalu memalukan. Mereka tidak berharap putri Xie Yingfei yang telah menyelamatkan klan Xie dari klan Liu akan memiliki sikap seperti itu.


“Apakah kepalanya terantuk batu saat terluka? Bagaimana dia bisa seperti ini?” Seorang pelayan berbicara sambil menyiram bunga di halaman.


“Siapa yang tahu? Bahkan jika Tuan Mo memiliki penampilan yang bagus, Nona Qing adalah seorang wanita! Bagaimana dia bisa berlarian di menara untuk mengejarnya?” sahut pelayan yang lain.


“Bukan hanya mengejarnya dari lantai atas hingga lantai bawah, dia bahkan mencoba menggoda Tuan Mo dengan menciumnya!” Seorang pelayan yang lain ikut mendekat.


“Sungguh?!”


“Itu benar. Dia juga mengatakan sesuatu seperti mengajak Tuan Mo ke tempat tidur. Surga, dia benar-benar ….”


“Bukankah dia hanya seperti wanita j*lang yang tidak tahu malu? Jika berita ini menyebar sampai ke istana lain, mereka akan memandang rendah istana Tianjun.”


“Kau benar. Aku tidak menyangka Nona Qing akan melakukan ini. Tuan Xie pasti akan menanggung malu untuknya.”


Bisikan-bisikan seperti itu terdengar hampir di setiap sudut istana Tianjun. Xie Song yang sedang berjalan-jalan dengan Xie Wuqing tentu saja mendengarnya. Pria tua itu langsung memelotot.


“Apakah itu benar? Wuqing, apakah gadis itu benar-benar melakukan itu?!”


Xie Wuqing menghela napas panjang. Dia menggosok hidungnya. “Aku memang sudah mendengar ini sejak tadi. Banyak yang membicarakannya. Sepertinya itu benar.”


“Ini ….” Xie Song cukup tercengang. Pria tua itu langsung menutup wajahnya dengan malu. “Apakah dia sungguh harus melakukan itu?”


Xie Song tiba-tiba merasa ingin menangis. Jika Qing Yue’er memang menyukai Mo Jingtian dan ingin menikahinya, dia hanya perlu datang padanya dan mengatakannya.


Sebagai kakek yang baik, keinginan seperti apa yang tidak akan dia kabulkan?


“Ini tidak benar! Aku harus menemuinya!”


“Ayah, itu tidak perlu lagi. Lihat, gadis itu sudah datang,” kata Xie Wuqing sambil menatap gadis yang berjalan ceria ke arah mereka.


Tidak ada kesedihan apa pun yang terlihat di wajah gadis itu meskipun dia sudah ditolak oleh Mo Jingtian. Seolah apa yang terjadi hanya masalah sepele.


“Hmm, dia bahkan tidak merasa malu sama sekali. Aku benar-benar harus menghukumnya!” Ekspresi Xie Song menjadi lebih galak.


“Ayah, jangan memarahinya. Bukankah dia hanya gadis muda yang polos?” Xie Wuqing tersenyum. Dibandingkan dengan orang lain, dia lebih tahu tentang karakter Qing Yue’er. Gadis itu tidak mungkin seceroboh ini.


Xie Wuqing tidak menganggap apa yang Qing Yue’er lakukan hanya lelucon untuk mempermalukan diri sendiri. Pasti ada alasan lain. Namun, apa alasannya?


“Kakek, Paman.” Qing Yue’er menyapa kedua pria itu. Dia bisa merasakan atmosfer yang berbeda dari kakeknya, tapi itu tidak membuatnya takut. Dia justru tersenyum manis.


Xie Song yang melihat itu menjadi tidak tahan. “Aiyyaa! Lihat dirimu! Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?!” serunya sambil menunjuk gadis itu dengan jengkel.


Qing Yue’er tersenyum lebar. “Kakek, apa maksudmu adalah aku yang mengejar Mo Jingtian si menara?”


“Apa lagi jika bukan itu?!”


Gadis itu terkekeh. “Aku tahu, tapi ini memang harus dilakukan. Percayalah, tidak ada cara yang lebih bagus untuk membujuk Mo Jingtian menikahiku.”


“Ah? Apa kau benar-benar ingin menikah?” Xie Wuqing bertanya dengan penasaran.


Selama ini Qing Yue’er tidak pernah membahas masalah pernikahan atau menunjukkan minatnya. Namun, dia baru pulang dari Benua Tongxuan dan langsung mengejar Mo Jingtian untuk menikah.


Apakah sesuatu telah terjadi di sana? Xie Wuqing menjadi curiga.


“Paman, kau tahu aku sudah lama bersama Mo Jingtian. Jika aku terlalu lama bersama dengannya tanpa memiliki ikatan khusus, bukankah orang akan berpikir sesuatu yang tidak baik?”


