
Qing Yue'er menyadari keraguan anak itu. Dia tidak marah dan sebaliknya tersenyum manis hingga matanya membentuk bulan sabit. Mungkin sekarang saatnya dia bertindak dengan cara yang baik dan lembut.
"Apa kamu pernah mendengar jika seorang penjahat pasti mengenakan pakaian hitam?" tanya Qing Yue'er.
"...."
"Aku mengenakan pakaian putih bukan? Itu berarti aku bukan orang jahat," lanjutnya.
"...."
Anak itu menatap Qing Yue'er dengan tatapan bodoh. Meskipun dia hanya berusia tidak lebih dari delapan tahun, tapi dia juga bukan anak yang bodoh. Siapa yang akan percaya tentang pakaian-pakaian yang digunakan oleh penjahat?
Ibunya pernah berpesan padanya bahwa seorang biksu yang mengenakan kasaya pun tidak bisa dipastikan bahwa dia orang yang baik. Atau seorang pendeta taoist yang memakai jubah taoisme pun bisa saja menjadi orang yang jahat. Orang bodoh mana yang akan mengatakan hal seperti itu?
Namun jika dilihat dari gerak-gerik perempuan itu, sepertinya dia memang bukan orang jahat. Atau mungkin karena hanya dia yang mau memedulikan teriakannya sehingga dia berpikir bahwa perempuan itu bukan orang jahat.
"Jadi siapa namamu?" Qing Yue'er bertanya setelah menuntun anak kecil itu menjauh dari kerumunan.
"Ibu memanggilku Xiao Hai."
"Baiklah, Xiao Hai. Kenapa kamu berteriak marah seperti itu?" tanya Qing Yue'er sambil mengamati Xiao Hai dengan saksama.
Setelah beberapa saat akhirnya Xiao Hai mau membuka mulutnya untuk menceritakan masalahnya pada Qing Yue'er.
Beberapa hari yang lalu ibu Xiao Hai masih baik-baik saja. Dia pergi untuk menikmati pertunjukan sitar Mei Yiran di salah satu acara keluarga kaya. Namun sekembalinya dari pertunjukan itu, wajahnya memucat dan tiba-tiba jatuh lemah.
Sebelum benar-benar tidak sadar, dia berkata pada Xiao Hai untuk tidak mendengarkan permainan sitar lagi. Lalu dia benar-benar kehilangan kesadarannya hingga hari ini, yang berarti sudah hampir lima hari.
Keluarga mereka sangat miskin. Ayah Xiao Hai sudah lama meninggal. Untungnya beberapa hari ini ada tetangga yang mau peduli untuk membantu merawat ibunya. Atau mungkin ibunya sekarang sudah meninggal.
Xiao Hai masih kecil untuk mengerti tentang hal-hal yang terjadi di dunia ini. Dia tidak bisa banyak berpikir. Pikirannya hanya mengarah curiga bahwa semuanya pasti ada hubungannya dengan Mei Yiran.
"Apa kalian tidak membawanya ke tabib?" tanya Qing Yue'er.
"Kami tidak memiliki banyak uang," jawab Xiao Hai dengan sedih.
Qing Yue'er bisa mengerti. Lalu dia bertanya, "Bisakah aku melihat keadaan ibumu? Mungkin aku bisa membantu."
Xiao Hai menatap Qing Yue'er dengan hati-hati. Dia memeriksa penampilan perempuan yang ada di depannya. Jubah putih, topi bambu serta wajah yang misterius. Bukankah itu biasa digunakan oleh orang-orang berkekuatan tinggi saat menyamar? Mungkinkah perempuan di depannya itu juga orang yang kuat?
"Apa kamu seorang dewa yang menyamar?!" Bukannya menjawab pertanyaan Qing Yue'er, Xiao Hai malah melemparkan pertanyaan dengan antusias.
"Aku? Dewa?" Qing Yue'er menunjuk dirinya dengan bodoh. Bagaimana dia bisa disebut dewa? Jangankan dewa, bahkan jika penguasa wilayah Tongxuan timur membunuhnya mungkin dia tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Dewa pantatmu!
Qing Yue'er terbatuk. Dia tidak mengakui namun juga tidak menyanggah. Biarkan saja kali ini dia bersenang-senang sebentar dengan membiarkan seorang anak kecil salah memahaminya sebagai dewa. Tidak masalah bukan?