Xie Song yang mendengar itu diam-diam mengangguk setuju. Itu juga masuk akal. Lagi pula gadis seumuran Qing Yue’er kebanyakan sudah menikah.


Namun, setelah berpikir lagi, dia masih tidak menerima tindakan gadis itu. Dia memukulnya dengan keras sambil berteriak, “Meskipun begitu kau seharusnya mengatakan itu padaku! Biarkan kakek ini berbicara dengan pria itu!”


“Aiyya!” Qing Yue’er mengeluh dan bersembunyi di belakang pamannya. “Lihat, Paman, pria tua itu ingin memukulku!”


“Kau menyebut kakekmu pria tua?!” Xie Song menjadi semakin kesal. Dia ingin memukul gadis itu lagi, tapi Qing Yue’er menghindar dan menggunakan Xie Wuqing sebagai tameng.


Xie Wuqing tertawa kecil. “Ayah, sudahlah. Mungkin lebih baik Ayah menemui Tuan Mo dan berbicara padanya. Mungkin dia akan mendengarkanmu.”


Xie Song mendengkus. “Kau benar. Lebih baik aku menemuinya,” ucapnya yang kemudian merapikan pakaiannya.


Pria tua itu memasang wajah garang pada Qing Yue’er sebelum akhirnya berjalan pergi.


Qing Yue’er tertawa dan berhenti bersembunyi di belakang pamannya. Dia mengibaskan rambutnya lalu mendengar pamannya bertanya, “Yue’er, apa rencanamu sebenarnya?”


“Rencana?” Qing Yue’er menggeleng santai. “Tidak ada. Aku memang ingin menikah.”


“Lalu kenapa Tuan Mo tidak mengabulkan keinginanmu?”


Pertanyaan itu membuat Qing Yue’er terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Xie Wuqing mengerutkan kening. Kecurigaannya menjadi semakin kuat.


“Aku mengetahui interaksi kalian sejak kita tinggal di keluarga Bai. Jika Tuan Mo tidak menyukaimu, pasti dia sudah pergi sejak lama. Namun, bukan hanya dia tidak pergi, dia bahkan mengikutimu dan selalu menjagamu dengan baik.


“Yue’er, aku tidak mengerti kenapa dia menolak keinginanmu. Dan aku semakin tidak mengerti kenapa kau mendesaknya dengan cara seperti ini. Apakah ada sesuatu yang khusus mengenai pernikahan kalian?”


Qing Yue’er sedikit terkejut dengan pemikiran pamannya yang begitu teliti dan mendalam. Dia mengerutkan keningnya dalam diam. Haruskah dia menceritakan masalahnya?


Tidak. Dia menggeleng pelan.


“Paman, kau berpikir berlebihan. Mo Jingtian tidak ingin menikah sekarang karena dia ingin mengalahkan musuhnya terlebih dahulu. Tapi kekuatannya disegel dan hanya dengan menikah kekuatannya akan kembali.”


Qing Yue’er berdecak. “Paman, kau tidak akan bisa mengerti pikiran seorang dewa kecuali kau menjadi dewa.”


Napas panjang terhela dari mulut Xie Wuqing. “Baiklah. Kuharap kakekmu bisa membujuk Tuan Mo,” ucapnya pada akhirnya.


Sementara itu, Xie Song benar-benar pergi menghadap Mo Jingtian. Pria tua itu duduk di seberang Mo Jingtian yang sedang membaca sebuah catatan kuno.


Dia terbatuk. “Tuan Dewa ….”


Mo Jingtian hanya menatapnya sekilas lalu kembali membaca catatan di tangannya. Xie Song akhirnya mengutarakan maksudnya.


“Aku sudah mendengar apa yang cucuku lakukan di menara,” katanya.


“Mm. Lalu?”


Xie Song menunduk malu. “Yue’er masih muda dan tidak berpengalaman dalam urusan ini. Mohon jangan diambil hati.”


“Bagaimana jika dia melakukannya dengan sengaja?” Mo Jingtian bertanya tanpa menatap pria tua itu.


“Itu ….” Xie Song tersenyum canggung. “Bagaimanapun juga, aku datang untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya. Selain itu—”


“Tuan Xie.” Mo Jingtian meletakkan catatannya ke atas meja. Dia akhirnya menatap pria tua di depannya dengan serius.


“Jika kau ingin membujukku untuk menuruti keinginannya, maka aku harus minta maaf karena aku tidak bisa.”


“Tapi kenapa?” Xie Song terkejut dan bingung. Apakah pria ini tidak benar-benar mencintai Qing Yue’er? Mungkinkah dia tidak pernah memiliki maksud serius dengan cucunya?


Mo Jingtian menunduk dengan ekspresi yang tak terbaca. “Masalahnya tidak sesederhana itu. Aku tidak pernah memiliki keinginan bermain-main dengan Qing Yue’er, tapi … waktunya memang belum tepat.”