"Emm, kamu bisa memanggilku kakak Xinyu. Lalu bisakah aku melihat ibumu?"
Ya. Kali ini dia akan menyamar sebagai Xinyu. Mungkin di masa depan dia harus menyiapkan banyak nama untuk melakukan penyamaran.
Pertunjukan sitar masih tetap berjalan. Keributan yang dibuat oleh Xiao Hai tidak memengaruhi kelanjutan acara yang bagus itu. Pada dasarnya kebanyakan orang bahkan tidak peduli dengan teriakan Xiao Hai yang hanya seperti angin lalu.
Mei Yiran melirik kepergian Xiao Hai dari ekor matanya. Bibirnya sedikit mengerut tidak senang, tapi dia masih mengakhiri pertunjukannya dengan sangat mengagumkan.
Tepukan tangan bergema di tempat yang luas itu. Mei Yiran turun dari panggung dan langsung disambut oleh Zhao Zirui. Pria muda itu menatap Mei Yiran penuh kekaguman.
"Nona, ada hal-hal yang ingin ayahku bicarakan denganmu," ucap Zhao Zirui.
"Mungkinkah itu penting? Aku tidak menerima obrolan omong kosong," jawab Mei Yiran. Suaranya terdengar halus saat memasuki telinga orang lain.
"Tentu saja ini penting." Zhao Zirui menatap penuh arti pada Mei Yiran.
"Baik."
***
Qing Yue'er mengikuti langkah Xiao Hai hingga berakhir di rumah kecil yang sangat bobrok. Dinding kayunya sudah lapuk dimakan panas dan hujan. Atap jeraminya pun sudah sangat berantakan. Sungguh memprihatinkan.
"Kakak Xinyu, ini rumahku," ucap Xiao Hai. Dia membuka pintu rumah dan mengajak Qing Yue'er masuk.
Setelah beberapa saat Qing Yue'er menemukan wanita yang tertidur di atas ranjang. Usianya mungkin tidak terbilang tua. Wajahnya tidak memiliki tanda-tanda seseorang yang terjamah penyakit atau sesuatu.
Qing Yue'er mengerutkan keningnya. Tidak mungkin seseorang kehilangan kesadaran tanpa sebab. Pasti ada hal-hal yang harus dia periksa lebih jauh dan dia tidak boleh melewatkan hal aneh seperti ini.
"Xiao Hai, tidak ada yang menemani ibumu?" Qing Yue'er bertanya karena tidak ada orang lain yang dia jumpai.
"Tidak ada. Bibi Yu hanya menjaga ibuku di siang hari," jawab Xiao Hai. Tiba-tiba dia bersujud di bawah kaki Qing Yue'er.
"Kakak Xinyu, tolong sembuhkan ibuku!" pintanya sungguh-sungguh.
Qing Yue'er terkejut dengan perlakuan Xiao Hai. Dia buru-buru menarik anak kecil itu untuk berdiri. "Kau tahu? Seseorang tidak perlu bersujud pada orang lain."
"Tapi jika aku tidak seperti ini seseorang tidak akan merasa tersentuh." Xiao Hai dengan polosnya menjawab seperti itu.
"Siapa yang mengatakan seperti itu? Kamu akan menjadi lelaki dewasa, jangan pertaruhkan harga dirimu dengan cara seperti ini. Bersujudlah pada orang tuamu, atau orang-orang yang sangat kamu hormati."
"Tenang saja, aku pasti akan membuat ibumu bangun." Qing Yue'er mengacak rambut Xiao Hai yang menggemaskan.
Mata Xiao Hai langsung berbinar. "Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan bersujud sembarangan lagi. Terima kasih, Kakak Xinyu."
Qing Yue'er tersenyum samar. Kemudian tanpa menunggu lebih lama dia langsung melakukan pemeriksaan pada ibu Xiao Hai.
Denyut jantungnya normal. Napasnya juga normal. Benar-benar seperti orang yang tertidur. Jika seperti ini Qing Yue'er menjadi lebih penasaran. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dia mengulurkan jarinya tepat ke titik tengah di antara kedua alis wanita yang sedang menutup mata itu. Qi spiritual keluar dari jarinya dan memasuki titik acupoint paling kritis. Dia mengendalikan qi spiritualnya untuk menulusuri setiap meridian di tubuh ibu Xiao Hai.
"Apa yang salah?" gumamnya.