“Jadi, kau benar-benar ….”


“Ya.” Mo Jingtian menatap Xie Song dengan sungguh-sungguh. “Aku menyukainya dan pasti akan menikahinya, tapi itu tidak sekarang. Aku masih membutuhkan waktu.”


Xie Song menghela napas lega setelah mendengar itu. Mo Jingtian benar-benar serius dengan hubungannya dan tidak sedang mempermainkan Qing Yue’er.


Mungkin gadis itu yang terlalu terburu-buru. Dan itu pasti membuat Mo Jingtian merasa tidak nyaman. Dia tidak akan menyalahkan pria itu.


“Kalau begitu, aku mungkin harus menasihatinya untuk tidak mendesakmu.”


Mo Jingtian menggeleng pelan. “Itu tidak akan berhasil. Yue’er dan aku sama keras kepalanya. Biarkan dia melakukan sesuai keinginannya. Setelah merasa lelah, dia pasti akan berhenti.”


Xie Song merasa ingin menangis. Masalahnya dia takut Qing Yue’er akan menjadi semakin tidak tahu malu. Bagaimana jika gadis itu melakukan sesuatu yang salah?


“Tuan Xie, apa kau masih memiliki urusan yang lain?”


Akhirnya Xie Song menggeleng. Dia segera berpamitan dan pergi dari sana.


Mo Jingtian menghela napas panjang. Pikirannya dipenuhi dengan kebimbangan dan rasa bersalah.


Apakah tindakan dan penolakannya sudah membuat Qing Yue’er sedih? Apakah itu melukai harga dirinya sebagai wanita?


Pada saat itu tiba-tiba desauan angin terdengar. Seberkas cahaya putih masuk melalui jendela. Itu berubah menjadi sosok Di Feng Xi yang langsung memberi hormat pada Mo Jingtian.


“Guru, akhirnya aku bisa melihatmu,” ucap pria itu sambil menunduk.


Kedatangan dewa muda itu sedikit mengejutkan Mo Jingtian. “Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?”


“Di Moxie memberi tahuku. Dia memintaku untuk membantumu,” jawab Di Feng Xi dengan lugas.


Mo Jingtian terdiam sejenak. Dengan adanya Di Feng Xi, dia akan memiliki kekuatan tambahan. Ini akan lebih efektif untuk mengatasi segalanya. Akhirnya dia pun mengangguk.


“Belakangan ini aku mendengar istana Guang mengundang banyak sekali kultivator di alam surgawi untuk menghadiri perjamuan ulang tahun kepala klan mereka.


“Bahkan kultivator rendahan yang tidak memiliki nama pun diundang selama mereka sudah menginjak tahap alam surgawi. Perjamuan ini akan menjadi perjamuan besar,” ucapnya dengan panjang.


“Mengenai itu, aku juga sudah mendengarnya,” jawab Di Feng Xi. Keningnya sedikit berkerut. “Ini sungguh tidak seperti kesombongan mereka yang biasanya.”


Sudut bibir Mo Jingtian terangkat. “Feng Xi, apa kau bisa menebak apa yang kupikirkan?”


Di Feng Xi langsung menggeleng. “Aku tidak berani menebaknya.”


Mo Jingtian tersenyum datar. “Aku takut seorang dewa telah meminta mereka melakukan ini untuk tujuan khusus.”


“Tujuan khusus?” Di Feng Xi sedikit bingung. Dia masih muda sehingga tidak memiliki pemikiran sedetail dan sedalam Mo Jingtian.


“Kita akan melihatnya nanti. Aku harap tebakanku tidak benar.” Mo Jingtian berdiri dari kursinya. “Aku memiliki satu hal yang membutuhkan bantuanmu, Di Feng Xi.”


“Guru, silakan katakan.”


Mo Jingtian berjalan menuju jendela yang terbuka. Dia mengamati taman berbunga yang ada di belakang ruangan itu selama beberapa saat.


Setelah itu dia berkata, “Aku ingin bertemu Di Shi.”


“Dewa Perang dari klan Hua?” Di Feng Xi sedikit terkejut. Apakah gurunya ingin mengadukan masalah klan Hua di istana Guang kepada Di Shi? Tapi ini tidak seperti sikap seorang Mo Jingtian yang biasa.


“Ada hal penting lain yang ingin kubicarakan dengannya,” ujar Mo Jingtian dengan tenang. “Kau akan tahu nanti.”


Di Feng Xi akhirnya mengangguk. “Baik. Aku akan mencari waktu yang tepat dan menyelidiki posisinya. Jika ada terlalu banyak orang-orang Baili Linwu yang mengawasinya, itu mungkin akan sulit.”


“Tidak apa-apa.” Mo Jingtian mengerti. “Lakukan dengan hati-hati.”


“Baik.”